Beijing, Bharata Online - Museum Istana di Kota Terlarang (Forbidden City), Beijing, membuka pameran baru yang menampilkan 107 mahakarya kaligrafi dan seni lukis Tiongkok dari abad ke-7 hingga ke-13 pada hari Selasa (1/9).

Pameran bertajuk "Defining the Classics: A Journey to Tang and Song Calligraphy and Paintings" (Mendefinisikan Karya Klasik: Sebuah Perjalanan Menelusuri Kaligrafi dan Lukisan Zaman Tang dan Song) ini akan berlangsung hingga 1 November 2026 di Aula Wenhua di dalam Kota Terlarang, yang merupakan istana kekaisaran pada masa Dinasti Ming dan Qing.

Pameran ini mencakup 103 karya dari koleksi Museum Istana serta empat karya pinjaman dari museum-museum di Shanghai dan provinsi Shanxi serta Henan.

Dengan menampilkan beragam genre, mulai dari kaligrafi, lukisan pemandangan, lukisan figur, hingga lukisan burung dan bunga, pameran ini menelusuri perkembangan seni Tiongkok melintasi masa Dinasti Tang (618-907), periode Lima Dinasti (907-960), dan Dinasti Song (960-1279), sembari menengok kembali tradisi seni dari masa-masa sebelumnya.

Alih-alih menyusun pameran di seputar satu karya unggulan utama, para kurator menggunakan serangkaian mahakarya untuk memperlihatkan bagaimana para seniman belajar dari masa lalu, menetapkan model-model yang bertahan lama, serta membentuknya kembali melalui inovasi.

Judul pameran dalam bahasa Mandarin, 'dianze', merujuk pada model-model teladan dan prinsip-prinsip panduan yang menjadi sarana bagi tradisi seni untuk dipelajari, diwariskan, dan diperbarui.

"Belajar dari para maestro dan guru masa lampau berarti mengikuti teladan dan menetapkan prinsip-prinsip. Prinsip-prinsip tersebut dapat diajarkan. Hal itu memungkinkan kita untuk belajar dari masa lalu dan meneruskan tradisi budaya ini, serta melestarikan dan mengembangkannya melalui inovasi. Itulah makna dari 'dianze'," ujar Wang Zhongxu, Kurator Peneliti di Departemen Kaligrafi dan Seni Lukis museum tersebut.

Salah satu karya paling terkenal dalam pameran ini, "The Nymph of the Luo River" (Dewi Sungai Luo), merupakan salinan dari masa Dinasti Song yang dibuat berdasarkan gulungan lukisan jauh lebih tua. Karya aslinya secara tradisional dikaitkan dengan Gu Kaizhi, seorang seniman dari masa Dinasti Jin Timur (317-420). Lukisan ini diilhami oleh "Rhapsody on the Luo River" (Rapsodi Sungai Luo), sebuah karya sastra gubahan Cao Zhi, seorang pangeran sekaligus penyair dari abad ketiga.

Karya ini mengisahkan pertemuan imajiner antara Cao dan Luoshen, sang dewi Sungai Luo, yang kisah cintanya pada akhirnya harus berakhir dengan perpisahan. Gulungan lukisan tersebut mengubah adegan-adegan dalam puisi, yang berganti-ganti antara rasa rindu, pertemuan, dan perpisahan, menjadi sebuah narasi visual yang berkesinambungan.

Setelah tiga tahun tidak dipamerkan karena menjalani konservasi, lukisan karya pelukis Dinasti Tang, Yan Liben, yang berjudul "Kaisar Taizong Menerima Utusan Tibet" kini kembali dapat disaksikan oleh publik. Lukisan gulung ini menggambarkan peristiwa pada tahun 641 ketika Kaisar Taizong menerima Gar Tongtsen Yulsung, seorang utusan yang dikirim oleh Songtsen Gampo, penguasa kerajaan Tibet, Tubo.

Utusan tersebut datang untuk mengawal Putri Wencheng, yang telah disepakati oleh istana Tang untuk dinikahkan dengan Songtsen Gampo, kembali ke Tubo. Lukisan ini mengabadikan pertemuan tersebut melalui perbedaan skala, postur, dan pakaian: sang kaisar duduk di atas tandu yang digotong oleh para pelayan, sementara sang utusan menunggu di hadapannya.

"Dalam lukisan 'Kaisar Taizong Menerima Utusan Tibet', setiap sosok memiliki karakter yang khas. Kaisar Taizong digambarkan dengan ukuran lebih besar dan memancarkan wibawa. Para pelayan wanita yang menggotong tandu tampak lebih kecil dan menunjukkan sikap penuh hormat. Gar Tongtsen Yulsung digambarkan sebagai sosok yang ramping, cakap, dan berpengalaman. Kepribadian setiap sosok terpancar jelas melalui cara mereka digambarkan," jelas Wang.

Karya langka lainnya yang dipamerkan adalah lukisan sutra berjudul "Fuxi dan Nvwa", yang ditampilkan di hadapan publik untuk pertama kalinya dalam kurun waktu hampir 30 tahun. Lukisan ini ditemukan di Makam Astana, sebuah situs pemakaman kuno di dekat Turpan, Daerah Otonom Xinjiang Uygur di Tiongkok Barat Laut.

Lukisan ini menyajikan padanan kosmologis bagi dunia istana yang ditampilkan dalam "Kaisar Taizong Menerima Utusan Tibet", dengan menampilkan sosok Fuxi dan Nvwa, leluhur mitologis umat manusia, di tengah-tengah matahari, bulan, dan bintang-bintang.

"Lukisan ini menggambarkan Fuxi dan Nvwa, leluhur legendaris umat manusia, yang berwujud manusia namun memiliki tubuh ular—satu laki-laki dan satu perempuan—dengan ekor yang saling melilit. Fuxi memegang siku-siku tukang kayu, sementara Nvwa memegang jangka. Bersama-sama, keduanya melambangkan tatanan dunia. Mereka dikelilingi oleh bintang-bintang, dengan matahari di bagian atas dan bulan di bagian bawah. Ini adalah gambaran harmoni yin dan yang, yang melahirkan umat manusia dan segala makhluk hidup," jelas Wang.

Rotasi pertama pameran ini, yang menampilkan karya-karya dari masa Dinasti Tang dan Lima Dinasti, berlangsung hingga 27 September 2026. Rotasi kedua yang menampilkan karya-karya dari masa Dinasti Song akan dipamerkan mulai 30 September hingga 1 November tahun ini. Pengunjung wajib melakukan reservasi terlebih dahulu, namun tidak diperlukan tiket pameran terpisah.