Bharata Online - Bayangkan jika sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu seseorang mengatakan bahwa suatu hari nanti dunia akan mulai bergantung pada teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang dikembangkan di Tiongkok.
Mungkin banyak orang akan menganggapnya sebagai lelucon. Sebab, selama bertahun-tahun Amerika Serikat selalu dianggap sebagai pusat inovasi teknologi dunia. Dari Silicon Valley lahir perusahaan-perusahaan raksasa seperti Google, Microsoft, Apple, hingga OpenAI yang memperkenalkan ChatGPT dan mengubah cara manusia bekerja.
Hampir semua orang percaya bahwa masa depan AI akan tetap berada di tangan Amerika. Namun, beberapa tahun terakhir dunia mulai menyaksikan sesuatu yang berbeda. Tiongkok tidak lagi hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mulai tampil sebagai pencipta teknologi.
Perusahaan-perusahaan seperti Baidu, Alibaba, Tencent, Huawei, ByteDance, hingga DeepSeek bermunculan dengan berbagai inovasi AI yang mampu menarik perhatian dunia.
Robot humanoid mulai bekerja di pabrik-pabrik, mobil tanpa sopir diuji di berbagai kota, rumah sakit memanfaatkan AI untuk membantu diagnosis penyakit, sementara jutaan pelajar memanfaatkan teknologi AI sebagai bagian dari proses belajar sehari-hari.
Bahkan dalam beberapa bidang tertentu, perkembangan AI di Tiongkok mulai dianggap mampu menyaingi, bahkan mendekati keunggulan negara-negara Barat.
Pertanyaannya, bagaimana semua ini bisa terjadi? Apakah kemajuan tersebut muncul begitu saja dalam beberapa tahun terakhir? Apakah semuanya bermula ketika ChatGPT menjadi fenomena dunia? Atau sebenarnya perjalanan Tiongkok menuju kekuatan AI telah dimulai jauh lebih lama, ketika dunia bahkan belum mengenal istilah AI seperti sekarang?.
Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus kembali ke beberapa dekade yang lalu. Tepatnya pada akhir tahun 1970-an, ketika kondisi Tiongkok sangat berbeda dibandingkan hari ini. Saat itu negara ini masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Pendapatan per kapita masih rendah, industri modern belum berkembang, dan kemampuan teknologi masih tertinggal dibandingkan negara-negara maju. Namun, setelah reformasi ekonomi yang dipimpin oleh Deng Xiaoping pada tahun 1978, arah pembangunan Tiongkok mulai berubah secara drastis.
Pemerintah mulai membuka diri terhadap investasi asing, mempercepat modernisasi industri, dan yang paling penting, menjadikan ilmu pengetahuan serta pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan jangka panjang.
Pemerintah menyadari bahwa kekuatan suatu negara pada masa depan tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam atau jumlah penduduk, tetapi juga oleh kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Karena itu, Tiongkok mulai mengirim puluhan ribu mahasiswa terbaiknya ke berbagai universitas di Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan negara maju lainnya untuk mempelajari ilmu komputer, matematika, elektronika, hingga AI yang pada saat itu masih menjadi bidang penelitian baru.
Banyak di antara mereka kemudian kembali ke tanah air dengan membawa pengalaman, jaringan internasional, dan pengetahuan yang kelak menjadi fondasi lahirnya industri teknologi Tiongkok.
Di saat yang sama, pemerintah juga mulai membangun universitas-universitas riset dan laboratorium nasional. Institusi seperti Universitas Tsinghua, Universitas Peking, Zhejiang University, hingga Chinese Academy of Sciences memperoleh investasi besar untuk memperkuat penelitian di bidang komputasi, algoritma, dan teknologi digital.
Langkah ini mungkin tidak banyak mendapat perhatian dunia pada saat itu, tetapi justru menjadi pondasi yang sangat penting. Tiongkok memahami bahwa tidak mungkin menjadi pemimpin teknologi jika hanya mengandalkan membeli produk dari luar negeri. Mereka harus mampu menciptakan teknologinya sendiri.
Memasuki dekade 1990-an hingga awal 2000-an, perkembangan internet mulai mengubah wajah dunia. Banyak negara melihat internet hanya sebagai sarana komunikasi dan bisnis. Namun Tiongkok melihatnya sebagai peluang untuk membangun ekosistem digital nasional.
Pemerintah mendorong pembangunan infrastruktur telekomunikasi, memperluas akses internet, dan mendukung lahirnya perusahaan-perusahaan teknologi lokal. Dari sinilah muncul nama-nama yang kini sudah dikenal secara global seperti Tencent, Alibaba, Baidu, dan kemudian ByteDance.
Pada awalnya perusahaan-perusahaan tersebut memang tidak berfokus pada AI. Mereka membangun mesin pencari, platform e-commerce, media sosial, layanan pembayaran digital, dan aplikasi hiburan. Tetapi tanpa disadari, aktivitas miliaran pengguna di platform-platform tersebut menghasilkan sesuatu yang sangat berharga bagi perkembangan AI yaitu data.
Dalam dunia AI, data ibarat bahan bakar bagi sebuah mesin. Semakin banyak data yang dimiliki, semakin baik pula kemampuan AI untuk belajar, mengenali pola, dan menghasilkan keputusan yang akurat. Dengan populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa dan tingkat adopsi internet yang terus meningkat, Tiongkok memiliki keunggulan yang sulit ditandingi.
Ratusan juta orang berbelanja secara daring, menggunakan pembayaran digital, memesan transportasi, berkomunikasi melalui aplikasi, hingga mengakses layanan publik secara elektronik setiap hari. Semua aktivitas itu menghasilkan data dalam jumlah yang sangat besar, yang kemudian dimanfaatkan untuk melatih berbagai sistem AI.
Namun pemerintah Tiongkok menyadari bahwa memiliki data saja tidak cukup. Negara ini membutuhkan arah yang jelas agar seluruh potensi tersebut bisa diubah menjadi kekuatan teknologi. Karena itulah, memasuki dekade 2010-an, investasi di bidang penelitian dan pengembangan terus dilanjutkan dan ditingkatkan.
Anggaran riset nasional meningkat dari tahun ke tahun, pusat-pusat inovasi baru bermunculan, dan kerja sama antara pemerintah, universitas, serta perusahaan swasta semakin erat. Tujuannya sederhana tetapi ambisius, menjadikan inovasi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi masa depan.
Titik balik yang sesungguhnya terjadi pada tahun 2017. Pada tahun inilah pemerintah Tiongkok meluncurkan dokumen strategis yang kemudian dianggap sebagai salah satu kebijakan paling penting dalam sejarah perkembangan AI negara tersebut, yaitu New Generation Artificial Intelligence Development Plan.
Melalui dokumen ini, AI secara resmi ditetapkan sebagai teknologi strategis nasional. Pemerintah tidak lagi memandang AI hanya sebagai inovasi di sektor teknologi, melainkan sebagai fondasi bagi pembangunan ekonomi, industri, kesehatan, pendidikan, transportasi, keamanan, budaya hingga pertahanan negara.
Dokumen tersebut juga menetapkan target yang sangat jelas. Pada tahap awal, Tiongkok ingin mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju. Tahap berikutnya adalah menjadi pemimpin di sejumlah sektor AI tertentu. Dan pada tahun 2030, target akhirnya adalah menjadikan Tiongkok sebagai salah satu pusat inovasi AI dunia.
Yang membuat kebijakan ini berbeda bukan hanya visinya, tetapi juga pelaksanaannya. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, universitas, perusahaan teknologi, lembaga penelitian, hingga sektor industri bergerak menuju arah yang sama.
Investasi terus mengalir, kawasan-kawasan industri AI dibangun, startup teknologi memperoleh dukungan pendanaan, sementara perusahaan besar didorong untuk mempercepat riset dan komersialisasi berbagai teknologi AI.
Sejak saat itulah, perkembangan AI di Tiongkok tidak lagi berjalan secara bertahap, melainkan melesat dengan kecepatan yang membuat banyak negara mulai memberikan perhatian serius. Apa yang sebelumnya hanya dianggap sebagai negara manufaktur kini perlahan berubah menjadi salah satu pusat inovasi teknologi dunia.
Namun, perjalanan tersebut belum berhenti. Justru setelah tahun 2017, persaingan memasuki babak yang jauh lebih besar. Perusahaan-perusahaan teknologi Tiongkok mulai berlomba mengembangkan model AI mereka sendiri, sementara hubungan dengan Amerika Serikat berubah menjadi kompetisi teknologi yang semakin ketat.
Alih-alih memperlambat langkah Tiongkok, tekanan tersebut justru menjadi salah satu pendorong lahirnya inovasi-inovasi baru yang akan mengubah peta persaingan AI global.
Sejak saat itu, perlombaan benar-benar dimulai. Berbagai perusahaan teknologi Tiongkok mulai menggelontorkan investasi dalam jumlah besar untuk mengembangkan AI. Baidu yang sebelumnya dikenal sebagai mesin pencari terbesar di Tiongkok mempercepat riset AI dan mengembangkan model bahasa besar serta teknologi mengemudi otonom melalui platform Apollo.
Alibaba memanfaatkan AI untuk memperkuat layanan komputasi awan, e-commerce, hingga model bahasa Qwen yang kini digunakan dalam berbagai kebutuhan bisnis. Tencent mengintegrasikan AI ke dalam media sosial, permainan digital, layanan kesehatan, dan produktivitas.
ByteDance, perusahaan di balik TikTok dan Douyin, memanfaatkan AI untuk menciptakan sistem rekomendasi konten yang mampu memahami preferensi pengguna dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.
Sementara Huawei, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai produsen perangkat telekomunikasi, mulai bertransformasi menjadi salah satu pemain penting dalam pengembangan chip AI, komputasi awan, hingga ekosistem AI. Perkembangan ini tidak terjadi secara kebetulan. Di baliknya terdapat sebuah ekosistem yang saling mendukung.
Pemerintah menyediakan arah kebijakan dan investasi. Universitas menghasilkan talenta baru. Lembaga penelitian mengembangkan teknologi dasar. Perusahaan swasta mengubah hasil penelitian menjadi produk yang dapat digunakan masyarakat. Sementara pasar domestik Tiongkok yang sangat besar menjadi tempat untuk menguji dan menyempurnakan berbagai inovasi tersebut.
Ketika sebuah teknologi baru diluncurkan, perusahaan tidak perlu menunggu bertahun-tahun untuk mengetahui apakah produk itu berhasil atau tidak. Mereka bisa memperoleh umpan balik dari jutaan bahkan ratusan juta pengguna dalam waktu yang relatif singkat. Kecepatan iterasi seperti inilah yang menjadi salah satu keunggulan penting dalam pengembangan AI.
Keunggulan lainnya adalah digitalisasi yang berlangsung sangat luas. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Tiongkok telah terbiasa menggunakan pembayaran digital, belanja daring, transportasi berbasis aplikasi, layanan publik digital, hingga sistem logistik yang terintegrasi.
Semua aktivitas tersebut menghasilkan data dalam jumlah sangat besar. Dalam dunia AI, data bukan sekadar kumpulan informasi, melainkan bahan baku utama untuk melatih model agar mampu mengenali pola, memahami bahasa, memprediksi perilaku, dan memberikan jawaban yang semakin akurat. Artinya, semakin beragam dan berkualitas data yang tersedia maka semakin besar pula peluang sebuah sistem AI berkembang dengan cepat.
Hasilnya mulai terlihat dalam berbagai sektor. Di bidang manufaktur, robot berbasis AI membantu meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi kesalahan manusia. Di bidang kesehatan, sejumlah rumah sakit menggunakan AI untuk membantu membaca hasil pencitraan medis, sehingga proses deteksi dini beberapa penyakit dapat dilakukan lebih cepat sebagai alat bantu bagi tenaga medis.
Di sektor transportasi, kota-kota seperti Beijing, Shanghai, dan Wuhan menjadi lokasi uji coba kendaraan otonom. Sementara di bidang pendidikan, platform pembelajaran berbasis AI mulai membantu guru dan siswa menyesuaikan materi belajar sesuai kemampuan masing-masing.
Namun ketika perkembangan AI Tiongkok semakin pesat, muncul tantangan baru yang justru mengubah arah persaingan global. Amerika Serikat mulai memandang AI bukan hanya sebagai teknologi ekonomi, tetapi juga sebagai aset strategis yang berkaitan dengan keamanan nasional dan posisi kepemimpinan teknologi dunia.
Persaingan yang sebelumnya didominasi pasar berubah menjadi kompetisi geopolitik. Salah satu langkah yang paling banyak mendapat perhatian adalah pembatasan ekspor semikonduktor dan peralatan pembuat chip canggih ke Tiongkok.
Alasannya sederhana. AI modern membutuhkan daya komputasi yang sangat besar, dan daya komputasi tersebut bergantung pada chip berkinerja tinggi. Tanpa akses terhadap chip tercanggih, pengembangan model AI berskala besar menjadi jauh lebih sulit dan mahal.
Banyak pengamat saat itu memperkirakan bahwa pembatasan tersebut akan memperlambat laju perkembangan AI Tiongkok. Namun yang terjadi justru lebih kompleks. Tekanan dari luar mendorong pemerintah dan industri untuk mempercepat investasi di sektor semikonduktor domestik, memperkuat rantai pasok dalam negeri, mengembangkan perangkat lunak lokal, serta meningkatkan kolaborasi antara perusahaan teknologi dan lembaga penelitian.
Meski tantangannya tetap besar, dorongan untuk membangun kemandirian teknologi menjadi semakin kuat. Di tengah situasi tersebut, dunia kembali dikejutkan oleh kemunculan model AI buatan perusahaan Tiongkok seperti DeepSeek. Kehadirannya memicu perhatian luas karena menunjukkan bahwa inovasi AI tidak lagi hanya berasal dari perusahaan-perusahaan Amerika.
Terlepas dari berbagai perdebatan mengenai pendekatan teknis, efisiensi, maupun performanya, kemunculan DeepSeek memperlihatkan bahwa ekosistem AI Tiongkok telah berkembang hingga mampu menghasilkan model yang diperhitungkan dalam percakapan global.
Meski demikian, mengatakan bahwa Tiongkok telah sepenuhnya melampaui Amerika Serikat juga tidak tepat. Dalam beberapa aspek penting, Amerika masih memiliki keunggulan, misalnya pada sejumlah perusahaan perancang chip paling maju, sebagian universitas riset terkemuka, serta sejumlah laboratorium yang menjadi pelopor berbagai terobosan AI modern. Banyak model AI yang berpengaruh secara global juga masih lahir dari perusahaan-perusahaan Amerika.
Di sisi lain, Tiongkok memiliki kekuatan yang berbeda. Negara ini unggul dalam skala penerapan teknologi, kecepatan implementasi, integrasi AI ke berbagai sektor industri, besarnya pasar domestik, kemampuan manufaktur, serta dukungan kebijakan yang terkoordinasi.
Dengan kata lain, jika Amerika sering memimpin dalam banyak inovasi dasar, Tiongkok menunjukkan kemampuan yang sangat kuat dalam mempercepat adopsi dan mengubah inovasi menjadi solusi yang digunakan secara luas oleh masyarakat dan industri.
Karena itulah, perlombaan AI saat ini tidak lagi bisa dipandang sebagai pertandingan yang hanya memiliki satu pemenang. Dunia sedang memasuki era ketika beberapa pusat inovasi berkembang secara bersamaan dengan keunggulan yang berbeda-beda.
Amerika Serikat tetap menjadi salah satu pemimpin utama, tetapi Tiongkok telah menjelma menjadi pesaing yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.
Melihat perjalanan panjang tersebut, satu hal menjadi sangat jelas. Kemajuan AI Tiongkok bukanlah hasil dari keberuntungan atau sebuah penemuan yang muncul dalam semalam. Semua itu merupakan hasil dari proses yang berlangsung selama puluhan tahun, dimulai dari reformasi pendidikan, investasi besar pada riset, pembangunan infrastruktur digital, lahirnya perusahaan-perusahaan teknologi, hingga keberanian menjadikan AI sebagai strategi pembangunan nasional.
Mungkin inilah pelajaran paling penting yang bisa diambil dari kisah ini. Di era modern, persaingan antarnegara tidak lagi hanya ditentukan oleh luas wilayah, jumlah penduduk, atau kekuatan militer. Kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan, membangun ekosistem inovasi, dan memanfaatkan teknologi secara berkelanjutan menjadi faktor yang semakin menentukan masa depan sebuah bangsa.
Jadi, ketika hari ini kita melihat robot bekerja di pabrik-pabrik Tiongkok, mobil tanpa pengemudi melintasi jalan-jalan kota, atau model AI buatan perusahaan Tiongkok mulai digunakan di berbagai belahan dunia, sesungguhnya kita tidak sedang menyaksikan sebuah keajaiban. Kita sedang melihat hasil dari strategi jangka panjang yang dibangun dengan konsisten selama beberapa dekade.
Dan mungkin pertanyaan terbesar yang patut kita renungkan bukan lagi apakah Tiongkok mampu menjadi salah satu pemimpin AI dunia. Pertanyaan yang lebih menarik justru adalah ketika perlombaan AI semakin menentukan arah ekonomi, industri, dan geopolitik abad ke-21, bagaimana negara-negara lain, termasuk Indonesia, akan mempersiapkan diri agar tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi bagian dari para penciptanya?.