Beijing, Bharata Online - Perdagangan jasa Tiongkok mencatat pertumbuhan stabil dalam tujuh bulan pertama tahun 2026, didorong oleh ekspor jasa perjalanan dan transportasi yang menyumbang lebih dari separuh total ekspansi ekspor, menurut data resmi yang dirilis pada hari Kamis (3/9).
Menurut Kementerian Perdagangan Tiongkok, nilai perdagangan jasa negara tersebut mencapai hampir 4,45 triliun yuan (sekitar 12 ribu triliun rupiah) selama periode tersebut, naik 8,3 persen secara tahunan.
Selama periode itu, ekspor jasa meningkat 17,1 persen secara tahunan menjadi lebih dari 1,77 triliun yuan (sekitar 4.645 triliun rupiah. Impor jasa melampaui 2,67 triliun yuan (sekitar 7 ribu triliun rupiah), naik 3,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Defisit perdagangan jasa negara tersebut menyusut sebesar 176,33 miliar yuan (sekitar 463 triliun rupiah) secara tahunan menjadi 900,25 miliar yuan (sekitar 2.363 triliun rupiah).
Rincian data menunjukkan bahwa jasa perjalanan dan transportasi muncul sebagai dua pendorong utama pertumbuhan ekspor. Ekspor jasa perjalanan melonjak 27,7 persen, sementara ekspor jasa transportasi naik 27,1 persen. Kedua kategori tersebut masing-masing berkontribusi sebesar 22,1 persen dan 29,9 persen terhadap keseluruhan pertumbuhan ekspor jasa.
Jasa yang padat pengetahuan (knowledge-intensive services) juga tetap menjadi pilar dalam komposisi ekspor Tiongkok. Perdagangan jasa jenis ini, yang mencakup telekomunikasi, teknologi informasi, keuangan, kekayaan intelektual, dan jasa bisnis lainnya, meningkat 6,6 persen menjadi lebih dari 1,96 triliun yuan (sekitar 5.144 triliun rupiah), serta mencakup 44,1 persen dari total perdagangan jasa negara tersebut.
Tiongkok telah mengintensifkan upaya kebijakan untuk mendorong pengembangan sektor jasa. Garis besar Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030) dan Laporan Kerja Pemerintah tahun ini sama-sama memuat pengaturan khusus untuk sektor tersebut.
Pada bulan April 2026, Dewan Negara (State Council) menerbitkan pedoman untuk memajukan ekspansi dan peningkatan kualitas sektor tersebut. Berdasarkan pedoman itu, Tiongkok menargetkan kemajuan nyata dalam pengembangan sektor jasa berkualitas tinggi, dengan total skala sektor yang melampaui 100 triliun yuan (sekitar 262.456 triliun rupiah) pada tahun 2030, sembari terus mengembangkan merek-merek "jasa Tiongkok" yang lebih kompetitif dan berpengaruh.