Kairo, Bharata Online - Semakin eratnya pertukaran ekonomi, perdagangan, dan budaya bilateral telah mendorong semakin banyak anak muda Mesir untuk mempelajari bahasa Mandarin, terutama karena tahun ini menandai peringatan 70 tahun hubungan diplomatik antara Tiongkok dan Mesir.

Warga Mesir dari berbagai latar belakang profesi di Kairo telah berbagi pandangan mereka mengenai pembelajaran bahasa Mandarin.

Bagi Youssef Ehab, belajar bahasa Mandarin awalnya hanyalah sekadar mencoba hal baru. Mulai dari menguasai karakter Mandarin pertamanya hingga mampu mengungkapkan pemahamannya tentang budaya Tiongkok menggunakan bahasa Mandarin, ia mengatakan bahwa bahasa tersebut telah menjadi pintu gerbang baginya untuk berinteraksi dengan Tiongkok, menjalin persahabatan, dan memperluas peluang hidupnya.

"Kami memadukan budaya kedua negara ini dengan tujuan memperluas pemahaman masyarakat Mesir mengenai budaya Tiongkok. Inilah yang selama ini saya lakukan," ujar Ehab, yang bekerja sebagai Penerjemah di Pusat Budaya Tiongkok Kairo.

Belajar bahasa Mandarin juga telah mengubah hidupnya, memungkinkannya untuk terlibat dalam pertukaran bidang humaniora, penerjemahan, dan penerbitan.

Semakin banyak warga Mesir yang mempelajari bahasa Mandarin untuk memahami Tiongkok, sehingga turut mempererat hubungan kedua negara.

"Dua puluh lima tahun yang lalu, relatif sedikit orang di Mesir yang mempelajari bahasa Mandarin. Orang-orang tidak mengerti mengapa seorang anak muda memilih untuk mempelajarinya. Namun, dua puluh lima tahun kemudian, saat ini bahasa Mandarin telah melampaui semua bahasa lainnya," kata Ahmed Saeed, Sinolog dan Penerbit yang juga menjabat sebagai Presiden Hekmat Cultural Industries Group, sebuah perusahaan penerbitan dan budaya local di Mesir.

"Menurut saya, mempelajari bahasa Mandarin menawarkan prospek yang menjanjikan bagi generasi muda Mesir. Mengingat jarak geografis yang cukup jauh antara Mesir dan Tiongkok, mencapai 10.000 km, pertukaran budaya dapat semakin mendekatkan kita satu sama lain," ujar Hassan Ragab, Direktur sekaligus Profesor di Institut Konfusius Universitas Terusan Suez di Mesir.