Beijing, Bharata Online - Putra seorang dokter kelahiran Amerika Serikat, yang pergi ke Tiongkok dan bergabung dengan tahap akhir peristiwa bersejarah Long March (Pawai Besar) Tentara Merah setelah terinspirasi oleh perjuangan Partai Komunis Tiongkok (PKT), mengenang kembali kisah luar biasa ayahnya.
Bertepatan dengan peringatan 90 tahun Long March tahun ini, kisah George Hatem, dokter asal AS yang dikenal di Tiongkok dengan nama Mandarinnya, Ma Haide, tetap menjadi salah satu bagian paling berkesan dari periode sejarah tersebut.
Dalam sebuah wawancara dengan China Global Television Network (CGTN), putra Hatem, Zhou Youma, menengok kembali pengalaman ayahnya dan menceritakan apa yang memotivasi sang ayah untuk bekerja bagi PKT.
Hatem lahir pada tahun 1910 di Amerika Serikat dan datang ke Tiongkok untuk mempelajari penyakit menular tak lama setelah meraih gelar kedokteran pada usia 23 tahun.
Atas rekomendasi Soong Ching Ling, mantan presiden kehormatan Tiongkok sekaligus istri dari tokoh revolusioner dan negarawan Tiongkok, Sun Yat-sen, ia kemudian pergi ke Provinsi Shaanxi di Tiongkok barat laut pada tahun 1937, tempat ia bergabung dengan PKT.
Pada tahun 1949, Hatem menjadi orang asing pertama yang memperoleh kewarganegaraan Tiongkok. Setahun kemudian, ia ditunjuk sebagai penasihat bagi kementerian kesehatan Tiongkok. Melalui kiprahnya, Hatem turut membangun dan memperkuat sistem kesehatan masyarakat negara tersebut hingga ia wafat di Beijing pada tahun 1988.
Saat mengenang kembali kehidupan ayahnya, Zhou menceritakan betapa sang ayah merasa tergugah oleh penderitaan masyarakat yang hidup dalam kemiskinan ekstrem pada masa-masa awal itu, yang kemudian mendorongnya untuk berkontribusi pada perjuangan PKT.
"Ayah saya juga banyak menderita dan memahami betul kerasnya kehidupan kaum miskin. Setelah bertemu dengan Soong Ching Ling, tokoh politik terkemuka Tiongkok, beserta rekan-rekannya di Shanghai, ia menyaksikan sendiri kondisi nyata masyarakat miskin di sana. Di sebuah pabrik sutra di Shanghai, ia melihat pekerja perempuan berusia 11 atau 12 tahun memintal sutra di dalam air alkali yang panas. Tangan mereka telah bertahun-tahun terendam air tersebut, bahkan ada yang sampai mengalami patah tulang. Sebagai seorang dokter, hati ayah saya sangat pedih melihatnya. Mengapa anak-anak harus menanggung penderitaan sehebat itu? Ayah saya meyakini bahwa negara dan pemerintahan saat itu harus berubah," ujarnya.
"Soong Ching Ling dan rekan-rekannya memberi tahu ayah saya tentang adanya kelompok yang berjuang membantu kaum miskin di Tiongkok, yaitu Partai Komunis Tiongkok (PKT). Mengapa ayah saya bergabung dengan Tentara Merah? Ia bersedia bekerja sama dengan militer yang dipimpin oleh tokoh-tokoh luar biasa tersebut demi membantu rakyat mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ia menempuh perjalanan panjang, namun penderitaan yang ia alami hanyalah sebagian kecil dari 'Long March' atau menurut kata-katanya sendiri, hanya sepersepuluhnya," tambahnya.
Zhou juga mengenang kiprah lain ayahnya di luar bidang medis, seraya menyoroti perannya sebagai penasihat internasional yang dipercaya oleh PKT.
"Selain memberikan layanan medis, ayah saya juga banyak berkecimpung dalam urusan luar negeri. Ia menerjemahkan berita yang didengarnya dari radio ke dalam bahasa Inggris dan Prancis; kemudian, rekan-rekannya sesama orang Tiongkok menerjemahkannya ke dalam bahasa Mandarin untuk dimuat di surat kabar. Setiap pagi, terdapat catatan di meja Ketua Mao Zedong yang disusun dengan bantuan ayah saya," tuturnya.