Beijing, Bharata Online - Nilai sejati dari kerja sama antarnegara BRICS dapat dilihat dari tingkat partisipasi kaum muda yang memiliki kesempatan untuk bepergian, belajar, dan menimba pengalaman dari negara-negara anggota lainnya, menurut seorang mahasiswa asal Rusia yang sedang menempuh studi di Beijing.
BRICS, sebuah kelompok pasar berkembang yang awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, secara resmi diluncurkan pada tahun 2009 dan kini memiliki 11 anggota resmi setelah perluasan terbarunya.
Pada tahun 2025, sepuluh negara mitra, termasuk Belarus, Bolivia, Kuba, Kazakhstan, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, Uzbekistan, dan Vietnam, bergabung dengan BRICS.
KTT BRICS ke-18 dijadwalkan berlangsung di New Delhi, India, pada tanggal 12-13 September 2026, yang akan mempertemukan para pemimpin dari negara anggota dan mitra BRICS, serta undangan khusus lainnya.
Anna Yuschenko, seorang mahasiswa di Universitas Tsinghua yang bergengsi di ibu kota Tiongkok, berbagi pandangannya mengenai peluang pertukaran yang ia peroleh berkat BRICS. Kesempatan ini memungkinkannya untuk bepergian ke Brasil dan berpartisipasi dalam sebuah proyek yang berfokus pada pengentasan kemiskinan serta pembangunan lokal.
Dalam wawancara dengan China Global Television Network (CGTN), Yuschenko menyatakan bahwa pengalamannya melintasi batas negara—antara Rusia, Tiongkok, dan Brasil, memberikan wawasan nyata mengenai makna kerja sama BRICS di luar lingkup pertemuan resmi dan inisiatif ekonomi berskala besar.
"Tiongkok menyediakan kesempatan pendidikan tersebut. Saya berkontribusi sebagai peserta dari Rusia, sementara mitra kami dari Brasil berbagi pengetahuan dan pengalaman lokal mereka. Proyek ini mengajarkan saya bahwa kemiskinan tidak dapat diatasi melalui diskusi abstrak atau dengan asumsi bahwa pihak luar sudah mengetahui solusinya. Kita perlu mendengarkan masyarakat setempat terlebih dahulu, memahami kebutuhan nyata mereka, lalu bekerja sama. Pengalaman ini membuat kerja sama BRICS terasa jauh lebih personal bagi saya. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antarnegara tidak terbatas pada pertemuan para pemimpin politik; hubungan ini juga dapat menciptakan peluang bagi para mahasiswa untuk melintasi batas negara, bertukar pengetahuan, dan berkontribusi kepada masyarakat," ujarnya.
Yuschenko juga meyakini bahwa BRICS dapat memberikan suara yang lebih kuat bagi negara-negara Global South, serta menekankan pentingnya menciptakan wadah untuk pertukaran lebih lanjut yang mampu memupuk hubungan antarmanusia yang nyata dan memungkinkan terjadinya pembelajaran bersama.
"Perjalanan saya dari Rusia ke Tiongkok, lalu ke Brasil, memperlihatkan kepada saya bagaimana pendidikan dapat menghubungkan masyarakat negara-negara BRICS dan mengubah gagasan tentang saling mendukung menjadi pengalaman pribadi. Menyongsong masa keketuaan BRICS oleh Tiongkok pada tahun 2027, saya berharap tahap kerja sama berikutnya akan menjadi lebih nyata dan dapat diakses oleh kaum muda. Kita sering mendengar tentang deklarasi KTT dan proyek-proyek ekonomi berskala besar, namun para mahasiswa juga membutuhkan kesempatan yang jelas untuk berpartisipasi," ungkapnya.
"Pertama, saya ingin melihat adanya program mobilitas mahasiswa BRICS yang menyediakan beasiswa serta mempermudah pengakuan kredit akademik antaruniversitas. Seorang mahasiswa seharusnya dapat menjalani satu semester di negara anggota BRICS lainnya tanpa terhambat oleh kendala akademik maupun administratif yang tidak perlu. Kedua, BRICS dapat membentuk tim internasional yang berfokus pada inovasi dan kepemudaan. Mahasiswa dari berbagai negara anggota dapat bekerja sama dalam menangani tantangan nyata, termasuk kecerdasan buatan, adaptasi iklim, kesehatan masyarakat, dan kota berkelanjutan. Proyek-proyek terbaik dapat memperoleh dana hibah, bimbingan profesional, serta kesempatan magang di universitas, perusahaan, atau New Development Bank. Ketiga, pembelajaran bahasa dan pertukaran budaya sebaiknya dibuat lebih praktis dan terjangkau. Program singkat serta platform digital dapat memungkinkan mahasiswa yang berada di luar kota-kota besar untuk berkomunikasi dengan rekan-rekan mereka dan mempelajari lebih jauh tentang masyarakat negara-negara BRICS lainnya," jelasnya.
Tema KTT BRICS mendatang di India adalah "Membangun Ketahanan, Inovasi, Kerja Sama, dan Keberlanjutan". Dengan menyoroti pentingnya topik-topik tersebut secara global, Yuschenko berharap BRICS akan terus menempatkan kaum muda sebagai pusat dari berbagai inisiatif di masa depan.
Ia lebih lanjut memaparkan pandangannya bahwa BRICS sebaiknya menjadi sebuah jaringan yang terbuka bagi siapa saja untuk bergabung, berkontribusi, dan turut membentuk arah perkembangannya.