Guangzhou, Bharata Online - Tiongkok telah meluncurkan rencana baru untuk mendukung pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) selama periode 2026-2030, dengan menetapkan target terkait pertumbuhan bisnis, inovasi, dan lingkungan pengembangan.

Menurut rencana yang diterbitkan bersama oleh 10 departemen pemerintah pusat, termasuk Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi, UKM Tiongkok, yang merupakan pilar utama vitalitas dan ketahanan ekonomi, diharapkan mencapai pertumbuhan baik dari segi kualitas maupun skala pada tahun 2030. Pendapatan operasional per kapita dari UKM utama diproyeksikan mencatat pertumbuhan kumulatif sekitar 15 persen selama periode lima tahun tersebut.

Rencana ini menetapkan tujuh tugas utama, yaitu menjaga stabilitas bisnis dan lapangan kerja, memperkuat pembinaan perusahaan, mempercepat pengembangan yang bersifat digital, cerdas, dan ramah lingkungan, mendorong pembangunan yang terkoordinasi dan terintegrasi, meningkatkan pasokan faktor produksi, memperkuat sistem layanan UKM, serta meningkatkan perlindungan hukum dan kebijakan.

Rencana ini memberikan penekanan lebih besar pada pengembangan yang cerdas, ramah lingkungan, dan terintegrasi, serta menerapkan pendekatan yang lebih spesifik dan disesuaikan dengan berbagai jenis industri maupun perusahaan. Rencana baru itu melanjutkan kemajuan yang dicapai selama Rencana Lima Tahun ke-14 (hingga tahun 2025), periode ketika UKM Tiongkok mengalami peningkatan signifikan dalam hal skala bisnis, kapasitas inovasi, dan keahlian khusus.

"Rencana ini berfokus pada kemajuan pembangunan yang berkualitas tinggi dan inovatif dengan membentuk mekanisme untuk mendorong pertumbuhan UKM yang menggunakan teknologi khusus dan canggih guna menghasilkan produk baru dan unik, memfasilitasi pertumbuhan UKM secara bertahap, serta memajukan pengembangan yang cerdas, ramah lingkungan, dan terintegrasi. Pada saat yang sama, rencana ini juga mengatasi kendala praktis seperti kekurangan talenta, keterbatasan pendanaan, dan kesulitan dalam perlindungan hak serta kepentingan, dengan menerapkan pendekatan yang disesuaikan dan dikategorikan untuk membantu UKM mencapai pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan dalam jangka panjang," ujar Liang Zhifeng, Direktur Biro UKM di Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi Tiongkok.

"Rencana tersebut mendorong universitas dan lembaga penelitian untuk melisensikan pencapaian ilmiah dan teknologi kepada UKM dengan skema 'gunakan dulu, bayar kemudian', sehingga memberikan peluang bagi UKM untuk mengakses sumber daya inovasi dan memajukan inovasi kolaboratif. Selain itu, pembentukan program pengembangan bertingkat bagi UKM berkualitas tinggi akan membantu lebih banyak perusahaan untuk tumbuh menjadi UKM yang berorientasi pada teknologi dan inovasi—yakni UKM yang memanfaatkan teknologi khusus dan canggih untuk menghasilkan produk baru dan unik, serta menjadi perusahaan 'raksasa kecil' (little giant) dan juara manufaktur," ujar Xu Yingjie, Direktur Kantor Penelitian UKM pada Institut Penelitian Perusahaan di bawah Pusat Penelitian Pembangunan Dewan Negara (State Council).

Perusahaan "raksasa kecil" mengacu pada kelompok elit baru di kalangan UKM yang bergerak di bidang manufaktur, memiliki spesialisasi di pasar khusus (niche market), dan menguasai teknologi mutakhir.

Mendukung pengembangan UKM merupakan salah satu prioritas dalam Rencana Lima Tahun ke-15 Tiongkok (2026-2030) untuk pembangunan sosial-ekonomi nasional.

Laporan kerja pemerintah Tiongkok tahun ini juga menjanjikan dukungan yang lebih kuat bagi UKM yang sedang menjalani transformasi digital dan cerdas (intelligent transformation).

Tiongkok mencatat kemajuan signifikan dalam pengembangan UKM selama periode Rencana Lima Tahun ke-14 (2021-2025), dengan lebih dari 63 juta UKM beroperasi di seluruh negeri pada akhir tahun 2025, yang mencakup lebih dari 95 persen dari seluruh entitas bisnis.