LONDON, Bharata Online - Pola cuaca El Nino tahun ini akan menjadi yang terbesar dalam lebih dari satu abad dan dapat menjadikan tahun 2027 sebagai tahun terpanas di dunia, demikian prediksi badan cuaca nasional Inggris pada hari Jumat.
Fenomena cuaca El Nino terjadi ketika peningkatan suhu permukaan laut di Pasifik timur tropis memicu perubahan di seluruh dunia pada angin, tekanan atmosfer, dan curah hujan, serta peningkatan suhu global secara keseluruhan.
Adam Scaife, kepala peramalan jangka panjang di badan cuaca tersebut, mengatakan kepada BBC: "Kami memperkirakan El Nino terbesar dalam lebih dari satu abad, dengan puncak kenaikan suhu lebih dari 3 derajat Celcius – hal ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan iklim modern."
Ini berarti suhu air Samudra Pasifik akan meningkat lebih dari 3 derajat Celcius di atas normal dalam beberapa bulan mendatang.
El Nino terjadi ketika suhu air naik setidaknya 0,5 derajat Celcius di atas suhu normal. Meskipun merupakan bagian dari siklus alami, para ilmuwan sepakat bahwa perubahan iklim meningkatkan dampaknya.
El Nino yang memecahkan rekor akan "menambah tekanan perubahan iklim" setelah musim panas yang dilanda gelombang panas di seluruh Eropa, kata Met Office dalam sebuah blog.
Suhu di wilayah Pasifik saat ini berada sekitar 2,6 derajat Celsius di atas rata-rata 30 tahun terakhir, menurut dasbor Climate Brink yang didasarkan pada data dari Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS.
Dasbor ini juga menggabungkan prakiraan yang menempatkan El Nino pada jalur untuk mencapai puncak anomali 3,9 derajat Celsius pada bulan November ini – jauh di atas anomali 3 derajat Celsius yang terdeteksi pada tahun 2015.
"Kita harus menegaskan bahwa ini adalah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata ilmuwan Inggris Scaife dalam sebuah blog Met Office.
Jika ramalan itu akurat, maka tahun 2026 "akan jauh melampaui pengalaman kita baru-baru ini tentang El Nino dan pengaruh iklimnya di seluruh dunia," kata fisikawan yang berspesialisasi dalam pemodelan iklim.
"Saya belum pernah melihat sinyal El Nino seintens ini dalam prakiraan kami," tambahnya, bahkan kenaikan 2 derajat Celsius pun dianggap sebagai "peristiwa yang sangat besar."
El Nino biasanya mengakibatkan kondisi yang lebih kering di seluruh Asia Tenggara, Australia, Afrika selatan, dan Brasil utara, serta kondisi yang lebih basah di Tanduk Afrika, Amerika Serikat bagian selatan, Peru, dan Ekuador.
Suhu hangat yang tidak biasa tahun ini akan berdampak sangat kuat di seluruh wilayah Tropis, kata Scaife.
Para peramal cuaca "memperkirakan kekeringan yang sangat parah di tempat-tempat seperti Amerika Selatan, dan Pasifik Barat," tambahnya.
El Nino sudah menyebabkan curah hujan jauh di bawah normal di India, kata Kantor Meteorologi.
Peristiwa cuaca ini juga diperkirakan akan memicu "peningkatan curah hujan dan badai di musim gugur di Inggris sekitar bulan November," kata Scaife.
"Ini bukan prakiraan cuaca jangka pendek. Kita sedang membicarakan kondisi jangka panjang dan berkelanjutan," tegasnya. [CGTN]