Beijing, Bharata Online - Robert Tarjan, penerima penghargaan Turing tahun 1986 dan ilmuwan komputer asal Amerika Serikat, mendesak adanya pendekatan yang lebih terukur dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI). Ia menyatakan bahwa bergerak lebih cepat tidak selalu menghasilkan hasil yang lebih baik, dan masyarakat perlu meluangkan waktu untuk menimbang manfaat AI terhadap potensi dampak negatifnya.

Tarjan menyampaikan pandangan tersebut dalam sebuah wawancara dengan China Global Television Network di Beijing, tempat ia menghadiri International Congress of Basic Science (ICBS) tahun 2026.

Acara yang dimulai pada hari Minggu (9/8) dan berlangsung hingga 21 Agustus 2026 ini mempertemukan para ilmuwan terkemuka dari seluruh dunia untuk membahas terobosan terkini serta tantangan mendesak dalam bidang sains dasar.

Di tengah persaingan AI yang semakin sengit antara Amerika Serikat dan Tiongkok, kedua negara menempuh jalur yang sangat berbeda. AS berfokus pada pencapaian artificial general intelligence (AGI) dengan mengembangkan model berskala masif yang didukung oleh daya komputasi besar, demi memimpin dalam inovasi terobosan. Sementara itu, Tiongkok menekankan konsep "AI plus", yaitu mengintegrasikan teknologi AI ke dalam sektor industri dan masyarakat guna memaksimalkan manfaat bagi populasi yang lebih luas.

Menanggapi perbedaan pendekatan ini, Tarjan merujuk pada fabel klasik tentang kura-kura dan kelinci, dengan mengatakan, "Dalam perlombaan ini, pihak yang tercepat tidak selalu menjadi pemenang".

Saat ditanya mengenai potensi risiko dan manfaatnya, Tarjan berkata, "Di satu sisi, pendekatan mana yang menimbulkan dampak negatif paling besar? Dan di sisi lain, pendekatan mana yang memberikan nilai terbesar bagi masyarakat? Jadi, ada manfaat yang diperoleh namun juga ada dampak negatif yang muncul, dan kita harus menimbang keduanya. Sebenarnya, kita bisa mengambil waktu dan bergerak perlahan. Mungkin kita hanya perlu melambat sejenak dan memikirkan masalah-masalah ini. Kita tidak perlu terburu-buru."

Ilmuwan tersebut juga menyoroti dampak sosial teknologi yang lebih luas; ia mempertanyakan apakah kemajuan yang ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat justru berujung pada jam kerja yang lebih panjang, serta berpendapat bahwa kekayaan yang dihasilkan oleh teknologi seharusnya dapat dinikmati secara lebih luas.

"Dulu pada tahun 1950-an, saat saya masih kecil, ada anggapan bahwa teknologi akan memberikan banyak waktu luang bagi semua orang. Namun kenyataannya, berbagai teknologi ini justru memaksa orang untuk bekerja semakin keras dan terus-menerus. Padahal, sebenarnya kita memiliki sumber daya yang memungkinkan orang untuk memiliki lebih banyak waktu luang. Jadi, mungkin kita perlu sedikit menata ulang sistem yang ada untuk membagikan kekayaan yang dihasilkan oleh teknologi tersebut, sehingga orang tidak harus bekerja purnawaktu hanya untuk menghidupi diri mereka sendiri. Mungkin kita sebaiknya kembali pada gagasan ideal di mana seseorang tidak menghabiskan seluruh hidupnya tanpa melakukan apa pun, namun juga tidak perlu bekerja terlalu keras. Dengan begitu, orang memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang mereka cintai," ujarnya.