Plateau State, Bharata Online - Kebijakan tarif nol persen Tiongkok, yang diberlakukan pada bulan Mei 2026, telah membuka akses bebas bea masuk ke pasar ekonomi terbesar kedua di dunia bagi para petani dan pelaku industri Nigeria.

Bagi produsen minyak terbesar di Afrika ini, kebijakan tersebut menawarkan peluang emas untuk mempercepat diversifikasi ekonomi di luar ekspor minyak mentah.

Kini, sebuah perubahan besar dalam pola perdagangan tengah berlangsung. Dengan memangkas tarif impor produk pertanian seperti biji kopi, Tiongkok telah menjadikan pasarnya yang menguntungkan sebagai sasaran utama bagi agribisnis Nigeria; terobosan kebijakan ini menjanjikan dampak luas yang melampaui sekadar sektor perkebunan kopi.

"Kopi merupakan komoditas unggulan Ethiopia, dan jika kita dapat mengembangkannya di sini, di Negara Bagian Plateau, hal itu tentu akan membantu pembangunan ekonomi negara bagian ini serta Nigeria secara keseluruhan," ujar Dauda Gashi, Direktur Eksekutif Kamar Dagang, Industri, Pertambangan, dan Pertanian Negara Bagian Plateau.

Kebijakan tarif nol persen Tiongkok mencakup 53 negara Afrika, dengan Nigeria menonjol sebagai mitra dagang yang sangat penting. Nilai perdagangan bilateral antara Tiongkok dan Nigeria diperkirakan mencapai sekitar 20 miliar dolar AS (sekitar 356 triliun rupiah), menjadikan Nigeria mitra dagang terbesar kedua bagi Tiongkok di Afrika setelah Afrika Selatan. Dari total tersebut, nilai ekspor Tiongkok ke Nigeria berkisar antara 13 hingga 16 miliar dolar AS (232 hingga 285 triliun rupiah), sementara ekspor Nigeria ke Tiongkok mencapai sekitar 2 miliar dolar.

Defisit perdagangan yang sangat besar tersebut mencerminkan peluang luar biasa yang belum tergarap. Para analis menyatakan bahwa akses bebas bea masuk ini merupakan kesempatan bagi Nigeria untuk menyeimbangkan neraca perdagangan dengan meningkatkan nilai ekspor non-migas secara agresif. Namun, hambatan struktural yang parah—terutama pemadaman listrik kronis dan masalah keamanan di wilayah pedesaan—masih terus menghambat industri lokal.

"Dalam rantai nilai pertanian, kami menghadapi tantangan khusus terkait fasilitas penyimpanan berpendingin (cold storage). Salah satu kendala yang telah kami hadapi selama beberapa dekade adalah bagaimana mengurangi kerugian pascapanen akibat kapasitas penyimpanan yang tidak memadai. Kami juga ingin mengembangkan budidaya pakan ternak ruminansia; terdapat peluang besar yang menanti di seluruh penjuru negeri ini," kata Caleb Manasseh Mutfwang, Gubernur Negara Bagian Plateau.

Pemerintah federal telah menegaskan komitmennya untuk membuka investasi penting yang bertujuan menstabilkan jaringan listrik nasional dan mengamankan pusat-pusat pertanian utama, dengan Tiongkok turut memberikan dukungan untuk melengkapi upaya-upaya tersebut.

"Kami meyakini bahwa sektor energi sangat fundamental bagi industrialisasi, dan Tiongkok merupakan pemain utama dalam energi terbarukan—baik tenaga surya, tenaga angin, nuklir, maupun tenaga air, sehingga kami akan menjajaki potensi kerja sama di bidang infrastruktur. Bagi Nigeria, salah satu tantangannya adalah masalah keamanan; tentu saja terdapat banyak investasi serta warga negara Tiongkok di sini, itulah sebabnya pemerintah Tiongkok sangat mengutamakan perlindungan warganya di luar negeri," ujar Yu Dunhai, Duta Besar Tiongkok untuk Nigeria.

Jika berhasil, langkah-langkah ini dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar menyeimbangkan kembali jalur perdagangan. Langkah-langkah tersebut diproyeksikan akan memicu lonjakan ekspor yang mampu mendorong penciptaan lapangan kerja secara masif di seluruh penjuru negeri.