Las Vegas, Bharata Online - Peraih Nobel Geoffrey Hinton, yang dijuluki sebagai "Bapak AI", memberikan apresiasi tinggi terhadap pertimbangan matang dan sikap hati-hati pemerintah Tiongkok terkait hubungan antara AI dan lapangan kerja.
Hinton menyampaikan pandangannya mengenai pesatnya perkembangan AI pada hari Rabu (5/8) dalam acara AI4 2026, sebuah konferensi AI berskala besar yang berlangsung dari tanggal 4 hingga 6 Agustus 2026 di Las Vegas.
"Saya melihat bahwa di Tiongkok, mereka mendorong gagasan bahwa 'Anda tidak bisa begitu saja menggantikan pekerja dengan AI. Pekerja harus bekerja bersama AI untuk menyelesaikan tugas tersebut'. Menurut saya, pihak Tiongkok mungkin lebih mengkhawatirkan masalah pengangguran dibandingkan perusahaan-perusahaan Amerika. Bahayanya adalah jika terjadi pengangguran massal, pemerintah akan kehilangan sebagian besar basis pajaknya. Padahal, di saat yang sama, pemerintah justru membutuhkan banyak sumber daya untuk menangani para penganggur, dan hal itu akan memicu gejolak sosial yang parah," ujarnya.
Hinton menyatakan bahwa regulasi seharusnya tidak menghambat perkembangan AI, melainkan mengarahkan jalannya perkembangan tersebut.
"Menurut saya, perusahaan-perusahaan besar cenderung ingin kita memandang regulasi hanya sebagai penghambat laju perkembangan. Ada anggapan bahwa pengembangan AI ibarat pedal gas mobil, sedangkan regulasi adalah rem yang akan menekan inovasi. Saya rasa itu adalah model pemikiran yang keliru. Seharusnya, pengembangan diibaratkan sebagai pedal gas, sementara regulasi berperan sebagai kemudi. Itu adalah model yang sangat berbeda; tujuan regulasi bukanlah untuk menghambat perkembangan, melainkan untuk memastikan perkembangan tersebut bergerak ke arah yang tepat dan bermanfaat bagi masyarakat," tuturnya.