Astana, Bharata Online - Kerja sama digital yang semakin erat antara Tiongkok dan Kazakhstan menghadirkan solusi cerdas bagi kehidupan perkotaan di Astana, seiring upaya ibu kota tersebut membangun ekosistem kecerdasan buatan (AI) dengan dukungan teknologi dan keahlian Tiongkok yang terus berkembang.

Selama beberapa tahun terakhir, Tiongkok secara konsisten memajukan kerja sama terkait tata kelola dan penerapan AI di antara negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Shanghai atau Shanghai Cooperation Organization (SCO). Saat Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Buatan Dunia (World Artificial Intelligence Cooperation Organization) diluncurkan pada bulan Juli 2026, Kazakhstan menjadi salah satu anggota pendirinya.

Berlandaskan Prakarsa Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative) serta kerangka kerja SCO, negara di Asia Tengah ini kini aktif mengembangkan ekosistem AI-nya sendiri, dengan inkubasi perusahaan rintisan (startup) sebagai fokus utamanya. Sebagian besar proyek terkonsentrasi pada sektor manufaktur industri, industri kreatif, dan robotika. Proyek-proyek ini sering kali dibangun menggunakan kerangka kerja teknologi Tiongkok yang telah teruji, sembari mengintegrasikan model bahasa lokal Kazakhstan.

Meskipun beberapa proyek masih dalam tahap uji coba laboratorium, proyek lainnya sudah mulai beroperasi di jalanan Astana.

Sistem kereta ringan (light rail) baru di kota ini beroperasi dengan Tingkat Otomatisasi 4 (Grade of Automation 4), yakni tingkat tertinggi untuk sistem kemudi otomatis penuh. Kereta berangkat, melaju, berhenti, dan membuka pintu sepenuhnya tanpa campur tangan manusia. Di balik sistem canggih ini terdapat keahlian dari Tiongkok. Di Tangshan, sebuah kota di Tiongkok utara, 19 rangkaian kereta tanpa masinis untuk Astana sedang dalam tahap produksi. Sementara itu, di Tianjin, para operator sedang merampungkan pelatihan mereka.

"Pergi ke Tiongkok untuk mengikuti pelatihan adalah keputusan yang tepat dan perlu. Kini saya memiliki pemahaman mendalam mengenai sistem ini, termasuk seluruh aspek otomatisasi, mode operasi, berbagai parameter, serta cara menangani situasi darurat. Saya sangat yakin dengan keamanan operasionalnya," ujar Darkhan Satpayev, salah satu operator.

Di seluruh penjuru Astana, AI juga mulai merambah kehidupan sehari-hari. Di kawasan hunian, sistem parkir pintar mulai diterapkan. Di dalam rumah, meteran listrik dan air pintar secara otomatis mengirimkan data penggunaan dan bahkan dapat memberi peringatan kepada penghuni jika terjadi kebocoran sebelum kerusakan lebih lanjut terjadi.

"Begitu sensor mendeteksi adanya air, saya menerima notifikasi di ponsel dan dapat menutup semua katup melalui aplikasi untuk mencegah banjir," kata seorang warga bernama Arlan Umbitalin.

Negara ini juga menyusun rencana jangka panjang. Pusat Kecerdasan Buatan Internasional di Astana telah menetapkan pelatihan generasi penerus sebagai prioritas, dengan menawarkan kursus gratis bagi anak-anak berusia 12 tahun ke atas di berbagai bidang keilmuan.

"Pusat ini sepenuhnya gratis. Para pelajar datang di waktu luang mereka dan belajar di 11 bidang, mulai dari TI dan AI generatif hingga teknologi kreatif, termasuk animasi dan musik digital," ujar Valeriya Tyo, Direktur Pelaksana Astana Hub, salah satu klaster inovasi internasional terbesar bagi perusahaan rintisan (startup) TI di Asia Tengah.

Lazzat Borankulova, pendiri Khan Tengri Innovation Hub, sebuah platform teknologi berbasis di Shanghai yang menghubungkan startup dari kawasan Eurasia Tengah dengan pasar Tiongkok, mengatakan bahwa inisiatif AI Tiongkok telah memberikan dampak nyata bagi Kazakhstan.

"Menurut saya, Tiongkok telah meluncurkan inisiatif yang sangat baik untuk pengembangan AI. Hal ini memberikan pengalaman positif bagi para peserta dan akan membantu Kazakhstan mengikuti tren perkembangan global," ujarnya.