Tiongkok, Bharata Online - Produksi batu bara mentah Tiongkok merosot pada bulan Juli tahun ini seiring langkah negara tersebut meningkatkan pasokan energi bersih melalui transisi hijau yang lebih cepat.
Data dari Asosiasi Batu Bara Nasional Tiongkok (China National Coal Association/CNCA) menunjukkan bahwa pada bulan Juli 2026, produksi batu bara dari perusahaan-perusahaan berskala besar (di atas ambang batas tertentu) mencapai 340 juta ton, turun 10,1 persen secara tahunan, dengan rata-rata produksi harian sebesar 11,07 juta ton.
Menurut asosiasi tersebut, selama periode Januari hingga Juli 2026, Tiongkok memproduksi 2,7 miliar ton batu bara mentah, turun 2,9 persen secara tahunan.
Sementara itu, pengembangan berbagai jenis energi bersih di negara ini terus dipercepat; tenaga air secara konsisten berkontribusi pada jaringan listrik, instalasi energi baru seperti tenaga angin dan fotovoltaik (PV) terus bertambah, struktur produksi energi terus dioptimalkan, dan pembangkitan listrik dari berbagai sumber energi bersih terus meningkat, sehingga secara efektif memenuhi kebutuhan listrik seluruh masyarakat. Hasil dari transisi energi hijau ini pun terus terlihat nyata.
Data resmi menunjukkan bahwa pada akhir Juli 2026, kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga surya (PV) Tiongkok mencapai 1,286 miliar kilowatt, sedikit melampaui kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara yang sebesar 1,285 miliar kilowatt.
Tiongkok menargetkan pembentukan sistem industri batu bara modern pada tahun 2030 dalam upaya menyeimbangkan ketahanan energi dengan transisi hijau, sebagaimana tercantum dalam rencana pembangunan yang dirilis bulan lalu.
Rencana yang diterbitkan oleh Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional serta Administrasi Energi Nasional tersebut menyatakan bahwa Tiongkok akan mempercepat optimalisasi dan peningkatan struktur industri batu baranya selama periode Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030), seiring dengan perkiraan bahwa konsumsi batu bara negara tersebut akan mencapai puncaknya.