Beijing, Bharata Online - Robot humanoid buatan dalam negeri Tiongkok menjadi sorotan menarik dalam ajang China International Fair for Trade in Services (CIFTIS) 2026 yang baru saja usai, menampilkan teknologi yang terus berkembang mulai dari pergerakan seluruh tubuh, sistem kendali dasar, hingga pengumpulan data.
Di area pameran layanan telekomunikasi, komputer, dan informasi, salah satu daya tarik utamanya adalah robot humanoid yang memukul serangkaian lonceng perunggu kuno secara berirama. Dengan kekuatan yang diatur secara cermat dan pengaturan waktu yang stabil, mesin itu menunjukkan kemampuan gerakan dan kendali yang presisi, menjadikannya favorit pengunjung di pameran tahun ini.
Area pameran layanan telekomunikasi, komputer, dan informasi tersebut menghadirkan lebih dari 130 perusahaan dan institusi.
Salah satu inovasi yang baru diperkenalkan adalah platform arsitektur elektronik robot hasil pengembangan dalam negeri Tiongkok. Dirancang sebagai lapisan dasar yang terpadu, arsitektur ini memenuhi kebutuhan fungsional dan kinerja untuk berbagai skenario, baik penggunaan sehari-hari, industri, maupun medis, sehingga membuka jalan bagi penerapan yang lebih optimal di dunia nyata.
"Arsitektur elektronik ini memperkuat fungsi keamanan dan mampu menangkal serangan siber atau kerusakan akibat virus secara efektif. Dengan menyatukan 'otak' dan 'otak kecil' robot dalam satu arsitektur terpadu serta menyederhanakan jaringan, sistem ini secara signifikan menekan biaya sekaligus memberikan kinerja yang lebih baik dan mempermudah proses pengembangan," ujar Li Ping, perwakilan dari pihak peserta pameran.
Tingginya biaya pengumpulan data dan kalibrasi selama ini menjadi hambatan utama bagi sektor AI yang terwujud dalam bentuk fisik (embodied AI). Untuk mengatasinya, sebuah perusahaan Tiongkok memamerkan sistem pelatihan simulasi hasil pengembangan mandiri yang sangat menyerupai kondisi fisik nyata. Sistem ini memungkinkan robot untuk berlatih dan belajar melalui metode coba-coba (trial and error) secara berulang di lingkungan virtual, sehingga memangkas biaya pelatihan secara drastis bagi perusahaan-perusahaan di bidang embodied AI.
Hingga saat ini, perusahaan tersebut telah membuka akses (open source) bagi komunitas global terhadap kumpulan data perilaku manusia dengan durasi lebih dari 100.000 jam, yang mencakup lebih dari 15.000 skenario berbeda.
"Kami berharap langkah ini dapat membantu usaha kecil dan menengah serta lembaga penelitian di sektor embodied AI Tiongkok untuk melatih model mereka dengan lebih cepat. Kami juga mendorong standardisasi data agar satu kumpulan data dapat digunakan kembali oleh berbagai tim," kata Dong Xiaochao, perwakilan peserta pameran lainnya.
Ajang CIFTIS 2026, yang berakhir di Beijing pada hari Minggu (13/9), menarik partisipasi dari 90 negara, wilayah, dan organisasi internasional, dengan lebih dari 1.800 perusahaan memamerkan layanan dan teknologi mereka secara langsung di lokasi acara. Area pameran utama menampilkan lebih dari 140 contoh inovasi yang mencakup ke-12 kategori perdagangan jasa, termasuk kecerdasan buatan, model bahasa berskala besar, dan agen cerdas, yang memberikan gambaran mengenai arah perkembangan sektor jasa Tiongkok.