Bharata Online - Ada sebuah peristiwa yang mungkin terlihat sederhana, tetapi ternyata memiliki makna geopolitik yang cukup besar. Indonesia dan Tiongkok melakukan passing exercise atau latihan pelayaran bersama di perairan sebelah timur Taiwan. Kegiatan ini langsung mendapat perhatian dan kecaman dari Taiwan karena berlangsung di salah satu kawasan paling sensitif di Asia-Pasifik.

Pertanyaannya kemudian, apakah Indonesia sedang berpihak kepada Tiongkok? Apakah latihan ini merupakan bentuk provokasi terhadap Taiwan? Dan mengapa Tiongkok justru memilih wilayah di sebelah timur Taiwan?

Kalau kita melihat persoalan ini secara utuh, jawabannya ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar "Indonesia latihan militer bersama Tiongkok di dekat Taiwan". Pertama, kita harus memahami apa sebenarnya yang dilakukan Indonesia.

TNI Angkatan Laut menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan latihan pelayaran, bukan latihan perang. Dalam kegiatan seperti ini, dua angkatan laut melakukan interaksi maritim berupa komunikasi radio, pengaturan formasi, manuver bersama, hingga simulasi pengisian logistik di tengah laut.

Jadi, tidak tepat jika kegiatan ini langsung dianggap sebagai latihan untuk menyerang Taiwan atau membantu Tiongkok mempersiapkan operasi militer terhadap Taiwan.

Selain itu, konteks perjalanan KRI I Gusti Ngurah Rai-332 juga penting. Kapal tersebut sebelumnya menyelesaikan latihan bersama di Vladivostok, Rusia, kemudian melakukan perjalanan pulang menuju Indonesia. Dalam perjalanan itu, kapal Indonesia melewati kawasan Pasifik Barat, termasuk wilayah sekitar Jepang dan Taiwan.

Yang menarik, Indonesia tidak hanya melakukan kegiatan semacam ini dengan Tiongkok. Sepanjang perjalanan, TNI Aangkatan Laut juga melakukan latihan pelayaran dengan angkatan laut negara lain, termasuk Jepang dan Armada Ketujuh Amerika Serikat.

Artinya, kalau kita hanya melihat satu pertemuan antara kapal Indonesia dan Tiongkok, kita bisa dengan mudah menyimpulkan bahwa Jakarta sedang bergeser ke Beijing. Tetapi jika seluruh perjalanan dilihat secara utuh, maka gambarannya berbeda. Sehingga kita dapat melihat bahwa Indonesia sebenarnya sedang menjalankan prinsip politik luar negeri bebas aktif.

Indonesia dapat bekerja sama dengan Amerika Serikat, Jepang, Australia, Rusia, maupun Tiongkok tanpa harus masuk ke dalam blok militer tertentu. Karena itu, latihan dengan Tiongkok tidak otomatis berarti Indonesia meninggalkan Amerika Serikat atau menjadi sekutu militer Beijing.

Dari sisi hukum laut internasional, persoalannya juga perlu dilihat secara proporsional. Perairan di sebelah timur Taiwan bukan otomatis merupakan wilayah teritorial Taiwan. Kawasan tersebut berkaitan dengan laut lepas dan Zona Ekonomi Eksklusif atau ZEE.

Dalam kerangka UNCLOS 1982, terdapat hak navigasi dan aktivitas damai di wilayah laut di luar laut teritorial. Karena itu, keberadaan kapal perang Indonesia di kawasan tersebut tidak dengan sendirinya merupakan pelanggaran hukum internasional, terutama jika aktivitasnya berupa latihan pelayaran yang bersifat non-tempur.

Namun persoalan menjadi berbeda ketika kita melihatnya dari perspektif Tiongkok. Bagi Beijing, Taiwan bukan sekadar persoalan geografis. Taiwan merupakan bagian dari persoalan kedaulatan nasional yang sangat sensitif. Pemerintah Tiongkok berpegang pada prinsip One China Policy atau “Satu Tiongkok” dan memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayah Tiongkok.

Karena itu, latihan maritim bersama Indonesia di sebelah timur Taiwan memiliki nilai yang lebih besar bagi Beijing. Secara teknis, latihan tersebut meningkatkan kemampuan operasional dan komunikasi antara kedua angkatan laut. Tetapi secara diplomatik, kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa hubungan pertahanan dan maritim Tiongkok dengan negara-negara Asia Tenggara terus berkembang.

Dan disini Indonesia memiliki arti khusus. Indonesia merupakan negara terbesar di Asia Tenggara dan mempunyai posisi penting di Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Karena itu, ketika Indonesia melakukan kerja sama maritim dengan Tiongkok di kawasan yang sangat sensitif, nilai simboliknya tentu jauh lebih besar daripada sekadar dua kapal bertemu di laut.

Bagi Beijing, pesan yang muncul cukup jelas bahwasanya kerja sama dengan Tiongkok tetap dapat dilakukan oleh negara-negara Asia meskipun kawasan sedang berada di tengah persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok.

Dengan kata lain, Tiongkok tidak hanya menggunakan kekuatan militer, tetapi juga diplomasi. Lalu mengapa latihan ini dilakukan di sebelah timur Taiwan? Bukankah Tiongkok mempunyai banyak wilayah laut lain? Di sinilah dimensi geopolitiknya menjadi semakin jelas.

Bagi Indonesia, lokasi tersebut berkaitan dengan jalur perjalanan KRI I Gusti Ngurah Rai-332 dari Rusia menuju Indonesia. Tetapi bagi Tiongkok, lokasi tersebut mempunyai nilai strategis.

Selama ini perhatian dunia banyak tertuju pada Selat Taiwan yang berada di sebelah barat pulau. Padahal, sisi timur Taiwan merupakan bagian dari kawasan Pasifik Barat yang sangat penting secara strategis. Jika terjadi konflik besar di Taiwan, wilayah timur pulau tersebut dapat menjadi jalur penting bagi dukungan eksternal, logistik, maupun operasi maritim.

Karena itu, kemampuan Tiongkok beroperasi di sebelah timur Taiwan memiliki pesan tersendiri. Beijing ingin menunjukkan bahwa kemampuan maritimnya tidak hanya terbatas di sekitar pantai Tiongkok atau Selat Taiwan, tetapi juga mampu menjangkau Pasifik Barat.

Dan ketika kapal Indonesia ikut melakukan kegiatan bersama di wilayah tersebut, nilai simboliknya menjadi semakin besar. Sekali lagi, ini tidak berarti Indonesia sedang membantu Tiongkok mengepung Taiwan. Tidak ada dasar untuk menyimpulkan demikian.

Tetapi bagi Beijing, kegiatan ini memberikan keuntungan diplomatik yaitu Tiongkok dapat menunjukkan bahwa mereka tetap mampu melakukan kerja sama maritim dengan negara besar di Asia Tenggara di kawasan yang sangat sensitif.

Justru karena itulah Taiwan memberikan respons keras. Dari perspektif Taipei, aktivitas tersebut dapat dilihat sebagai provokasi dan bagian dari strategi gray zone atau zona abu-abu, yaitu aktivitas yang berada di bawah ambang konflik terbuka tetapi secara perlahan mengubah kondisi keamanan.

Taiwan khawatir aktivitas seperti ini dapat menormalisasi kehadiran militer Tiongkok di sekitar wilayah mereka, termasuk di sisi timur pulau. Apalagi kegiatan tersebut bertepatan dengan latihan pertahanan tahunan Taiwan. 

Namun menariknya, respons Taiwan terhadap Indonesia dan Tiongkok tidak sepenuhnya sama. Terhadap Beijing, kecaman Taiwan sangat keras. Sementara terhadap Indonesia, Taipei lebih memilih meminta klarifikasi. Ini menunjukkan bahwa Taiwan sendiri memahami bahwa posisi Indonesia berbeda dengan posisi Tiongkok.

Indonesia tidak menyatakan perang terhadap Taiwan. Indonesia juga tidak menyatakan dukungan terhadap operasi militer Tiongkok. Indonesia hanya melakukan latihan pelayaran.

Namun dibalik itu, sebenarnya ada faktor lain yang membuat Jakarta berkepentingan menjaga hubungan baik dengan Taiwan, meskipun Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik formal dengan Taipei. Taiwan merupakan tempat tinggal bagi ratusan ribu pekerja migran Indonesia, yang kini diketahui  mendekati angka 400 ribu jiwa.

Jika konflik benar-benar pecah di Taiwan, ratusan ribu warga Indonesia dapat terkena dampaknya. Karena itu, Indonesia tentu mempunyai kepentingan besar untuk menjaga stabilitas kawasan dan menghindari terseret ke dalam konflik.

Jakarta kemudian memberikan klarifikasi bahwa kegiatan tersebut merupakan latihan pelayaran dan bukan latihan tempur.  Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut juga menegaskan bahwa Indonesia berlaku adil kepada seluruh mitra.

Ini penting karena sepanjang perjalanan pulang dari Rusia, Indonesia juga melakukan interaksi serupa dengan negara lain. Dengan demikian, kegiatan bersama Tiongkok tidak bisa begitu saja dijadikan bukti bahwa Indonesia telah memilih Beijing.

Lalu bagaimana dengan posisi Tiongkok? Beijing tetap mempertahankan pandangannya bahwa Taiwan merupakan bagian dari Tiongkok. Tiongkok juga menilai kegiatan maritim dengan Indonesia sebagai bentuk kerja sama yang sah dan bertujuan meningkatkan kemampuan operasional serta menjaga stabilitas regional. Sementara Taiwan melihatnya sebagai tekanan militer.

Amerika Serikat pun mempunyai perspektif sendiri. Washington melihat peningkatan aktivitas militer Tiongkok di sekitar Taiwan sebagai bagian dari tekanan yang lebih luas terhadap Taipei. Karena itu, Amerika Serikat menyerukan agar Beijing menghindari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan.

Tetapi di sinilah posisi Indonesia kembali menarik. Pada saat yang sama ketika Jakarta melakukan latihan dengan Tiongkok, hubungan pertahanan Indonesia dengan Amerika Serikat tetap berjalan. Indonesia juga tetap memiliki kerja sama dengan Jepang dan Australia. Artinya, Indonesia tidak sedang memilih satu kubu. Indonesia sedang mempertahankan ruang strategisnya sendiri.

Dalam hubungan internasional, pendekatan seperti ini dapat dipahami sebagai upaya mempertahankan strategic autonomy. Indonesia tidak ingin menjadi bagian dari rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok. Indonesia ingin mengambil manfaat dari hubungan dengan keduanya sambil tetap mempertahankan kepentingan nasional.

Dan menurut saya, justru di sinilah makna paling penting dari peristiwa tersebut. Latihan Indonesia-Tiongkok di timur Taiwan bukan sekadar cerita tentang dua kapal perang. Ini merupakan gambaran kecil mengenai perubahan geopolitik Asia.

Tiongkok sedang memperluas pengaruhnya bukan hanya melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui diplomasi, ekonomi, dan kerja sama pertahanan. Indonesia menunjukkan bahwa kerja sama dengan Tiongkok tidak harus berarti masuk ke dalam blok Beijing.

Taiwan berusaha mempertahankan keamanan dan status quo. Sementara Amerika Serikat berusaha menjaga keseimbangan kekuatan di Asia-Pasifik. Keempat kepentingan tersebut akhirnya bertemu di satu kawasan.

Dan menariknya, Indonesia berada di posisi yang sangat strategis. Indonesia tidak memiliki kepentingan untuk terlibat dalam konflik Taiwan. Tetapi Indonesia juga tidak mempunyai alasan untuk memutus hubungan dengan Tiongkok.

Tiongkok merupakan salah satu mitra penting Indonesia dalam perdagangan, investasi, dan berbagai kerja sama strategis. Pada saat yang sama, Amerika Serikat, Jepang, Australia dan negara-negara lain juga mempunyai peran penting bagi kepentingan Indonesia.

Karena itu, kebijakan yang paling rasional bagi Jakarta adalah mempertahankan hubungan dengan semua pihak. Indonesia dapat berlayar bersama Tiongkok, dapat berlatih dengan Amerika Serikat, dapat bekerja sama dengan Jepang, dan tetap dapat mempertahankan hubungan baik dengan Australia serta negara lainnya.

Inilah esensi politik bebas aktif. Bebas bukan berarti pasif dan aktif bukan berarti harus menjadi bagian dari salah satu blok. Justru dalam dunia yang semakin multipolar, kemampuan mempertahankan kebebasan strategis menjadi semakin penting.

Sementara bagi Tiongkok, latihan ini menunjukkan sesuatu yang tidak kalah penting. Beijing tidak selalu harus menggunakan tekanan militer untuk memperlihatkan pengaruhnya. Kerja sama maritim dengan Indonesia saja sudah dapat menghasilkan pesan diplomatik yang besar.

Tanpa satu pun rudal ditembakkan, tanpa operasi tempur, dan tanpa aliansi militer formal, dunia tetap memperhatikannya. Dan mungkin inilah yang membuat latihan tersebut menjadi sangat menarik. Secara teknis, kegiatan itu sederhana tetapi secara geopolitik, pesannya jauh lebih besar.

Tiongkok menunjukkan bahwa mereka semakin percaya diri beroperasi di Pasifik Barat. Indonesia menunjukkan bahwa mereka tidak takut membangun hubungan dengan Beijing. Taiwan menunjukkan bahwa mereka akan terus mengawasi setiap aktivitas militer Tiongkok di sekitar pulau. Dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa mereka tetap mempunyai kepentingan besar terhadap stabilitas kawasan.

Jadi, apakah Indonesia sudah berpihak kepada Tiongkok? Jawabannya belum. Tidak ada bukti bahwa latihan tersebut mengubah Indonesia menjadi sekutu militer Beijing. Apakah Indonesia sedang membantu Tiongkok mempersiapkan perang terhadap Taiwan? Tidak ada bukti yang mendukung kesimpulan tersebut.

Apakah Tiongkok mendapatkan keuntungan dari latihan tersebut? Secara diplomatik dan simbolik, jelas ada keuntungan. Dan apakah Taiwan mempunyai alasan untuk merasa khawatir? Dari perspektif keamanan mereka, tentu saja ada. Tetapi kekhawatiran Taiwan tidak otomatis membuat kegiatan Indonesia dan Tiongkok di selat Taiwan menjadi ilegal atau agresif.

Karena pada akhirnya, satu kegiatan dapat mempunyai makna berbeda bagi setiap pihak. Bagi Indonesia, ini adalah diplomasi maritim dan persaudaraan angkatan laut. Bagi Tiongkok, ini adalah kerja sama strategis sekaligus sinyal bahwa pengaruh mereka semakin luas.

Bagi Taiwan, ini adalah tanda bahwa aktivitas militer Beijing semakin dekat dengan lingkungan keamanan mereka. Dan bagi Amerika Serikat, ini merupakan bagian lain dari perubahan keseimbangan kekuatan di Asia-Pasifik.

Karena itu, kita seharusnya tidak melihat peristiwa ini hanya sebagai "Indonesia latihan militer dengan Tiongkok di dekat Taiwan". Yang sedang terjadi sebenarnya jauh lebih besar. Ini adalah gambaran mengenai bagaimana Asia sedang bergerak menuju tatanan yang semakin multipolar.

Tiongkok semakin aktif dan Amerika Serikat tetap kuat. Taiwan semakin memperkuat pertahanannya dan Indonesia semakin berusaha memainkan peran sebagai negara yang memiliki pilihan strategis sendiri. 

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah apakah Indonesia memilih Beijing atau Washington? Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, seberapa mampu Indonesia mempertahankan kebebasan strategisnya ketika dua kekuatan besar sedang berebut pengaruh di kawasan?

Dan dari peristiwa latihan maritim Indonesia-Tiongkok di sebelah timur Taiwan, satu hal setidaknya terlihat cukup jelas. Indonesia masih berusaha menentukan jalannya sendiri. Sementara Tiongkok menunjukkan bahwa pengaruh geopolitik tidak selalu harus dibangun melalui konflik.

Kadang-kadang, cukup dengan membangun kerja sama, memperluas kehadiran, dan membuat negara-negara lain merasa bahwa bekerja sama dengan Tiongkok tetap menguntungkan. Dan mungkin, justru itulah pesan terbesar dari latihan ini. 

Oleh karena itu, latihan ini bukanlah perang dan bukan pula aliansi. Tetapi sebuah sinyal bahwa keseimbangan kekuatan di Asia sedang berubah, dan Tiongkok semakin percaya diri memainkan perannya di dalam perubahan tersebut.