Beijing, Bharata Online - Afrika Selatan berupaya memperdalam kerja sama dengan Tiongkok di bidang energi bersih, dengan harapan dapat memanfaatkan kapasitas investasi dan teknologi canggih Tiongkok.
Negara ini sedang gencar mencari dana sebesar 130 miliar dolar AS (sekitar 2.319 triliun rupiah) secara global untuk membenahi sektor kelistrikannya yang rentan serta memperluas jaringan skala besar untuk pembangkitan, penyimpanan, dan transmisi listrik.
Kgosientsho Ramokgopa, Menteri Kelistrikan dan Energi Afrika Selatan, mengatakan tujuannya adalah memanfaatkan modal dan keahlian teknis Tiongkok untuk mendukung industrialisasi Afrika Selatan.
"Kami bertemu dengan China Development Bank dan CAD (China-Africa Development) Fund yang mendukung investasi Tiongkok maupun investasi internasional. Kami akan mengandalkan akumulasi modal yang lebih besar untuk membantu mendorong industrialisasi ini. Selain itu, upaya ini juga akan bergantung pada teknologi dan inovasi. Pihak Tiongkok jauh lebih maju, jauh di depan kita semua," ujarnya.
Otoritas di provinsi Western Cape dan Eastern Cape secara aktif bersaing untuk menarik investasi besar di bidang manufaktur baterai dan hidrogen hijau, dengan memanfaatkan pelabuhan dan kawasan ekonomi khusus sebagai faktor pendorong utama.
"Eastern Cape dan Western Cape memiliki dua peluang besar karena kami memiliki dua pelabuhan besar yang tersedia untuk produksi hidrogen hijau. Kami memiliki kawasan ekonomi khusus yang sangat cocok untuk manufaktur baterai, dan kami ingin menarik minat perusahaan-perusahaan. Wilayah Afrika Sub-Sahara menyediakan banyak bahan baku mineral untuk baterai, jadi masuk akal untuk melakukan kegiatan ini di sana bagi Afrika," kata Alan Winde, Premier Western Cape.
Targetnya adalah memasang kapasitas pembangkit listrik baru sebesar 105 gigawatt dan membangun jaringan transmisi sepanjang lebih dari 14.000 kilometer. Namun, mendapatkan komitmen yang kuat dari investor internasional sangat bergantung pada kepastian imbal hasil dan pengendalian risiko yang cermat.
"Kehadiran Tiongkok sangat besar di seluruh rantai nilai, mulai dari sektor transportasi, sektor air, hingga sektor energi. Mereka sudah paham dengan lingkungan hukum di sini. Mereka tahu bagaimana cara kerja bank komersial dan bagaimana lingkungan regulasinya berjalan," ujar Ramokgopa.
Untuk mengatasi kekhawatiran terkait pembiayaan tersebut, Departemen Keuangan Nasional Afrika Selatan dan Grup Bank Dunia meluncurkan skema khusus Penjaminan Kredit (Credit Guarantee Vehicle). Dengan mendukung infrastruktur publik yang memenuhi syarat, skema ini berfungsi sebagai pelindung finansial untuk memobilisasi modal swasta.
"Kondisi berbisnis di berbagai negara harus dibuat nyaman bagi calon investor. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Sarana Penjaminan Kredit (Credit Guarantee Vehicle) menjadi mekanisme yang meredam ketidakpastian serta mengatasi hambatan yang membuat kedua belah pihak merasa tidak nyaman saat hendak menjalin kesepakatan," ujar Mkhulu Mathe, Profesor Peneliti dari University of South Africa.