Shenzhen, Bharata Online - Industri robot Tiongkok mencatatkan pertumbuhan pesat pada paruh pertama tahun 2026, dengan perusahaan-perusahaan robotika utama menghasilkan pendapatan sebesar 165,5 miliar yuan (sekitar 436 triliun rupiah), naik 24,5 persen secara tahunan seiring sektor ini memasuki tahap baru ekspansi cepat.

Di Beijing, sebuah platform pengujian yang baru dibangun melatih robot untuk melakukan pekerjaan pada saluran listrik bertegangan tinggi, pengalihan peralatan listrik, dan pengoperasian pemutus arus (circuit breaker). Kota ini sedang menjajaki hampir 300 skenario penggunaan bagi robot berteknologi "kecerdasan berwujud" (embodied intelligence), mulai dari penyelesaian uji coba hingga pengerahan unit untuk berbagai tugas.

Di Shenzhen, terdapat sistem "siklus pembuatan prototipe 72 jam" yang memungkinkan perusahaan beralih dari tahap desain ke pembuatan prototipe robot menggunakan pencetakan 3D hanya dalam waktu tiga hari. Ini merupakan salah satu rantai industri robotika paling efisien di dunia.

"Kami telah membangun keahlian baik di bidang perangkat keras maupun algoritma, dan kini hal tersebut benar-benar membuahkan hasil. Terkait inovasi 'dari nol ke satu' (inovasi terobosan), kami berharap dapat melakukannya pada tingkat yang memimpin secara global," ujar Wang Qian, pendiri sebuah perusahaan robotika yang berbasis di Shenzhen.

Tiongkok telah menjadi pemegang paten robot terbanyak di dunia, dengan jumlah pengajuan paten pada tahun 2024 mencakup sekitar dua pertiga dari total global. Mulai dari desain hingga manufaktur, negara ini telah mengembangkan industri robotika yang hampir sepenuhnya mandiri dan tangguh terhadap risiko.

Tiongkok telah menjadi pasar robot industri terbesar di dunia selama 13 tahun berturut-turut, dengan robot yang dikerahkan di setidaknya 71 kategori industri utama. Robot industri buatan Tiongkok telah menguasai lebih dari 50 persen pasar domestik. Tahun lalu, ekspor robot industri tumbuh sebesar 48,7 persen, melampaui angka impor untuk pertama kalinya dan menjadikan Tiongkok sebagai eksportir neto.

Sementara itu, robot dengan kecerdasan berwujud mulai beralih dari sekadar dipamerkan di ruang eksibisi atau demonstrasi menuju penerapan layanan di dunia nyata. Robot-robot ini semakin banyak digunakan dalam pekerjaan berisiko tinggi dan kondisi ekstrem, serta di rumah maupun pabrik yang cakupan penggunaannya kian meluas.

Pada bulan Juni 2026, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi Tiongkok serta Komisi Pengawasan dan Administrasi Aset Milik Negara meluncurkan inisiatif khusus untuk mempercepat pengembangan robot humanoid dan unit berteknologi kecerdasan berwujud melalui peningkatan pelatihan di dunia nyata. Rencana tersebut akan mengidentifikasi lebih dari 100 kasus penggunaan robot bernilai tinggi serta membangun dan mengimplementasikan sepuluh ribu unit baru untuk kasus-kasus penggunaan yang telah dipilih.