Afrika Selatan, Bharata Online - Menurut Ayanda Hollow, Presiden TV BRICS Africa, Afrika tidak lagi berada di luar lingkup tata kelola global, seiring para pemimpin blok BRICS yang telah diperluas bersiap untuk berkumpul di New Delhi, India, akhir pekan ini.
KTT BRICS ke-18 dijadwalkan berlangsung di ibu kota India pada tanggal 12-13 September 2026, mempertemukan para pemimpin dari negara anggota dan mitra serta tamu undangan.
Diluncurkan pada tahun 2009 oleh Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok, kelompok ini telah berkembang hingga memiliki 11 anggota penuh. Afrika Selatan bergabung pada tahun 2011, menjadi negara Afrika pertama dalam blok tersebut.
Dalam wawancara dengan China Global Television Network (CGTN), Hollow mengulas alasan mengapa negaranya tetap terlibat aktif dalam kelompok ini.
"Menurut saya, banyak anak muda Afrika yang bertanya-tanya, mengapa kita bergabung dengan BRICS sejak awal? BRICS sendiri telah berkembang, bermula sebagai sebuah kelompok lalu menyambut Afrika Selatan. Namun pertanyaannya tetap ada: mengapa kita bergabung dengan BRICS?" ujarnya.
Ia mencatat bahwa keanggotaan Afrika Selatan telah mengakhiri isolasi benua Afrika dari lingkaran-lingkaran yang membentuk politik global.
"Ada beberapa hal yang bisa disebutkan. BRICS benar-benar memastikan bahwa Afrika tidak lagi berada di luar blok-blok berpengaruh dunia yang mengatur perdagangan atau berupaya mengatur geopolitik dunia. Formasi BRICS adalah formasi yang sangat krusial dan juga merupakan sahabat yang sangat penting bagi Global South (negara-negara berkembang)," katanya.
Hollow juga menyoroti pembentukan New Development Bank (Bank Pembangunan Baru) sebagai manfaat paling nyata dari blok tersebut bagi Afrika Selatan, mencakup berbagai sektor mulai dari energi hingga pertanian.
"(Salah satu) cara terbaik adalah melalui inovasi New Development Bankāatau yang sering disebut sebagai bank BRICS, yang benar-benar berhasil menyediakan fasilitas bagi Afrika Selatan untuk dimanfaatkan demi memastikan kemajuan pembangunan, baik di sektor energi maupun pertanian. Kita benar-benar dapat meningkatkan kerja sama dan implementasi terkait infrastruktur energi. Afrika masih memiliki infrastruktur energi yang sangat terbatas, baik dalam hal teknologi, seperti nuklir, batu bara, maupun tenaga air. Kita sungguh membutuhkan investasi untuk memastikan Afrika dapat benar-benar berkembang," jelasnya.
Hollow lebih lanjut menegaskan bahwa mengatasi masalah kemiskinan energi di Afrika merupakan kunci untuk membuka potensi besar benua tersebut.
"Di Afrika Selatan, yang mungkin merupakan salah satu negara dengan penerangan paling memadai di Afrika, biaya energi dan listriknya masih terlalu mahal bagi kaum muda untuk benar-benar bereksplorasi dan berinovasi. Jika BRICS, baik sebagai blok maupun formasi, benar-benar mengambil langkah tegas untuk memastikan Afrika terbebas dari kemiskinan energi, hal ini akan menjadi titik balik yang membawa Afrika pada kinerja optimal dan memungkinkannya menempati posisi yang semestinya dalam kancah politik global," ujarnya.