Beijing, Bharata Online - Musim film pada musim panas tahun 2026 di Tiongkok telah mencatatkan total penjualan tiket—termasuk pra-penjualan—sebesar 8,5 miliar yuan (sekitar 22,44 triliun rupiah), dengan pendapatan box office harian yang terus bertahan di atas 100 juta yuan (sekitar 264 miliar rupiah) selama 30 hari berturut-turut.

Jumlah penonton telah melampaui 233 juta orang dari lebih dari 30,41 juta penayangan selama musim film musim panas yang berlangsung dari 1 Juni hingga 31 Agustus 2026.

Film komedi olahraga "Kung Fu Soccer", film komedi-petualangan animasi "All Wishes Come True", dan film pahlawan super "Spider-Man: Brand New Day" memuncaki daftar film terlaris. Ketiganya secara gabungan menyumbang hampir 60 persen dari total pendapatan musim tersebut.

Para analis menyatakan bahwa daya tarik pasar Tiongkok yang sangat besar serta beragamnya aktivitas konsumsi offline terus menarik modal asing lebih dalam ke dalam rantai pasok perfilmannya. Hal ini menjadikan Tiongkok bukan sekadar kekuatan besar di industri box office, melainkan juga pusat global bagi investasi dan distribusi film.

"Pada tahun 2025, pendapatan box office tahunan Tiongkok melampaui 51,5 miliar yuan (sekitar 136 triliun rupiah). Negara ini memiliki 93.000 layar bioskop dan jumlah penonton tahunan mencapai 1,24 miliar; angka-angka ini menempatkan Tiongkok di posisi puncak secara global. Jika dibandingkan dengan negara lain di dunia saat ini, pasar ini kemungkinan besar merupakan pasar dengan tingkat pertumbuhan tercepat dan peningkatan volume terbesar," ujar Wu Xuchu, Wakil Ketua KPMG Tiongkok.

"Angka pengganda konsumsi untuk film mencapai sekitar 15,77 kali lipat; artinya, satu yuan yang dibelanjakan untuk tiket pada akhirnya akan menghasilkan total aktivitas ekonomi senilai kurang lebih 15,77 yuan (sekitar 42 ribu rupiah). Di balik satu tiket film, terdapat pengeluaran untuk makan, hiburan, suvenir, produk turunan, serta berbagai jenis pengeluaran tambahan lainnya. Bagi studio film internasional, hal ini berarti terciptanya siklus komersial yang utuh di sepanjang tahapan pengembangan kekayaan intelektual (IP)," kata Wu.