Jakarta, Bharata Online - Selama puluhan tahun, dunia mengenal Tiongkok sebagai "pabrik dunia"—pusat manufaktur bertenaga kerja murah yang memproduksi barang-barang untuk pasar global. Namun citra itu kini bergeser drastis. Tiongkok telah menjelma menjadi salah satu pemain utama pengembangan kecerdasan buatan (AI), kendaraan listrik, semikonduktor, hingga ekonomi digital.

Dalam diskusi Forum Bharata yang diselenggarakan oleh Bharata Production dan CGTN Indonesia dengan tema "Transformasi Tiongkok dari Negara Miskin hingga Dikagumi Dunia", para narasumber yang pernah menyaksikan langsung perkembangan ini membagikan pandangan mereka soal bagaimana lompatan teknologi tersebut terjadi.

Redaktur bharataonline.com, Eko Satrio Wibowo, menilai pergeseran paling mendasar Tiongkok adalah dari peniru menjadi pelopor teknologi. Ia mencontohkan TikTok, yang menurutnya justru menjadi rujukan bagi platform-platform media sosial Barat seperti YouTube dan Instagram dalam mengadopsi format video pendek.

Eko juga menyoroti fenomena "kecerdasan buatan terwujud" (embodied intelligence) yang kini merambah kehidupan sehari-hari di Tiongkok, mulai dari koki robot, kasir robot, bus tanpa sopir di Wuhan, hingga rencana taksi terbang yang disebutnya melahirkan sektor ekonomi baru bernama "ekonomi ketinggian rendah" (low-altitude economy), mencakup pemanfaatan drone untuk distribusi hasil pertanian dengan biaya jauh lebih murah dan efisien.

Produser Jurnal Bharata, Muhammad Rizal Rumra, melihat digitalisasi sebagai wujud teknologi paling nyata karena dampaknya menjangkau ruang publik, bukan hanya sektor privat, mulai dari sistem pembayaran, layanan pemerintahan, hingga aktivitas berdagang melalui siaran langsung (live streaming) yang bisa diterjemahkan otomatis ke berbagai bahasa.

"Ya, kalau mungkin saya digitalisasi ya, digitalisasi di mana Tiongkok itu, ya seperti tadi kita diskusikan, begitu apa namanya, pelayanan digitalisasinya itu begitu terlihat nyata ya," ujarnya.

Rizal juga mengaitkan digitalisasi dengan efektivitas pemberantasan korupsi: transaksi digital yang tercatat rapi membuat penyalahgunaan anggaran oleh pejabat menjadi jauh lebih mudah terdeteksi dibandingkan era transaksi tunai.

Penyiar dan produser Batik dan Orbit di Radio Bharata, Adelia Astari, memilih otomasi sebagai teknologi yang paling mencerminkan keberhasilan transformasi Tiongkok, karena dampaknya paling cepat dirasakan langsung oleh masyarakat, baik di lini produksi pabrik maupun di sektor pelayanan publik dan pusat perbelanjaan.

"Kalau saya itu teknologi otomasi, Pak Andi," katanya.

Ia menekankan bahwa pola pengembangan teknologi di Tiongkok selalu mengutamakan pasar domestik terlebih dahulu, memastikan masyarakat sendiri merasakan manfaatnya, sebelum produk tersebut diekspor ke luar negeri, seperti yang terlihat pada industri kendaraan listrik Wuling di Liuzhou.

Hendro Mariono, penyiar sekaligus produser Batik dan Orbit di Radio Bharata, membagikan pengalamannya mengunjungi Hainan Tropical Automobile Test Co., Ltd., sebuah platform pengujian kendaraan di Hainan yang menguji kelayakan mobil dari berbagai produsen dunia sebelum diproduksi massal untuk pasar tropis, termasuk Indonesia.

"Kami melihat sentuhan teknologi yang saya rasakan adalah misalnya di Hainan Tropical Automobile Test Co., Ltd. Nah, di sana itu, jadi semua mobil dari negara mana pun, produsen mobil itu dikirim ke sana untuk yang akan diproduksi massal untuk daerah tropis," ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa setiap kendaraan diuji dari sisi kenyamanan, guncangan, daya tahan, hingga ketahanan terhadap paparan cuaca ekstrem selama berbulan-bulan sebelum lolos masuk ke lini produksi, menunjukkan tingkat detail dan standar kualitas yang sangat tinggi dalam ekosistem manufaktur teknologi Tiongkok saat ini.

Para narasumber sepakat bahwa lompatan teknologi Tiongkok, mulai dari AI, kendaraan listrik, hingga energi baru, tidak lahir dari pasar bebas semata, melainkan didorong kuat oleh pendanaan dan kebijakan jangka panjang pemerintah, termasuk proyek-proyek besar yang dikerjakan BUMN dengan tingkat keberhasilan tinggi, sehingga menumbuhkan kepercayaan publik yang kuat terhadap arah pembangunan teknologi nasional.

Kebangkitan teknologi Tiongkok ini pun memicu kekhawatiran negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat, yang dalam kacamata hubungan internasional digambarkan sebagai persaingan antara "the ruling power" dan "the rising power". Namun, di sisi lain, banyak negara berkembang justru melihat model Tiongkok, yang menawarkan kemitraan tanpa ketergantungan asimetris, sebagai paradigma pembangunan alternatif dari model Barat.

Transformasi Tiongkok dari "pabrik dunia" menjadi pusat inovasi global menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak berdiri sendiri, melainkan hasil perpaduan antara riset yang konsisten, dukungan kebijakan negara, serta orientasi untuk terlebih dahulu memberi manfaat nyata bagi masyarakat domestik sebelum melangkah ke pasar internasional.

Video lengkap Forum Bharata ini bisa disaksikan melalui tautan https://youtu.be/ASeVifQmzf8 .