Beijing, Bharata Online - Norwegia berpartisipasi dalam China International Fair for Trade in Services (CIFTIS) 2026 yang resmi dibuka pada hari Rabu (9/9) di Beijing sebagai negara tamu kehormatan, dengan menghadirkan partisipasi terbesar mereka dalam acara tersebut.

Vebjorn Dysvik, Duta Besar Norwegia untuk Tiongkok, mengatakan bahwa meningkatnya jumlah peserta pameran asal Norwegia mencerminkan semakin kuatnya kepercayaan Norwegia terhadap pasar jasa Tiongkok.

"Kami hadir di sini selama 10 tahun berturut-turut dan kami sangat beruntung menjadi negara tamu kehormatan tahun ini. Kami kembali dengan paviliun terbesar dan jumlah perusahaan terbanyak yang pernah kami bawa ke CIFTIS. Menurut saya, alasan di balik rekor partisipasi sepuluh tahun ini serta rekor jumlah perusahaan saat ini adalah karena CIFTIS memainkan peran sangat penting dalam mendorong perdagangan jasa antarnegara kita. Kami menghadirkan perusahaan-perusahaan dari berbagai sektor yang penting bagi kami, seperti industri kelautan dan maritim, kesehatan dan nutrisi, serta teknologi dan energi ramah lingkungan. Namun kali ini, kami juga melibatkan pelaku seni dan desain, yang merupakan hal baru tahun ini," ujarnya.

Berlangsung hingga 13 September 2026 di Shougang Park—bekas kawasan industri yang juga menjadi lokasi penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022—pameran ini menarik partisipan dari 90 negara, wilayah, dan organisasi internasional, dengan lebih dari 1.800 perusahaan yang memamerkan produk dan layanan mereka secara langsung di lokasi. Di antara peserta tersebut terdapat 473 perusahaan yang masuk dalam daftar Fortune Global 500 serta para pemimpin industri lainnya.

Menurut Dysvik, paviliun Norwegia menyoroti sifat saling melengkapi antara kedua perekonomian: teknologi energi baru, digital, dan konsumen dari Tiongkok berpadu dengan keunggulan Norwegia di bidang industri maritim, akuakultur, energi terbarukan, dan produk nutrisi berkualitas tinggi.

"Di CIFTIS tahun ini, kami tidak hanya akan menampilkan produk ikannya saja, tetapi juga proses produksinya. Menurut saya, akuakultur merupakan bidang kerja sama baru yang sangat menjanjikan. Norwegia memiliki banyak perusahaan yang menyediakan peralatan—yang akan ditampilkan di berbagai area pameran—serta layanan terkait produksi akuakultur. Oleh karena itu, kami berharap dapat menjalin lebih banyak kerja sama di sektor ini pada tahun-tahun mendatang," ungkapnya.

Keahlian dalam transisi ramah lingkungan merupakan pilar penting lainnya. Menurutnya, dengan pengalaman lebih dari satu abad dalam pengelolaan energi terbarukan, Norwegia melihat adanya peluang kerja sama dengan Tiongkok di bidang layanan energi bersih.

"Kami juga memiliki berbagai teknologi ramah lingkungan serta layanan energi ramah lingkungan yang telah kami kembangkan di Norwegia. Kami memiliki pengalaman lebih dari 100 tahun dalam mengelola energi terbarukan. Ini adalah kompetensi yang dapat kami ekspor ke negara-negara lain. Menurut saya, sektor maritim, teknologi ramah lingkungan, dan energi ramah lingkungan mungkin akan menjadi bidang-bidang yang paling menjanjikan untuk kerja sama," kata Dysvik.