Tianjin, Bharata Online - Presiden Tiongkok, Xi Jinping, sangat mementingkan kerja sama global dalam membangun sistem tata kelola global yang lebih adil dan merata serta komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia, dengan Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooperation Organization/SCO) semakin berperan sebagai platform utama untuk upaya tersebut.
Pada tahun 2025, ketika memimpin Pertemuan "SCO Plus" di kota pelabuhan Tianjin, Tiongkok Utara, Xi mengusulkan Inisiatif Tata Kelola Global atau Global Governance Initiative (GGI), menyerukan negara-negara untuk bekerja sama demi sistem tata kelola global yang lebih adil dan merata.
"Saya ingin mengusulkan Inisiatif Tata Kelola Global (GGI). Saya berharap dapat bekerja sama dengan semua negara lain untuk sistem tata kelola global yang lebih adil dan merata dan bergerak maju menuju komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia," kata Xi saat menyampaikan pidato pada pertemuan yang diadakan pada 1 September 2025.
GGI menandai inisiatif global penting keempat yang diusulkan oleh Xi selama beberapa tahun terakhir, setelah Inisiatif Pembangunan Global, Inisiatif Keamanan Global, dan Inisiatif Peradaban Global.
Inisiatif ini menguraikan lima prinsip inti: menjunjung tinggi kesetaraan kedaulatan, mematuhi aturan hukum internasional, mempraktikkan multilateralisme, mengadvokasi pendekatan yang berpusat pada rakyat, dan berfokus pada tindakan nyata.
Pada 17 Juni 2026, Kantor Informasi Dewan Negara Tiongkok merilis buku putih untuk memperkenalkan prinsip, usulan, dan tindakan Tiongkok tentang tata kelola global.
Berjudul "Tata Kelola Global yang Lebih Adil dan Merata: Prinsip, Usulan, dan Tindakan Tiongkok", buku putih ini diterbitkan untuk mendorong konsensus yang lebih luas dalam komunitas internasional, memastikan respons yang lebih efektif terhadap tantangan global, dan membangun sistem tata kelola global yang lebih adil dan merata.
Pada Pertemuan Kelompok Sahabat Tata Kelola Global yang diadakan di markas besar PBB di New York pada 28 Mei 2026, perwakilan dari berbagai negara memberikan pujian tinggi terhadap inisiatif ini.
Semua pihak dalam kelompok tersebut menyambut baik Inisiatif Tata Kelola Global yang diusulkan oleh Tiongkok, mencatat bahwa inisiatif tersebut sepenuhnya konsisten dengan tujuan dan prinsip Piagam PBB dan bertujuan untuk membela dan mempraktikkan multilateralisme sambil memperkuat peran sentral PBB dalam urusan internasional.
Sejak 2013, Xi telah menghadiri setiap KTT SCO, baik secara langsung maupun melalui tautan video, mendorong kerja sama yang lebih erat antar negara anggota dalam bidang keamanan, pembangunan, dan pertukaran budaya.
"Kita harus menjunjung tinggi konsep pembangunan yang inovatif, terkoordinasi, hijau, terbuka, dan inklusif, untuk mencapai kemajuan sosial dan ekonomi yang terkoordinasi di berbagai negara," kata Xi pada Pertemuan ke-18 Dewan Kepala Negara Anggota SCO di Kota Qingdao, Tiongkok Timur, pada tahun 2018.
"SCO harus meningkatkan peran kepemimpinannya dan menjadi contoh dalam melaksanakan GGI," kata Xi pada Pertemuan 'SCO Plus' pada tahun 2025.
Didirikan di Shanghai pada tahun 2001 oleh Tiongkok dan negara-negara tetangganya, SCO telah berkembang dari enam anggota pendiri menjadi keluarga yang terdiri dari 27 negara, menonjol sebagai model untuk jenis hubungan internasional yang baru.
"Kerja sama ini mencakup berbagai bidang yang sangat luas, dan mungkin sulit untuk menyebutkan industri mana pun yang belum kita kembangkan kerja sama perdagangan dan ekonominya," kata Nurlan Yermekbayev, Sekretaris Jenderal SCO.
"Tiongkok akan dengan senang hati berbagi peluang dari pasarnya yang luas, dan terus melaksanakan rencana aksi untuk pengembangan kerja sama ekonomi dan perdagangan berkualitas tinggi dalam keluarga SCO," kata Xi pada Pertemuan 'SCO Plus' tahun 2025.
Hingga September 2025, stok investasi Tiongkok di negara-negara anggota SCO lainnya telah melampaui 84 miliar dolar AS (sekitar 1.492 triliun rupiah), dan perdagangan bilateral tahunannya dengan negara-negara anggota SCO lainnya telah melampaui 500 miliar dolar AS (sekitar 8.878 triliun rupiah).
"Sekarang pusat gravitasi pengaruh dunia secara diam-diam dan mantap bergeser ke arah SCO, dan kita adalah anggota keluarga tersebut. SCO mempertahankan perkembangan yang solid dan stabil. Mungkin kita harus mengadopsi jalur pembangunan Tiongkok yang mantap dan percaya diri. Kita seperti sebuah keluarga besar, membahas isu-isu dan rencana untuk masa depan bersama," kata Presiden Belarusia, Alexander Lukashenko.
"Tujuan mendasar dari tata kelola global, pada intinya, adalah untuk mencapai pembangunan bersama. Dan pembangunan bersama, pada intinya, adalah tentang meningkatkan taraf hidup masyarakat. Itulah mengapa Presiden Xi secara khusus menekankan pendekatan yang berpusat pada rakyat, yang juga merupakan prinsip yang sangat penting yang harus dijunjung tinggi dalam kerja sama internasional," kata Sun Zhuangzhi, Peneliti di Pusat Studi Organisasi Kerja Sama Shanghai di Tiongkok.
Tahun ini menandai peringatan 25 tahun berdirinya SCO. Dalam KTT Bishkek di Kirgistan yang berlangsung dari tanggal 30 Agustus hingga 3 September 2026, Xi akan melakukan pertukaran pandangan secara mendalam dengan para pemimpin negara peserta lainnya mengenai upaya memperdalam kerja sama SCO di berbagai bidang di tengah situasi baru serta membahas isu-isu internasional dan regional utama. Hal ini akan memberikan arah bagi pembangunan berkualitas tinggi SCO serta partisipasinya dalam reformasi dan pengembangan sistem tata kelola global, demikian disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian.
"'Di mana ada tekad, tidak ada batasan yang dapat menghalangi'. Mari kita tetap setia pada misi awal pendirian SCO, menjalankan tugas dan memenuhi tanggung jawab kita, mendorong pembangunan SCO yang sehat dan berkelanjutan dengan tekad yang lebih kuat serta langkah-langkah yang lebih nyata, dan melangkah mantap menuju masa depan yang lebih cerah bagi komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia," ujar Xi dalam Pertemuan "SCO Plus" tahun 2025.