New York, Bharata Online - Pada hari Kamis (10/9), seorang utusan Tiongkok mendesak Amerika Serikat untuk meninggalkan penggunaan atau ancaman penggunaan kekuatan dalam upaya mencapai penyelesaian politik atas masalah nuklir Iran melalui jalur diplomasi.

Konflik yang berulang di Timur Tengah telah menimbulkan kerugian dan dampak buruk yang serius bagi rakyat di negara-negara kawasan tersebut, termasuk Iran, sementara dampak lanjutannya terus meluas dan mengganggu kepentingan bersama masyarakat internasional, kata Sun Lei, Wakil Tetap Tiongkok untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Pihak-pihak terkait harus meninggalkan penggunaan atau ancaman penggunaan kekuatan, melanjutkan kembali pelaksanaan Nota Kesepahaman (MoU) AS-Iran sesegera mungkin, serta mengembalikan masalah nuklir Iran ke jalur penyelesaian politik dan diplomasi, katanya dalam sebuah pengarahan Dewan Keamanan PBB mengenai masalah tersebut.

"Penarikan sepihak Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir komprehensif Iran, penggunaan kekuatan terhadap Iran sebanyak dua kali selama proses negosiasi, serta dorongan kebijakan untuk memberikan tekanan maksimum terhadap Iran merupakan penyebab utama mengapa situasi saat ini di Timur Tengah dan masalah nuklir Iran tetap rumit dan sulit diselesaikan. Pihak-pihak terkait tidak boleh membalikkan urutan prioritas. Amerika Serikat harus membuat komitmen yang jelas untuk tidak menggunakan kekuatan lagi, melakukan negosiasi yang tulus dengan Iran, serta memastikan pelaksanaan yang efektif atas kesepakatan apa pun di masa depan," ujar Sun.

Menurutnya, Tiongkok senantiasa berpihak pada perdamaian, dialog, dan berada di sisi sejarah yang benar. Sebagai pihak dalam kesepakatan nuklir Iran dan anggota tetap Dewan Keamanan, Tiongkok akan terus bekerja sama dengan semua pihak lainnya dan melakukan upaya tak kenal lelah untuk mendorong penyelesaian politik masalah nuklir Iran, menjunjung tinggi rezim non-proliferasi nuklir internasional, serta memajukan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.