Johannesburg, Bharata Online - Menurut Busani Ngcaweni, Direktur Pusat Kebijakan Publik dan Studi Afrika di Universitas Johannesburg, BRICS telah berhasil berkembang selama dua dekade terakhir dengan membangun agenda bersama yang membantu mengelola perbedaan serta menyediakan platform pembangunan yang vital bagi negara-negara Global South.
KTT BRICS ke-18 dijadwalkan berlangsung di ibu kota India pada tanggal 12-13 September 2026, mempertemukan para pemimpin dari negara anggota dan negara mitra, serta tamu undangan.
Diluncurkan pada tahun 2009 oleh Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok, kelompok ini telah berkembang hingga mencakup 11 anggota penuh dan 10 negara mitra. Afrika Selatan bergabung pada tahun 2010, menjadi anggota pertama dari Afrika dalam blok tersebut.
Dalam sebuah wawancara dengan China Global Television (CGTN), Ngcaweni menyatakan bahwa ketahanan kelompok ini terletak pada agenda bersama yang telah dibangun oleh para anggotanya.
"Penting untuk mengajukan pertanyaan: apa yang membuat BRICS bertahan selama 20 tahun? Mengapa negara-negara ini—terlepas dari perbedaan di dalam masing-masing negara maupun perbedaan yang terkadang muncul di antara mereka—mampu tetap bersatu? Hal itu karena—dan ini merupakan pencapaian luar biasa—BRICS berhasil membangun tujuan bersama," ujarnya.
"Mereka mampu merumuskan agenda yang menjadi acuan untuk mengelola dan menjembatani perbedaan antarnegara anggota BRICS. Mereka berhasil mengelola pertentangan kepentingan di antara negara-negara tersebut dan tetap berpegang pada agenda yang sama, yaitu mencari peluang untuk memajukan pembangunan ekonomi dan pengembangan sumber daya manusia. Ini adalah hal yang sangat luar biasa," kata Ngcaweni.
Saat ditanya mengenai makna pertumbuhan BRICS bagi negara-negara Global South, Ngcaweni menyoroti dampak positif dari pendanaan yang disalurkan melalui New Development Bank, lembaga keuangan milik kelompok tersebut yang berbasis di Shanghai, serta harapan yang dihadirkan oleh fokus pembangunan mereka bagi negara-negara lain.
"Pertama, melalui bank tersebut, peluang sumber pendanaan untuk pembangunan industri dan infrastruktur dapat diperluas. Kedua, mengingat fokus strategis BRICS, yaitu kerja sama di tingkat kemanusiaan dan ekonomi, negara-negara lain menyadari adanya kekuatan besar yang dapat menjadi mitra, dengan prioritas utamanya bukanlah hegemoni ataupun pertahanan, melainkan pembangunan manusia. Hal ini bermanfaat karena memberikan harapan bagi negara-negara yang ingin bergabung dengan bank tersebut maupun negara-negara yang ingin meningkatkan perdagangan dengan anggota BRICS, termasuk Tiongkok dan sebagainya," jelas akademisi tersebut.