Beijing, Bharata Online - Buku Putih Pertahanan terbaru Jepang membesar-besarkan apa yang disebut sebagai "ancaman Tiongkok" sebagai dalih untuk melakukan ekspansi militer terbesar sejak Perang Dunia II dan meninggalkan kebijakan lama yang berorientasi semata-mata pada pertahanan, kata seorang analis Tiongkok pada hari Kamis (6/8).
Buku putih tahun ini dirilis pada hari Selasa (4/8). Dokumen tersebut terus menggunakan narasi keamanan yang sama dengan yang tercantum dalam Strategi Keamanan Nasional Jepang tahun 2022, yang mengidentifikasi Tiongkok sebagai tantangan strategis terbesarnya.
Dalam wawancara dengan China Global Television Network (CGTN), Xu Yongzhi, seorang peneliti rekanan di China Institutes of Contemporary International Relations, mencatat bahwa dokumen tersebut meletakkan dasar bagi revisi tiga dokumen keamanan utama Jepang akhir tahun ini serta percepatan pembangunan kekuatan militernya.
"Dengan posisi seperti ini, Jepang tak ubahnya seperti pencuri yang berteriak 'tangkap pencuri itu'. Pada tahun 2026, mereka berencana merevisi kembali tiga dokumen keamanan utamanya. Seperti yang kita ketahui, hampir pasti Jepang akan semakin meningkatkan anggaran pertahanannya dan memperkuat kemampuan militernya di bidang-bidang baru," ujar Xu.
Pakar tersebut menunjukkan bahwa perubahan penting dalam buku putih tahun ini adalah Jepang memberikan rincian lebih lanjut mengenai pengerahan dan pengembangan senjata ofensif, serta menyertakan bagian baru yang membahas penerapan kecerdasan buatan (AI) dan sistem nirawak untuk kepentingan militer.
"Jepang bertujuan mengirimkan tiga sinyal kepada dunia luar. Pertama, senjata ofensifnya akan mencapai kemampuan operasional dalam kurun waktu yang relatif singkat, yakni dua atau tiga tahun ke depan. Kedua, skala kemampuan tersebut cukup besar. Ketiga, Jepang menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menggunakan senjata-senjata semacam itu," ujarnya.
Xu menambahkan bahwa langkah-langkah terbaru Jepang sangat erat kaitannya dengan aliansinya bersama Amerika Serikat.
"Salah satu ciri utama strategi keamanan nasional dan strategi pertahanan nasional AS adalah harapan Amerika Serikat agar sekutunya memikul tanggung jawab yang lebih besar—atau bahkan tanggung jawab utama—dalam melakukan intervensi terhadap urusan regional. Tindakan Jepang sebenarnya sejalan dengan strategi ini," katanya.