Beijing, Bharata Online - Musim box office pada musim panas di Tiongkok yang berlangsung selama tiga bulan—salah satu periode paling menguntungkan bagi industri film negara tersebut yang terus berkembang—resmi berakhir pada hari Senin (31/8) setelah mencatatkan rekor jumlah penonton, dengan film-film suksesnya juga menginspirasi pariwisata bertema film di seluruh Tiongkok.
Data dari pelacak box office Dengta menunjukkan bahwa pendapatan box office musim panas tahun 2026 telah melampaui capaian musim panas lalu, menembus angka 12,44 miliar yuan (sekitar 32,77 triliun rupiah) per Senin (31/8) pagi, yang menandai pertumbuhan selama dua tahun berturut-turut.
Periode box office pada musim panas, yang secara resmi berlangsung dari 1 Juni hingga 31 Agustus 2026, telah menghadirkan serangkaian film blockbuster dari berbagai genre yang menarik minat penonton, sementara pihak berwenang juga meluncurkan kampanye untuk mendorong konsumsi di seluruh Tiongkok.
Salah satu film yang paling sukses adalah "Once Upon a Time in the Middle East", sebuah drama realistis yang memadukan tema anti-perang dengan kisah kuliner yang hangat dan bernuansa lintas budaya.
Di tengah antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap film itu, proses produksinya secara tidak langsung mengubah lokasi syuting domestik menjadi destinasi wisata populer. Sebagian besar adegan yang menggambarkan kota di Timur Tengah yang dilanda perang dalam film tersebut diambil di hamparan luas Gurun Gobi.
Salah satu lokasi yang menonjol adalah Shitanjing Film Town di Kota Shizuishan, Daerah Otonom Ningxia Hui di Tiongkok Barat Laut, yang menyediakan latar belakang gurun luas dan medan pertempuran bagi film tersebut. Pos pemeriksaan militer dengan penjagaan ketat yang terlihat dalam film itu sebenarnya adalah bangunan gerbang batu ikonik Shitanjing, yang kini menjadi salah satu titik foto paling populer di kawasan tersebut dan menarik banyak penggemar yang datang khusus setelah menonton filmnya.
Sejak film tersebut dirilis pada 11 Agustus 2026, jumlah rata-rata pengunjung harian ke Shitanjing telah melonjak berkali-kali lipat hingga mencapai sekitar 2.000 orang.
Dulunya merupakan pusat industri batu bara utama, Shitanjing melestarikan sisa-sisa arsitektur dan situs industri di area seluas 10 kilometer persegi. Dipadukan dengan lanskap Gurun Gobi yang khas dan bentang alam yang gersang, kawasan ini telah menjadi lokasi syuting favorit bagi industri perfilman, serta menjadi latar belakang bagi lebih dari 60 produksi film dan televisi.
Memanfaatkan peluang tersebut, kota ini telah mengembangkan serangkaian rute wisata bertema film yang populer, mengubah daya tarik layar kaca menjadi kunjungan nyata, serta menjadikan Shitanjing sebagai tolok ukur baru bagi inisiatif integrasi wisata budaya "film plus" di Tiongkok.