BHARATA ONLINE - OpenAI, Raksasa AI asal Amerika Serikat, resmi memangkas harga model tingkat rendah (entry-level) dan menengahnya. Penyesuaian harga ini dilakukan di tengah tren maraknya perusahaan AS yang beralih menggunakan model kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) buatan Tiongkok.

Dikutip dari Reuters, OpenAI memangkas biaya model GPT-5.6 Luna hingga mencapai 80%, sedangkan model Terra dipangkas sebesar 20%. Sementara itu, harga untuk model Sol tidak mengalami perubahan.

Kebijakan ini memungkinkan pengguna dari kalangan bisnis membayar biaya yang jauh lebih murah untuk setiap satu juta token saat menggunakan platform AI tersebut. 

Reuters mencatat, biaya pengiriman teks (input) pada model Luna kini menjadi 20 sen per satu juta token dari yang sebelumnya US$ 1. Model Terra juga mengalami penurunan biaya input dari US$ 2,50 menjadi US$ 2.

Penurunan harga juga berlaku untuk biaya pemrosesan respons (output). Model Luna kini dibanderol US$ 1,2 dari sebelumnya US$ 6 per satu juta token, sedangkan Terra turun dari US$ 15 menjadi US$ 12.

Meski demikian, OpenAI memastikan pemotongan harga ini tidak akan merusak kinerja finansial perusahaan. Perusahaan mengklaim akan tetap mengantongi keuntungan karena model-model tersebut kini dapat menyelesaikan pekerjaan dengan biaya operasional yang jauh lebih rendah.

Penyesuaian harga ke tingkat yang lebih murah ini dimungkinkan berkat peningkatan efisiensi pada GPT-5.6, khususnya pada kemampuan model dalam mengoptimalkan kode serta kinerja selama proses pengembangan internal.

Kebijakan baru OpenAI ini sejalan dengan pandangan para pemimpin perusahaan teknologi yang menilai harga murah sebagai kunci utama adopsi AI secara luas.

Langkah ini juga merespons maraknya perusahaan AS yang mulai beralih menggunakan model AI buatan produsen Tiongkok, seperti Zai dan DeepSeek.

Rekan peneliti di John L. Thornton China Center dari lembaga think tank Brookings Institution, Kyle Chan, mengatakan bahwa model AI Tiongkok menjadi sangat menarik bagi perusahaan AS di tengah melonjaknya biaya penggunaan model buatan AS. Perusahaan-perusahaan kini jauh lebih memperhitungkan efisiensi anggaran.

"Sebelumnya, perusahaan-perusahaan AS hanya memprioritaskan adopsi AI. Namun kini, mereka jauh lebih sadar akan biaya yang harus dikeluarkan," jelasku sebagaimana dikutip dari CNBC International.

Walau demikian, lonjakan penggunaan model AI asal Tiongkok oleh perusahaan-perusahaan AS menuai respons negatif dari para pemangku kebijakan di Washington. Bahkan, dua komite di DPR AS dikabarkan tengah menyelidiki fenomena tersebut.

"Maraknya penggunaan model AI Tiongkok oleh perusahaan-perusahaan AS menimbulkan kekhawatiran serius," ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS.[Reuters]