Kirgistan, Bharata Online - Kesepakatan yang ditandatangani antara Tiongkok dan Kirgistan pada KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooperation Organization/SCO) tahun 2026 di Bishkek diperkirakan akan memberikan dorongan baru bagi sektor teknologi Kirgistan yang sedang berkembang, khususnya di bidang ekonomi digital, kecerdasan buatan (AI), dan energi bersih, menurut seorang pakar.
KTT yang berlangsung pada hari Senin (31/8) dan Selasa (1/9) di ibu kota Kirgistan itu mengusung tema "25 Tahun SCO: Bersama Menuju Perdamaian, Pembangunan, dan Kemakmuran yang Berkelanjutan" serta mempertemukan para pemimpin dari lebih dari 20 negara.
Dalam wawancara dengan China Global Television Network (CGTN), Chubak Temirov, Wakil Direktur High Tech Park Republik Kirgistan, mengatakan bahwa kepercayaan yang telah terbangun selama 25 tahun di SCO kini membuka jalan bagi usaha patungan teknologi yang menjangkau pasar di luar pasar domestik Kirgistan.
"SCO telah menghabiskan waktu 25 tahun untuk membangun hubungan dan kepercayaan antarnegara kita—antara Tiongkok dan Kirgistan serta semua anggota lainnya. Dan saya yakin tahap berikutnya haruslah tentang membangun sesuatu bersama-sama di bidang teknologi, mencakup teknologi, perusahaan, penelitian, produk, dan mungkin pasar baru. Saat ini, perusahaan teknologi di Bishkek tidak lagi hanya memikirkan pasar domestik kita yang berpenduduk 7,4 juta jiwa. Kami berpikir lebih luas, mencakup seluruh negara anggota SCO atau bahkan pasar global," ujar Temirov.
Dalam pertemuannya dengan Presiden Kirgistan, Sadyr Japarov, pada hari Senin (31/8), Presiden Tiongkok, Xi Jinping, menyatakan bahwa Tiongkok dan Kirgistan perlu bekerja sama untuk membangun Laboratorium Bersama Belt and Road serta memperkuat kerja sama di berbagai bidang, termasuk AI.
Senada dengan pernyataan Xi, Temirov menilai bahwa pengembangan aplikasi AI berbahasa lokal merupakan peluang paling nyata bagi Kirgistan saat ini. Ia juga menekankan bahwa bentuk terbaik dari transfer teknologi adalah membangun kapasitas lokal untuk mengembangkan produk masa depan secara mandiri, sebuah model kemitraan yang dapat memperdalam kerja sama bilateral pasca KTT tersebut.
"Menurut saya, peluang praktis yang dapat segera dimanfaatkan oleh Kirgistan di bidang AI adalah pengembangan AI berbasis bahasa lokal. Sebagai contoh, bayangkan seorang petani di daerah pedesaan—di wilayah pegunungan terpencil di Kirgistan (karena seperti yang Anda tahu, Kirgistan adalah negara pegunungan)—dapat berbicara dengan asisten AI menggunakan bahasa Kirgiz dan memperoleh informasi mengenai cuaca atau mungkin pertanian. Seorang pelajar bisa memiliki tutor AI yang menggunakan bahasa ibu mereka sendiri. Atau, warga dapat berinteraksi dengan layanan publik digital, bukan? Saat ini, layanan publik digital telah menjadi tren utama digitalisasi di berbagai negara. Siapa pun kini bisa mengakses layanan publik dan mendapatkan berbagai kemudahan untuk menunjang kehidupan mereka hanya dari rumah, bukan?" ujarnya.
"Tiongkok memiliki infrastruktur berskala besar serta ekosistem AI yang sudah matang. Transfer teknologi yang terbaik bukanlah sekadar menerima produk jadi. Seperti yang saya katakan sebelumnya, transfer teknologi yang ideal terjadi ketika masyarakat setempat memperoleh kemampuan untuk menciptakan sendiri produk-produk generasi berikutnya. Inilah bentuk kemitraan teknologi antara Tiongkok dan Kirgistan yang menurut saya merupakan contoh yang sangat baik. Saya sangat yakin bahwa setelah KTT ini, hubungan persahabatan dan kerja sama kita akan melangkah ke tingkat yang lebih tinggi. Saya juga melihat adanya lebih banyak peluang kolaborasi antara Tiongkok dan Kirgistan, baik dalam bidang AI secara umum maupun teknologi lainnya," tambahnya.