Bharata Online - Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Feng Jiandong dari Universitas Zhejiang, dan Zhao Weisong dari Institut Teknologi Harbin, telah mengembangkan teknik pencitraan resolusi tinggi yang inovatif, untuk menghasilkan gambar sel hidup menggunakan cahaya pendar (luminesens) yang dipancarkan oleh sel itu sendiri.

Pendekatan berbasis kimia ini menawarkan cara baru untuk mengamati sel hidup, dengan menggunakan durasi pencitraan yang sangat lama, tanpa merusak sampel sel yang sedang dipotret.

Hampir semua instrumen mikroskopi dan analisis modern, menggunakan urutan deteksi dasar yang mengandalkan pencahayaan eksternal.  Mikroskop fluoresensi menggunakan sinar laser untuk mengeksitasi molekul fluoresen; mikroskop elektron menggunakan berkas elektron berenergi tinggi untuk menampilkan struktur halus; dan spektrometer inframerah, menggunakan radiasi inframerah untuk mengidentifikasi ikatan kimia.

Selama lebih dari satu abad, teknologi-teknologi ini telah memungkinkan para ilmuwan untuk mengungkap dunia mikroskopis, yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia.

Namun, penggunaan eksitasi cahaya eksternal memiliki dampak negatif. Energi yang digunakan untuk menerangi struktur biologis mikroskopis, dapat mengubah atau merusak sampel yang sedang dipotret—hal yang sangat krusial dalam studi sel hidup.

Para peneliti ingin mengetahui, apakah cahaya yang dihasilkan secara alami oleh reaksi kimia internal sel dapat digunakan untuk pencitraan, tanpa menyebabkan kerusakan sel. Dan ini merupakan tantangan yang sangat berat.

Pada mikroskopi fluoresensi konvensional, gambar molekul fluoresen dapat ditangkap setelah penyinaran laser selama 12 menit. "Namun, peningkatan daya laser dapat menyebabkan kerusakan permanen pada sel," ujar Zhu Wenxin, peneliti pascadoktoral di Universitas Zhejiang, sekaligus penulis utama makalah, yang menjelaskan teknik pencitraan baru tersebut.

Metode alternatif yang dikembangkan tim ini selama bertahun-tahun, justru mengekstrak informasi struktural beresolusi tinggi, dari cahaya redup yang dihasilkan di dalam sel, tanpa menimbulkan kerusakan akibat pencahayaan eksternal.

Terobosan ini dapat dicapai berkat kolaborasi lintas disiplin ilmu yang memadukan kimia, optik, biologi, dan ilmu komputasi.  (Sumber: China Daily)