Hong Kong, Bharata Online - Hong Kong Observatory (Observatorium Hong Kong) sedang meningkatkan kemampuan prakiraan topan musim ini dengan mengintegrasikan model cuaca berbasis kecerdasan buatan (AI) yang canggih. Langkah ini bertujuan untuk memprediksi jalur badai dengan lebih akurat di tengah perkiraan peningkatan jumlah siklon tropis akibat fenomena El Nino.

Di tengah musim topan yang sibuk, Hong Kong diperkirakan akan dilanda hingga tujuh siklon tropis hingga bulan Oktober 2026. Para ahli meteorologi memperingatkan bahwa beberapa di antaranya dapat meningkat menjadi super topan akibat pengaruh El Nino. Untuk memprediksi jalur badai dengan lebih baik, Hong Kong Observatory mulai memanfaatkan model cuaca AI, meskipun peran ahli meteorologi berpengalaman tetap krusial dalam menafsirkan data tersebut.

Selama lebih dari 140 tahun, observatorium yang berkantor pusat di Kowloon ini telah menjadi sumber tepercaya bagi warga kota untuk mendapatkan informasi cuaca terkini, termasuk peringatan dini topan. Salah satu ahli prakiraan cuaca utama, Kwok Yu-ting, menjelaskan bagaimana teknologi AI kini mendukung pekerjaan mereka.

"Model AI cukup andal dalam memprediksi jalur siklon tropis untuk jangka waktu dekat, yakni sekitar tiga hingga lima hari ke depan," ujar Kwok.

Model-model AI ini dilatih menggunakan data historis cuaca selama sekitar 40 tahun dan mampu memberikan prediksi lebih cepat dibandingkan model konvensional berbasis fisika, yang mengandalkan komputer untuk memecahkan persamaan matematika yang rumit. Observatorium ini menggunakan model AI yang dikembangkan di Tiongkok, Eropa, dan Amerika Serikat.

Teknologi internasional itu membantu para ahli mendeteksi pembentukan Topan Noul bulan lalu lebih awal dibandingkan metode konvensional, sehingga memungkinkan persiapan lebih dini sebelum badai tiba dan memicu dikeluarkannya sinyal peringatan tingkat dua tertinggi.

Namun, menentukan lokasi pasti tempat badai akan mencapai daratan (landfall) masih memerlukan kombinasi antara AI dan teknik prakiraan konvensional. Para ilmuwan juga memperingatkan bahwa perubahan iklim berkontribusi pada terbentuknya topan yang lebih kuat, sehingga menimbulkan tantangan bagi prediksi AI yang dilatih menggunakan data masa lalu.

"Model AI umumnya cenderung meremehkan intensitas siklon tropis yang lebih kuat. Jadi, untuk kasus-kasus ekstrem—terutama di tengah kondisi perubahan iklim—kemampuan model AI dalam memprediksi peristiwa ekstrem semacam itu belum terverifikasi sepenuhnya," kata Kwok.

Saat Hong Kong bersiap menghadapi lebih banyak topan tahun ini—di samping perkiraan gelombang panas dan curah hujan tinggi akibat El Nino—prediksi yang cepat dan akurat menjadi sangat penting.

"Jika besok ada topan atau badai akan datang dalam waktu seminggu, saya bisa membuat rencana yang sesuai. Sebagai seorang pebisnis, saya bisa mengatur jadwal perjalanan dan pertemuan saya," ujar Mohammad Fahim, seorang warga setempat.

Meskipun prakiraan berbasis AI menjanjikan peningkatan peringatan badai dan pengurangan dampak cuaca ekstrem, para ahli meteorologi di observatorium tersebut terus menekankan peran krusial penilaian manusia dalam menafsirkan temuan AI serta menilai tingkat keandalannya.

Observatorium Hong Kong terus memadukan teknologi canggih dengan analisis ahli demi melindungi kota ini di tengah musim topan yang kondisinya kian tidak menentu.