Beijing, Bharata Online - Pertandingan sepak bola pada ajang World Humanoid Robot Games kedua mendatang akan menampilkan lapangan permainan yang lebih luas dan partisipasi tim yang lebih beragam, memberikan kesempatan bagi para atlet robot dan operatornya untuk menunjukkan kemajuan teknologi sejak tahun lalu.
Babak kualifikasi untuk pertandingan ini telah dimulai di Beijing pada 11 Agustus 2026, sekaligus berfungsi sebagai uji coba teknis bagi penyelenggaraan acara tersebut.
Diselenggarakan bersama oleh pemerintah kota Beijing dan China Media Group (CMG), World Humanoid Robot Games merupakan kompetisi multi-cabang olahraga pertama di dunia yang khusus menampilkan robot humanoid. Sebanyak 280 tim dari 16 negara berkompetisi dalam edisi perdana acara ini pada tahun 2025 dengan melibatkan lebih dari 500 robot.
World Humanoid Robot Games ke-2 akan dibuka di Beijing pada 22 Agustus 2026. Acara tahun ini mencakup dua cabang olahraga bola utama: sepak bola dan tenis meja.
Kompetisi sepak bola untuk kategori robot berukuran sedang telah ditingkatkan dari format 3 lawan 3 pada pertandingan sebelumnya menjadi 5 lawan 5 pada acara tahun ini, dengan ukuran lapangan yang hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan lapangan yang digunakan pada tahun 2025. Area yang lebih luas ini menghadirkan tantangan lebih besar bagi kemampuan persepsi visual dan penentuan posisi spasial robot.
Berdasarkan peraturan, tim robot yang bertanding harus beroperasi secara otonom, tanpa kendali manusia. Dengan diperluasnya lapangan, jangkauan pemindaian efektif robot menjadi berkurang; hal ini, ditambah dengan persaingan yang lebih ketat, meningkatkan kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam pencatatan lintasan gerak robot.
Robot-robot tersebut diprogram untuk sesekali menolehkan kepala, sebuah tindakan yang berfungsi untuk memindai, menentukan lokasi, dan mengeluarkan perintah. Beberapa tim peserta memilih untuk meningkatkan frekuensi gerakan menoleh kepala robot guna meningkatkan akurasi penilaian mereka.
"Saat robot mencetak gol atau melakukan tendangan gawang, serta tendangan bebas tidak langsung maupun langsung, robot akan menolehkan kepala untuk mencari kembali titik-titik acuan (feature points); inilah peningkatan yang kami lakukan tahun ini. Dengan kata lain, robot menggunakan 'penentuan posisi lunak' (soft positioning) tahap kedua untuk mengoreksi posisinya," ujar Cheng Junming, Peserta dari Beijing Information Science and Technology University.
Postur robot dalam pertandingan ini lebih menyerupai manusia, yang mencerminkan terobosan baru baik dari segi daya saing maupun nilai hiburan.
"Dengan menerapkan reinforcement learning pada komputer, kami dapat melatih cara robot bergerak membawa bola, dan robot akan mengembangkan posisi pergelangan kaki yang mengarah ke luar saat melakukan dribbling. Kami juga menggunakan kamera kedalaman untuk mendeteksi posisi bola serta membangun sistem koordinat relatif bagi bola di dalam 'otak' robot, sehingga robot dapat bermain layaknya manusia," ujar Cheng.