Nagasaki, Bharata Online - Sebuah monumen di Kota Nagasaki, Jepang, menjaga ingatan akan para pekerja paksa asal Tiongkok yang tewas dalam pengeboman atom tahun 1945.

Monumen batu di Taman Perdamaian Nagasaki itu didirikan oleh warga setempat untuk mengenang 32 pekerja asal Tiongkok yang dibawa secara paksa ke Jepang selama Perang Dunia II dan tewas akibat pengeboman atom oleh Amerika Serikat di kota tersebut 81 tahun yang lalu.

Monumen yang secara resmi bernama "Monumen Peringatan bagi Korban Tiongkok dalam Pengeboman Atom Nagasaki" ini diresmikan pada tahun 2008 di lokasi bekas Penjara Cabang Urakami dari Lembaga Pemasyarakatan Nagasaki, sekitar 100 meter dari titik pusat ledakan (hiposenter).

Selama masa perang, sekitar 40.000 orang Tiongkok dibawa secara paksa ke Jepang untuk melakukan pekerjaan berat di 135 lokasi kerja. Di Prefektur Nagasaki saja, lebih dari 1.000 orang dikirim ke empat tambang batu bara, sementara dua tambang lainnya di wilayah utara Nagasaki juga mempekerjakan tenaga kerja paksa asal Tiongkok.

Tiga puluh dua orang di antaranya kemudian ditangkap atas tuduhan "berupaya merusak tambang batu bara", dipenjarakan di Urakami, dan tewas seketika saat bom atom meledak.

"Sekitar tahun 1944, begitu banyak pria Jepang dikirim untuk bertugas di militer sehingga negara mengalami kekurangan tenaga kerja yang parah. Awalnya, mereka membawa orang Korea secara paksa untuk bekerja di Jepang, namun jumlah itu pun tidak mencukupi, sehingga pekerja asal Tiongkok juga diambil. Total sekitar 40.000 pekerja Tiongkok dikerahkan ke 135 lokasi. Di Prefektur Nagasaki, terdapat empat tambang batu bara tempat hampir 1.000 orang Tiongkok dipaksa bekerja. Selain itu, ada dua tambang batu bara lainnya di wilayah utara Nagasaki yang juga mempekerjakan tenaga kerja paksa asal Tiongkok," ujar Tatsuo Sekiguchi, Ketua Kelompok Masyarakat Sipil di Nagasaki.

Sekiguchi mengatakan bahwa kelompok-kelompok masyarakat sipil setempat mendesak Museum Bom Atom Nagasaki untuk secara resmi memasukkan bagian sejarah yang selama ini kurang terungkap tersebut ke dalam koleksi mereka.

"Salah satu anggota keluarga korban yang saya wawancarai menceritakan bahwa pada suatu pagi, tiga tentara Jepang mendobrak pintu dan menerobos masuk, lalu menyeret suaminya pergi secara paksa. Saat itu, ia baru saja melahirkan dua atau tiga hari sebelumnya dan hanya bisa menangis tanpa daya. Ia sama sekali tidak tahu ke mana suaminya dibawa. Baru belakangan ia mengetahui bahwa suaminya telah dikirim secara paksa ke sebuah tambang batu bara di wilayah utara Prefektur Nagasaki dan dipaksa bekerja di sana," ujar Sekiguchi.

"Kemudian, 32 pria Tiongkok dari lokasi tersebut ditangkap atas tuduhan—yang dibuat-buat—berupa upaya menyabotase tambang batu bara itu, lalu mereka dijebloskan ke Penjara Urakami, sebuah fasilitas yang terletak hanya sekitar 100 meter dari titik pusat ledakan (hiposenter). Mereka semua tewas dalam peristiwa pengeboman atom tersebut. Ini adalah peristiwa yang sarat makna simbolis. Hal ini mengungkap keterkaitan antara sejarah warga Tiongkok yang dipekerjakan secara paksa sebagai buruh dengan peristiwa pengeboman atom Nagasaki," kata Sekiguchi.