Shenzhen, Bharata Online - Perusahaan-perusahaan teknologi di kota megapolitan Shenzhen, Provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan, tengah memanfaatkan berbagai penggerak baru, seperti kecerdasan buatan (AI), robotika, dan kecerdasan terwujud (embodied intelligence), untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan kawasan Asia-Pasifik.
Langkah ini dilakukan seiring persiapan kota tersebut menjadi tuan rumah Pertemuan Pemimpin Ekonomi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) ke-33. Hari Senin (10/8) menandai dimulainya hitung mundur 100 hari menuju acara tersebut. Pertemuan yang akan berlangsung pada 18-19 November 2026 ini mengusung tema "Keterbukaan, Inovasi, dan Kerja Sama", serta menandai kali ketiga Tiongkok menjadi tuan rumah pertemuan APEC.
Mengingat reputasi Shenzhen sebagai pusat utama inovasi sains dan teknologi, sejumlah perusahaan yang berbasis di kota ini bersemangat untuk memamerkan potensi mereka dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Salah satunya adalah perusahaan yang bergerak di bidang kecerdasan terwujud, X Square Robot, yang bertujuan mengembangkan robot serbaguna yang mampu memecahkan masalah dunia nyata dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Perusahaan tersebut telah terpilih untuk sebuah proyek percontohan nasional di bidang perawatan lansia dan akan menerapkan teknologinya dalam lingkungan panti jompo.
"Kami terpilih untuk menjalankan proyek dari Kementerian Urusan Sipil serta Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi. Melalui proyek ini, kami mengintegrasikan teknologi kami ke dalam situasi nyata di panti jompo. Panti jompo merupakan lingkungan yang sangat kompleks dan dinamis, dengan tuntutan tinggi terkait interaksi manusia-mesin serta aspek keselamatan. Kami adalah satu-satunya perusahaan kecerdasan terwujud yang terpilih untuk proyek ini," ujar Xu Menghong, Direktur Strategi dan Investasi X Square Robot.
Perusahaan lain, SmartMore, berupaya melengkapi perusahaan manufaktur global dengan "otak" berbasis AI. Model IndustryGPT mereka dirancang agar mesin tidak sekadar mampu "melihat", tetapi juga memahami, menalar, dan mengambil tindakan.
Shi Xiaoliang, Direktur Penelitian dan Pengembangan Produk perusahaan tersebut, mengatakan bahwa tujuannya adalah membuat AI lebih mudah diakses sehingga semakin banyak perusahaan dapat memperoleh manfaat dari penerapannya.
"Baik model bahasa berskala besar (large language models) maupun agen AI yang didukung oleh model tersebut—serta produk-produk lainnya—akan menjadi semakin mudah digunakan dengan hambatan akses yang lebih rendah. Hal ini memungkinkan perusahaan yang saat ini kesulitan mengakses kapabilitas AI industri untuk memperolehnya dengan sangat mudah," jelas Shi.
Ia menambahkan bahwa perusahaan tersebut telah melayani lebih dari 730 perusahaan terkemuka di seluruh dunia, dengan pelanggan yang tersebar di kawasan Asia-Pasifik.