Los Angeles, Bharata Online - Drama mikro asal Tiongkok kini mulai mengakar di Amerika Serikat. Ritme penceritaan yang khas, format pengambilan gambar vertikal, dan model pembayaran per episode kini diadopsi oleh kreator lokal maupun studio-studio besar.
Di lokasi syuting di Los Angeles, kamera dipasang secara vertikal. Tidak ada pembangunan cerita yang lambat atau adegan yang berlarut-larut. Yang ada hanyalah rangkaian momen yang memancing rasa penasaran (cliffhanger) dan kejutan alur cerita (plot twist) yang dipadatkan dalam setiap episode berdurasi satu hingga dua menit. Inilah ritme penceritaan drama pendek Tiongkok, dan format ini mulai memberikan pengaruh nyata di Amerika Serikat.
"Dalam drama Tiongkok, fokus utamanya adalah pada poin-poin penting alur cerita. Menurut saya, hal itu justru terasa cukup membebaskan saat kita merangkul perubahan emosi dan alur cerita yang sangat dinamis serta elemen-elemen semacam itu," ujar Tristan McKenzie, seorang sutradara dan penulis naskah asal Amerika.
Lebih dari sekadar mengekspor konten, industri drama mikro Tiongkok membawa seluruh model produksi dan logika komersialnya ke Amerika Serikat, mulai dari gaya penuturan cerita khas Tiongkok hingga pengambilan gambar vertikal, serta dari model pembayaran per episode hingga proses pengembangan cepat yang didorong oleh data waktu nyata (real-time).
Yang Bohan, pimpinan sebuah perusahaan produksi drama pendek, mengatakan bahwa proses lokalisasi telah berkembang jauh melampaui sekadar penerjemahan bahasa.
"Awalnya, saat drama pendek Tiongkok merambah pasar global, dibutuhkan praktisi lokal Amerika untuk menghadirkan cerita lokal karena merekalah yang memahami keinginan penonton. Seiring berjalannya waktu, para profesional film dan TV di AS mulai lebih memahami format ini. Bagi mereka, ini bukan lagi sekadar cerita asing, melainkan sebuah model produksi dan alur kerja yang baru," kata Yang.
Hal lain yang turut hadir di Amerika Serikat adalah model monetisasi yang bersifat disruptif. Berbeda dengan serial TV tradisional Amerika yang mengandalkan langganan kabel atau kesepakatan streaming untuk satu musim penuh, drama mikro menawarkan beberapa episode awal secara gratis dan mengenakan biaya per episode untuk membuka akses ke episode selanjutnya. Siklus produksi yang lebih singkat, dipadukan dengan umpan balik data secara real-time, memungkinkan para kreator untuk melakukan penyesuaian dengan cepat.
"(Model produksi drama pendek) ini seolah menemukan titik tengah antara anggaran rendah dan anggaran tinggi, serta menciptakan ruang yang tepat untuk menyeimbangkan berbagai aspek tersebut. Menurut saya, ini adalah jembatan yang sangat baik bagi mereka yang ingin menggarap proyek berskala lebih besar. Dengan anggaran terbatas seperti ini, Anda bisa belajar banyak hal dengan sangat cepat mengenai apa yang sebenarnya Anda inginkan dan butuhkan," ujar McKenzie.
Data riset pasar menunjukkan bahwa jumlah pengguna aktif bulanan konten drama berdurasi pendek di Amerika Serikat melonjak dari 26 juta pada tahun 2024 menjadi 66 juta pada tahun 2025. Sektor ini diperkirakan akan menghasilkan pendapatan sekitar 1,5 miliar dolar AS (sekitar 26,32 triliun rupiah) pada tahun 2026, dengan angka tersebut diproyeksikan mendekati 2 miliar dolar AS (sekitar 35,1 triliun rupiah) pada tahun berikutnya.
Studio-studio Hollywood tradisional pun mulai melirik tren ini. Fox Entertainment telah menjalin kemitraan dengan sebuah perusahaan drama pendek untuk merencanakan lebih dari 200 proyek konten layar vertikal. Alur kerja produksi yang terindustrialisasi dan model bisnis yang telah disempurnakan di Tiongkok kini mulai berkembang di luar negeri. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan efisiensi dan pengendalian biaya, kecerdasan buatan (AI) semakin banyak dilibatkan dalam proses tersebut, sehingga mendorong gelombang ekspansi ini lebih jauh ke dalam ranah kreatif.