Tiongkok, Bharata Online - Moraima Ordonez, seorang mahasiswa asal Meksiko yang sedang menempuh studi di Tiongkok, mengungkapkan harapannya agar kerja sama melalui mekanisme BRICS dapat menghasilkan dampak positif bagi kaum muda di seluruh dunia.

Tahun ini menandai peringatan 20 tahun mekanisme kerja sama BRICS. Sejak awal pembentukannya pada tahun 2006, BRICS, yang semula mencakup Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan telah berkembang hingga memiliki 11 anggota dan 10 negara mitra, yang tersebar di berbagai kawasan penting di Asia, Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Asia Tenggara.

KTT BRICS ke-18 akan diselenggarakan di New Delhi, India, pada tanggal 12 hingga 13 September 2026, dengan India memegang presidensi bergilir. Mengusung tema "Membangun Ketahanan, Inovasi, Kerja Sama, dan Keberlanjutan", KTT ini bertujuan untuk memajukan prioritas negara-negara Global South (negara-negara berkembang) di bidang perdagangan, teknologi, dan pembangunan.

Kepada China Global Television Network (CGTN) menjelang KTT BRICS ke-18, Ordonez mengatakan bahwa mekanisme BRICS telah menjadi simbol harapan bagi masa depan yang lebih mengedepankan kerja sama.

"Sejak pembentukannya sebagai alternatif yang dibangun sendiri oleh negara-negara berkembang, BRICS telah tumbuh menjadi kekuatan besar. Sebagai seorang pemuda yang melihat berbagai negara menyepakati bidang-bidang utama demi pembangunan bersama, hal ini memberikan harapan untuk membayangkan masa depan yang didasarkan pada kerja sama dan kepemimpinan nyata, alih-alih pemaksaan kehendak secara sepihak," ujar Ordonez.

"Mengenai dampak BRICS bagi negara saya, meskipun Meksiko bukan anggota BRICS, dampaknya terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari, karena kami memperoleh manfaat dari kapasitas industri yang telah dibangun Tiongkok melalui kerja sama BRICS. Sebagai contoh, bus listrik yang dibeli Mexico City dari Yutong melalui tender internasional terbuka merupakan produk dari kepemimpinan Tiongkok dalam manufaktur ramah lingkungan," ungkapnya.

Ordonez menyebut peran Tiongkok sangatlah penting, seraya menyoroti Pusat Inovasi Kemitraan BRICS untuk Revolusi Industri Baru di Xiamen sebagai kontribusi yang sangat berarti.

Ia juga mengatakan bahwa partisipasi Tiongkok dalam pendirian New Development Bank (Bank Pembangunan Baru) menandai komitmen negara tersebut dalam berkontribusi terhadap pengembangan kerja sama Global South.

Menurutnya, Tiongkok, yang akan menjadi tuan rumah KTT BRICS tahun depan, telah menjadi pemain kunci dalam mendorong kerja sama BRICS serta mengajak lebih banyak negara berkembang untuk turut serta. Ordonez menyatakan keyakinannya bahwa kerja sama BRICS dapat membawa hasil positif bagi kaum muda di berbagai bidang, seperti pendidikan, teknologi, peluang kerja, pertukaran budaya, dan pembangunan berkelanjutan.

"Saya ingin melihat pencapaian BRICS pada tahap pengembangan berikutnya di sejumlah bidang, misalnya dalam pendidikan, dengan menciptakan lebih banyak peluang bagi kaum muda melalui perluasan cakupan pertukaran pelajar dan kursus komunikasi daring yang mendukung pembelajaran lintas batas, sehingga memungkinkan masyarakat dari negara-negara Selatan untuk mengikuti pelatihan pendidikan dengan sistem pengakuan kredit yang lebih efisien. Di bidang teknologi, melalui pembukaan pusat-pusat teknologi untuk inovasi kaum muda, seperti pelatihan kecerdasan buatan (AI) dan energi hijau," ujarnya.

"Terkait peluang kerja yang dapat menjadi jalan baru bagi kaum muda, saya membayangkan adanya platform kerja 'BRICS Plus' yang menyediakan pekerjaan jarak jauh dan program magang lintas batas. Dalam hal pertukaran budaya, melalui pertukaran musik, sinema, dan bahasa dua arah, serta penciptaan karya seni, sarana, dan dialog pemuda akar rumput yang mampu menjembatani berbagai peradaban; hal ini memungkinkan kita untuk saling mengenal budaya dan masyarakat satu sama lain, sehingga identitas kita niscaya akan diakui di tengah kekayaan keragaman yang kita miliki. Terakhir, dalam pembangunan berkelanjutan, melalui proyek-proyek berskala besar yang memungkinkan upaya bersama menuju transisi rendah karbon serta akses yang lebih luas terhadap transisi hijau di negara-negara kita," jelas Ordonez.