Batang, Bharata Online - Kawasan Industri Terpadu Batang di Indonesia menjadi bukti nyata bagaimana kerja sama BRICS mengubah solidaritas negara-negara Global South menjadi pabrik, lapangan kerja, dan pembangunan yang konkret, menjelang penyelenggaraan KTT ke-18 kelompok tersebut di India pada akhir pekan ini.

Pada bulan Januari lalu, Indonesia resmi bergabung dengan BRICS sebagai anggota penuh. Selama beberapa dekade terakhir, BRICS telah berkembang menjadi wadah kerja sama utama bagi pasar negara berkembang dan negara-negara berkembang, dengan peran yang terus meluas dalam urusan global.

Kerja sama dalam kerangka ini telah mendukung keberhasilan Kawasan Industri Terpadu Batang di Provinsi Jawa Tengah, yang mulai beroperasi pada Juli 2024.

Kawasan industri seluas 4.300 hektare ini merupakan proyek kerja sama unggulan di bawah Prakarsa Sabuk dan Jalan atau Belt and Road Initiative (BRI) yang diusung Tiongkok, serta menjadi komponen kunci dari inisiatif "Dua Negara, Taman Kembar" (Two Countries, Twin Parks) antara Indonesia dan Tiongkok. Pada Maret 2025, pemerintah Indonesia meningkatkan status kawasan ini menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) nasional.

Saat ini, sekitar 20.000 orang beraktivitas di kawasan industri tersebut setiap harinya.

Di sebuah pabrik furnitur, para pekerja Indonesia telah memiliki keahlian tinggi dalam setiap tahapan proses produksi. Menurut pihak perusahaan, sejak memulai produksi dua bulan lalu, mereka telah membuka dua gedung pabrik dan mempekerjakan 500 karyawan asal Indonesia.

"Tahun depan, kami akan membuka keenam gedung pabrik. Saat itu, jumlah posisi kerja yang diisi oleh tenaga kerja lokal Indonesia akan mencapai 5.000 hingga 6.000 orang," ujar Zhu Xiang, Manajer Umum sebuah perusahaan Tiongkok di kawasan industri tersebut.

Di seberang pabrik yang sudah rampung ini, sebuah perusahaan perlengkapan medis juga sedang mempercepat proses konstruksinya. Proyek tersebut kini mendekati tahap penyelesaian dan dijadwalkan beroperasi penuh pada akhir Desember tahun ini.

"Saya sangat menyukai pekerjaan ini. Meskipun saya bekerja di departemen pengadaan (procurement), perusahaan juga menyediakan banyak pelatihan, termasuk mengenai keselamatan kerja, produksi, penelitian dan pengembangan, pengendalian mutu, dan lain-lain. Semua ini sangat bermanfaat bagi pengembangan karier saya. Tahun lalu, saya bahkan menerima penghargaan 'Karyawan Indonesia Terbaik' dari perusahaan. Perusahaan juga mengatur agar beberapa karyawan Indonesia bisa pergi bersama ke Nanjing untuk menikmati pesona kota tersebut," ungkap seorang karyawan lokal.

Saat ini, hampir 100 perusahaan telah beroperasi di kawasan industri tersebut, dengan perusahaan asal Tiongkok sebagai kelompok yang paling banyak jumlahnya.

"Partisipasi Indonesia dalam BRICS membuka peluang baru untuk menjalin kerja sama yang lebih erat dengan negara-negara berkembang dan negara dengan ekonomi yang sedang tumbuh. Kami memandang BRICS sebagai wadah untuk memperkuat kerja sama di bidang perdagangan, investasi, teknologi, energi, dan pembangunan berkelanjutan yang saling menguntungkan," ujar Rahmat Priyatna, Kepala Strategi Pasar di Kawasan Industri Terpadu Batang.

KTT BRICS ke-18 dijadwalkan berlangsung di New Delhi pada hari Sabtu (12/9) dan Minggu (13/9), yang akan mempertemukan para pemimpin dari 11 negara anggota, 10 negara mitra, serta tamu undangan lainnya.