Bishkek, Bharata Online - Menurut mantan Perdana Menteri Kirgistan, Djoomart Otorbaev, sebuah proyek infrastruktur kereta api penting yang menghubungkan Tiongkok, Kirgistan, dan Uzbekistan akan membantu "membuka" potensi penuh Asia Tengah dengan mengubah kawasan yang terkurung daratan (landlocked) menjadi koridor yang terhubung melalui jalur darat (land-connected).
Hubungan antara Tiongkok dan Kirgistan menjadi sorotan pekan ini seiring kedatangan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, di ibu kota Kirgistan, Bishkek, pada hari Minggu (30/8) untuk memulai kunjungan kenegaraan dan menghadiri KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooperation Organization/SCO) yang berlangsung dari hari Senin (31/8) hingga Selasa (1/9).
Dalam sebuah artikel yang dirilis menjelang kunjungannya, yang merupakan kunjungan pertamanya ke negara Asia Tengah tersebut dalam tujuh tahun terakhir, Xi menyerukan percepatan pembangunan jalur kereta api Tiongkok-Kirgistan-Uzbekistan serta penguatan konektivitas antara kedua negara dan kawasan yang lebih luas.
Dalam wawancara dengan China Global Television Network (CGTN) pada hari Minggu (30/8), Otorbaev menyoroti perjalanan hubungan bilateral antara Kirgistan dan Tiongkok selama 35 tahun terakhir serta mencatat kemajuan yang stabil di seluruh aspek kerja sama mereka.
"Jika kita melihat sejarah hubungan bilateral kita yang telah terjalin selama hampir 35 tahun, kita melihat adanya peningkatan bertahap dalam semua aspek kerja sama kita. Kita bisa meninjau data ekonomi, investasi, perdagangan, serta pertukaran antarwarga, dan kita melihat perkembangan yang sangat positif," ujarnya.
Otorbaev juga menyoroti dampak transformatif dari proyek kereta api Tiongkok-Kirgistan-Uzbekistan yang sedang dibangun—yang akan membentang sekitar 300 kilometer melintasi wilayah Kirgistan yang sebagian besar berupa pegunungan—seraya meyakini bahwa proyek ini akan menyediakan jalur logistik yang sangat berharga untuk mengubah Asia Tengah menjadi kawasan dengan konektivitas yang jauh lebih baik.
"Kini, proyek unggulan kerja sama kita adalah jalur kereta api Tiongkok-Kirgistan-Uzbekistan, yang merupakan perwujudan kembali Jalur Sutra yang agung dalam konteks abad ke-21. Jadi, jalur kereta api ini—yang akan membentang dari Tiongkok ke Kirgistan, lalu ke Uzbekistan, dan berlanjut ke Laut Kaspia, Turki, serta Laut Hitam hingga ke Eropa—akan membuka akses bagi kawasan Asia Tengah kita dan mengubah status kawasan kita dari yang terkurung daratan menjadi kawasan yang terhubung melalui jalur darat," ungkapnya.
Sebagaimana diuraikan oleh Xi dalam artikel yang ditulisnya, Otorbaev juga merasa optimis dengan potensi kerja sama di masa depan, dengan Kirgistan dan Tiongkok akan memperluas kolaborasi dalam tiga bidang mutakhir.
"Kami akan mengembangkan kerja sama kami dalam tiga arah: digitalisasi sebagai prioritas pertama, ekonomi hijau sebagai yang kedua, dan kecerdasan buatan sebagai yang ketiga. Ini merupakan pencapaian yang luar biasa. Kami ingin bekerja sama dengan Tiongkok dalam modernisasi berkualitas tinggi di abad ke-21 ini," ujar mantan perdana menteri tersebut.
KTT SCO tahun ini, yang secara signifikan menandai peringatan 25 tahun berdirinya organisasi tersebut, mengusung tema "25 Tahun SCO: Bersama Menuju Perdamaian, Pembangunan, dan Kemakmuran yang Berkelanjutan", serta akan mempertemukan para pemimpin dari lebih dari 20 negara di ibu kota Kirgistan.