Kuala Lumpur, Bharata Online - Seorang analis kebijakan senior menyatakan bahwa dominasi Tiongkok dalam manufaktur ramah lingkungan tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan harus dimanfaatkan di tingkat global guna mempercepat transisi energi hijau.
John Pang, seorang peneliti senior di Belt and Road Initiative Caucus for Asia Pacific, menyampaikan hal tersebut dalam wawancara dengan China Global Television Network (CGTN) menjelang Pertemuan Menteri Energi APEC ke-16, yang akan diselenggarakan di Beijing pada hari Kamis (10/9) dan Jumat (11/9).
Pertemuan tingkat tinggi itu menghadirkan para pejabat energi dari seluruh kawasan Asia-Pasifik untuk memajukan kerja sama energi bersih di tingkat regional.
Pang menepis anggapan mengenai narasi sebagian pihak yang mengklaim Tiongkok memproduksi teknologi hijau jauh melampaui kebutuhan dunia alias "kelebihan kapasitas" (overcapacity), dengan berargumen bahwa negara tersebut justru menyediakan apa yang dibutuhkan dunia di tengah perubahan signifikan dalam sektor energi.
"Sebagai contoh, kita tidak sedang menghadapi 'kelebihan kapasitas' global dalam energi hijau. Justru, apa yang disebut sebagai 'kelebihan kapasitas' Tiongkok atau lebih tepatnya peningkatan skala produksi teknologi hijau dan energi terbarukan, memberikan dampak positif yang luar biasa. Hal ini memfasilitasi dan membuka peluang bagi pihak lain," ujar Pang.
Di tengah dunia yang kian terpecah, Pang juga berpendapat bahwa perdebatan mengenai kapasitas manufaktur Tiongkok terlalu berfokus pada neraca perdagangan, padahal seharusnya fokus diarahkan pada pembangunan infrastruktur bersama dan penciptaan solusi bersama untuk memajukan transisi hijau.
"Jadi, isu yang harus kita tangani adalah kenyataan bahwa transisi hijau berlangsung bersamaan dengan fragmentasi ekonomi global yang semakin meningkat. Kita tidak boleh membiarkan fragmentasi ini menghambat pertumbuhan tersebut, setidaknya tidak di Asia. Pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat bekerja sama agar kapasitas produksi dan kemampuan manufaktur Tiongkok yang luar biasa itu dapat dimanfaatkan di tingkat global. Seperti yang saya katakan sebelumnya, ini bukan sekadar soal membeli panel surya dari Tiongkok. Kita perlu melampaui narasi tersebut dan mempertimbangkan bagaimana penyelarasan kebijakan, konektivitas infrastruktur, dan kerja sama teknologi, di tingkat integrasi regional, dapat memajukan transisi hijau serta mewujudkan industrialisasi ramah lingkungan bagi semua pihak," jelasnya.
Pertemuan tingkat menteri yang berfokus pada isu energi itu berlangsung saat Tiongkok tengah bersiap menyambut Pertemuan Pemimpin APEC pada bulan November 2026 di kota Shenzhen, wilayah selatan Tiongkok. Pertemuan tahun ini mengusung tema "Membangun Komunitas Asia-Pasifik untuk Kemakmuran Bersama" dan menandai kali ketiga Tiongkok menjadi tuan rumah APEC, setelah tahun 2001 dan 2014.