Afrika Selatan, Bharata Online - Kerja sama antarnegara BRICS turut mendorong pembangunan berkelanjutan di Afrika, mulai dari perdagangan menggunakan mata uang lokal hingga infrastruktur dan manufaktur ramah lingkungan, kata Tshilidzi Munyai, seorang anggota parlemen Afrika Selatan, menjelang KTT BRICS ke-18 yang dijadwalkan berlangsung di New Delhi, India, akhir pekan ini.

KTT tersebut akan digelar di ibu kota India pada tanggal 12-13 September 2026, mempertemukan negara-negara anggota dan mitra BRICS, serta para undangan khusus.

Sejak didirikan pada tahun 2006, BRICS telah berkembang hingga mencakup 11 negara anggota dan 10 negara mitra, yang tersebar di berbagai kawasan penting di Asia, Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Asia Tenggara.

Dalam wawancara dengan China Central Television (CCTV), Munyai memaparkan manfaat keanggotaan menurut pandangannya, seraya mencatat bahwa perdagangan menggunakan mata uang lokal kini semakin penting di antara negara-negara anggota.

"Salah satu elemen mendasar dari BRICS adalah perdagangan menggunakan mata uang lokal kita sendiri di antara sesama negara anggota BRICS. Tiongkok merupakan mitra yang bersedia dan mampu bekerja sama dengan benua Afrika, sehingga kita dapat menggunakan mata uang lokal dalam perdagangan, baik untuk penjualan barang maupun jasa," ujarnya.

Munyai juga menyatakan bahwa dukungan Tiongkok bagi Afrika melampaui sekadar perdagangan. Tiongkok turut menyediakan infrastruktur vital yang dibutuhkan benua tersebut untuk berkembang.

"Sekali lagi, Tiongkok adalah satu-satunya negara yang bersedia—bahkan lebih dari sekadar bersedia—untuk mendukung pembangunan infrastruktur Afrika, yang didukung oleh kualitas Prakarsa Sabuk dan Jalan. Hal ini sangat penting. Ini membantu kami membangun pelabuhan serta infrastruktur kereta api," katanya.

Selain pelabuhan dan jalur kereta api, Munyai juga menyoroti teknologi ramah lingkungan dan manufaktur Tiongkok, bidang-bidang yang menurutnya menciptakan lapangan kerja nyata di lapangan.

"Tiongkok telah menjadi pelopor dan salah satu negara terdepan dalam berbagi teknologi hibrida ramah lingkungan serta teknologi hijau miliknya dengan dunia. Sumber energi terbesar di Tiongkok adalah tenaga surya, yang merupakan energi ramah lingkungan. Tiongkok juga membawa kegiatan manufaktur tersebut ke benua Afrika, termasuk ke Afrika Selatan dan negara-negara Afrika lainnya. Tiongkok juga menciptakan lapangan kerja; warga Afrika Selatan kini bekerja di pabrik-pabrik Tiongkok, khususnya di sektor otomotif," ujarnya.

Kelompok BRICS mengalami perluasan besar tahun lalu ketika 10 negara, termasuk Belarus, Bolivia, Kuba, Kazakhstan, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, Uzbekistan, dan Vietnam, bergabung sebagai negara mitra.

KTT BRICS mendatang di New Delhi akan menjadi ajang bagi para pemimpin untuk bertukar pandangan mengenai penguatan kerja sama, dengan mengusung tema "Membangun demi Ketangguhan, Inovasi, Kerja Sama, dan Keberlanjutan".