Jiangsu, Bharata Online - Tiongkok telah meluncurkan standar internasional pertamanya mengenai keselamatan AI otomotif, yang secara resmi disetujui untuk memulai proyek oleh Standardization Administration of China (SAC).
Proyek penting ini menandai kali pertama Tiongkok memelopori standar internasional di bidang keselamatan AI otomotif.
Standar ini dipimpin bersama oleh para ahli dari Tiongkok dan Amerika Serikat yang bertindak sebagai pemimpin proyek gabungan, dengan kontribusi pengembangan dari spesialis asal Jerman, Prancis, Jepang, dan negara-negara lainnya.
AI berfungsi sebagai "otak digital" bagi kendaraan cerdas yang saling terhubung (Intelligent Connected Vehicles atau ICV), yang secara langsung menentukan keselamatan operasionalnya. Standar global saat ini mengenai keselamatan AI otomotif hanya mencakup prinsip dan pedoman umum. Standar tersebut belum memiliki aturan implementasi terperinci yang disesuaikan dengan ICV, khususnya untuk skenario mengemudi otonom, sehingga belum memadai dalam menjawab tantangan keselamatan spesifik di industri ini.
Li Bo, Peneliti Senior di China Auto Standardization Research Institute, menyatakan bahwa standar baru ini dirancang untuk menerjemahkan prinsip-prinsip keselamatan yang umum menjadi tolok ukur yang dapat diukur dan langkah-langkah pengamanan praktis untuk mengemudi otonom.
"Tujuan utama standar ini adalah menetapkan indikator keselamatan AI yang bersifat kuantitatif serta langkah-langkah pengendalian risiko komprehensif yang mencakup seluruh proses—mulai dari analisis keselamatan dan validasi pengujian hingga pemantauan operasional. Sebagaimana kita ketahui, salah satu metrik paling krusial untuk mengemudi otonom adalah tingkat kegagalan: tidak boleh lebih dari satu insiden per 10.000 jam operasi. Berdasarkan indikator kuantitatif ini, ketentuan tersebut harus dirinci lebih lanjut dan dialokasikan ke subsistem AI dalam berbagai skenario," ujar Li.
Standar itu secara sistematis menangani tantangan keselamatan di seluruh industri yang ditimbulkan oleh model AI berskala besar (large models), seperti kurangnya kemampuan interpretasi dan ketidakpastian yang melekat pada model tersebut. Standar ini menganalisis mode kegagalan dan mekanisme bahaya di sepanjang siklus hidup sistem, serta menerjemahkan wawasan tersebut menjadi persyaratan konkret untuk arsitektur sistem AI, desain model, keamanan perangkat keras, dan pengembangan kumpulan data (dataset).
Selain itu, standar ini memperkenalkan skema diagnostik AI berlapis dan desain redundansi multidimensi untuk membangun lini pertahanan keselamatan yang tangguh.
"Pengembangan standar ini bertujuan untuk menyediakan pedoman manajemen risiko bagi seluruh siklus hidup keselamatan AI pada kendaraan cerdas yang saling terhubung, mulai dari desain, pengujian, dan pengembangan hingga pemantauan operasional. Standar ini berupaya menangani secara sistematis bahaya keselamatan yang disebabkan oleh kegagalan sistemik dan keluaran kemampuan AI yang tidak memadai, yang dapat muncul dari model sistem AI, data, daya komputasi, algoritma, maupun proses iterasi model," jelas Li.