Xi'an, Bharata Online - Tim arkeologi gabungan Tiongkok-Kirgistan baru-baru ini telah menemukan bukti sejarah bersama kedua negara di sepanjang Jalur Sutra kuno melalui penggalian di situs Krasnaya Rechka, Kirgistan.

Penggalian di situs tersebut telah menghasilkan sejumlah peninggalan budaya berharga yang berasal dari sekitar abad ke-10 Masehi, yang memberikan gambaran mengenai bagaimana berbagai budaya berpadu di sepanjang Jalur Sutra kuno.

"Kegiatan arkeologi kami secara resmi dimulai di Kirgistan pada tahun 2018. Berdasarkan penelitian awal kami, lembah Sungai Chu merupakan kawasan utama tempat tersebarnya banyak situs arkeologi. Kota-kota seperti Suyab, Kota Baru (situs Krasnaya Rechka), dan Talas—yang sering disebut dalam literatur Tiongkok—semuanya berkaitan dengan lembah Sungai Chu di Kirgistan. Oleh karena itu, kami memilih situs Kota Baru untuk kegiatan arkeologi kami," ujar Shao Jing, Wakil Direktur Institut Arkeologi Provinsi Shaanxi.

Situs Krasnaya Rechka, yang terletak di Wilayah Chui, Kirgistan, dan mencakup area seluas sekitar 20 kilometer persegi, dikenal sebagai "Kota Baru" sebagaimana tercatat dalam dokumen Tiongkok maupun dokumen asing dari abad pertengahan.

Setelah lima tahun melakukan penggalian sistematis, tim arkeologi gabungan tersebut telah membuat penemuan penting di berbagai lokasi utama, seperti kuil Buddha dan tembok kota.

Di antara temuan tersebut terdapat sejumlah artefak berharga dari sekitar abad ke-10 Masehi yang menyoroti perpaduan beragam budaya di sepanjang Jalur Sutra kuno. Penemuan-penemuan ini memberikan bukti fisik yang penting untuk mempelajari interaksi dan integrasi antara peradaban oasis, peradaban stepa, dan peradaban Dataran Tengah (Central Plains).

Pada masa abad pertengahan, para pedagang Sogdiana melintasi Wilayah Chui untuk mencapai wilayah Timur, sementara Dinasti Tang (618-907) mendirikan kota kuno Suyab, yang menyebarkan teknologi dan budaya maju dari Dataran Tengah hingga jauh ke wilayah Asia Tengah.

Kegiatan penggalian gabungan ini juga semakin mendorong pembelajaran bersama antarperadaban serta mempererat persahabatan yang telah mengakar kuat di antara kedua negara.

"Dalam beberapa tahun terakhir, kami telah membawa teknologi, metode, dan teori yang relatif matang dari Tiongkok ke Kirgistan, termasuk metode arkeologi untuk situs permukiman, teknik penggalian situs kota, teknologi survei dan pemetaan mutakhir, serta teknologi penginderaan jauh. Metode dan teknologi ini telah memfasilitasi penyajian sejumlah temuan arkeologis yang sangat penting di situs Kota Baru. Kami juga telah menunjukkan keterkaitan krusial Jalur Sutra, mulai dari titik awal hingga rutenya, melalui bukti arkeologis," ujar Shao.