Mesir, Bharata Online - Para aktor dan kru asal Mesir yang terlibat dalam film antiperang Tiongkok berjudul "Once Upon a Time in the Middle East" mengatakan bahwa produksi penting ini telah menjadi sarana ampuh untuk saling memahami. Film ini memperkenalkan budaya Mesir kepada penonton Tiongkok sekaligus mempererat hubungan antara kedua peradaban kuno tersebut.

Film ini berkisah tentang seorang pria Tiongkok yang bekerja sebagai koki di sebuah restoran Tiongkok di Timur Tengah pada tahun 2000-an, tepat saat perang meletus. Sejak dirilis pada 11 Agustus 2026, film itu telah meraup pendapatan lebih dari 1,68 miliar yuan (sekitar 4,4 triliun rupiah) di Tiongkok, termasuk dari penjualan tiket awal.

Bagi aktor Mesir Ahmed Selim, pengalaman ini sungguh membawa perubahan besar bagi dirinya.

"Bagi saya, ini adalah sebuah penemuan—penemuan dunia sinema baru, wilayah baru, dan orang-orang baru. Skala film, teknik pengambilan gambar, dan standar produksinya sungguh memukau saya. Produksinya sangat masif, serta sumber daya dan peluang yang tersedia pun melimpah," ujar Selim.

Lebih dari sekadar proses pembuatan film, Selim memandang proyek ini sebagai jembatan yang menghubungkan masyarakat kedua negara. Ia yakin bahwa proyek itu akan menumbuhkan saling pengertian antara peradaban Tiongkok dan Mesir.

"Kesuksesan film ini akan sangat meningkatkan pemahaman penonton Tiongkok mengenai budaya dan para aktor Mesir kita. Faktanya, hal itu sudah mulai terjadi. Mereka sudah mulai mencari lagu dan film-film Mesir. Kesuksesan film ini di Tiongkok akan memungkinkan kami untuk melangkah lebih jauh dan semakin mengapresiasi budaya Tiongkok. Menurut saya, ini adalah langkah maju yang luar biasa," ungkapnya.

Antusiasme serupa juga dirasakan oleh talenta muda Mesir. Aktris muda Mesir, Karma Hazem, masih menyimpan kenangan indah saat menjalani syuting di Tiongkok.

"Perjalanan saya ke Tiongkok membuat saya sangat bahagia karena itu adalah pengalaman yang benar-benar baru. Saya jatuh cinta pada negara itu. Penduduknya sangat hangat dan ramah, dan semua orang menyukai saya. Saya sangat senang film ini telah dirilis dan meraih kesuksesan besar," ujarnya.

Ada satu benang merah dalam kesan yang disampaikan oleh seluruh pemeran. Film antiperang Tiongkok ini membawa makna yang jauh melampaui sekadar pencapaian komersial. Film itu menjadi bukti nyata pertukaran artistik antara para kreator Tiongkok dan Mesir, serta menjadi dialog hidup yang dinamis antara dua peradaban yang memiliki sejarah ribuan tahun.