Beijing, Bharata Online - Di tengah gangguan pasokan minyak dan gas global akibat konflik berkepanjangan antara AS dan Iran terkait Selat Hormuz, para menteri energi dari forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) bertemu di Beijing pada hari Kamis (10/9) untuk merumuskan langkah ke depan serta menjajaki kemungkinan mengubah krisis ini menjadi peluang.
Gangguan di Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026 telah memicu guncangan pasokan minyak terbesar yang pernah tercatat, dengan kekurangan pasokan harian yang terus berlanjut dalam kisaran jutaan barel. Guncangan pasokan energi ini telah menyingkap kerentanan struktural kawasan Asia-Pasifik, yang merupakan wilayah konsumen energi terbesar di dunia.
Sebagai tuan rumah APEC tahun ini, Tiongkok mengambil pendekatan terbuka dan inklusif dengan menciptakan wadah dialog multilateral. Dalam pertemuan menteri energi kali ini, Tiongkok mendorong pertukaran pengalaman praktis secara menyeluruh antar-ekonomi anggota serta berupaya mewujudkan gagasan bersama menjadi hasil kerja sama yang nyata.
"Sejak awal tahun ini, pelayaran melalui Selat Hormuz telah terganggu. Tiongkok telah mengoptimalkan sistem produksi, pasokan, dan pemasaran energinya, secara aktif memperkuat kerja sama dengan semua pihak terkait, serta memberikan kontribusi penting dalam menjaga ketahanan energi global," ujar Wakil Perdana Menteri Tiongkok, Ding Xuexiang, saat menyampaikan pidato dalam pertemuan tersebut.
Pertemuan Menteri Energi APEC, yang kembali digelar di Beijing setelah jeda 12 tahun, berlangsung pada momen krusial pasca "uji ketahanan" (stress test) saat ini.
"Bagi kami di Papua Nugini, kami merasakan dampak dari konflik di Iran. Ekonomi kami sangat bergantung pada impor, sehingga dampaknya terhadap kami sangat besar," ujar Conrad Kumul, Delegasi dari Papua Nugini, di sela-sela pertemuan.
Namun, banyak pihak memandang bahwa krisis juga dapat menjadi katalisator bagi transisi energi.
"Gagasannya saat ini adalah mendorong transisi energi secara lebih agresif dibandingkan sebelumnya. Saat ini, harga minyak sangat tinggi, sehingga harga energi terbarukan menjadi jauh lebih rendah jika dibandingkan," kata Steivan Defilla, Asisten Presiden APEC Sustainable Energy Center, sebuah lembaga pemikir (think tank) energi internasional tingkat tinggi yang dipimpin oleh Badan Energi Nasional Tiongkok.
Tiongkok akan menyelenggarakan Pertemuan Pemimpin Ekonomi APEC ke-33 di Shenzhen, Provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan, pada bulan November 2026. Ini merupakan kali ketiga Tiongkok menjadi tuan rumah acara tersebut setelah Shanghai pada tahun 2001 dan Beijing pada tahun 2014.