Singapura, Bharata Online - Sekitar 400 pemimpin bisnis dan pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berkumpul di Singapura pada hari Kamis (3/9) untuk menghadiri pertemuan puncak yang bertujuan mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) PBB.

Pertemuan Puncak Bisnis Global ke-2 mengenai Investasi Infrastruktur Belt and Road (Jalur Sutra Baru), yang mengusung tema "Menghubungkan demi Dunia yang Lebih Baik", diselenggarakan bertepatan dengan peringatan 35 tahun hubungan dialog antara ASEAN dan Tiongkok.

Pertemuan ini diadakan oleh Belt and Road Action Platform dari UN Global Compact, sebuah wadah yang dibentuk pada tahun 2020 setelah para kepala negara dalam Forum Belt and Road mendesak perusahaan-perusahaan di negara-negara peserta untuk menerapkan Sepuluh Prinsip PBB terkait hak asasi manusia, ketenagakerjaan, lingkungan, dan anti-korupsi.

Enam tahun kemudian, fokus platform ini telah mengerucut pada satu pertanyaan utama: apa yang sebenarnya dapat dihadirkan oleh industri Tiongkok di luar negeri.

"Kami memandang tantangan iklim sebagai hal yang sangat mendesak, dan kami meyakini bahwa perusahaan-perusahaan Tiongkok—khususnya para pemimpin industrinya—dapat memainkan peran yang sangat aktif dalam memerangi perubahan iklim serta mengurangi emisi karbon maupun emisi gas rumah kaca lainnya," ujar Meng Liu, Kepala Kantor UN Global Compact Tiongkok.

Para delegasi menyepakati Deklarasi Singapura mengenai kerja sama Belt and Road yang berkualitas tinggi serta meluncurkan dua kelompok ahli baru: satu kelompok yang berfokus pada energi berkelanjutan dan satu lagi pada infrastruktur digital.

Sebanyak dua belas inisiatif keberlanjutan—yang mencakup energi hijau, keanekaragaman hayati, aspek ESG dalam rantai pasok, dan kecerdasan buatan (AI) yang bertanggung jawab—diluncurkan dalam pertemuan tersebut. Pihak penyelenggara menyatakan bahwa penekanan kini telah beralih dari sekadar janji menuju pelaksanaan nyata.

"Tidak ada lagi pihak yang sekadar membuat pengumuman besar-besaran, karena mereka kini sedang menjalankan langkah-langkah operasional. Keberlanjutan mulai diwujudkan dalam tindakan nyata. Hal ini mulai terintegrasi, dan komitmen-komitmen tersebut benar-benar dilaksanakan. Jadi, menurut saya upaya ini semakin matang, dan sama sekali tidak mengalami kemunduran," kata David Fogarty, CEO sekaligus Direktur Eksekutif UN Global Compact Network Singapura.

Di antara delegasi besar dari Tiongkok tersebut, terdapat produsen turbin angin Mingyang Smart Energy. Pasar prioritas perusahaan ini meliputi Eropa, Asia Tenggara, dan negara-negara peserta inisiatif Belt and Road. Perusahaan menyatakan bahwa teknologi dan skala operasional mereka telah teruji, namun tantangan yang dihadapi adalah masalah kepatuhan serta upaya membangun kepercayaan di setiap pasar baru yang mereka masuki.

"Dari segi skalabilitas dan kapabilitas, menurut saya Tiongkok jelas merupakan pemimpinnya. Namun, saat memasuki pasar yang berbeda, kita tetap harus mematuhi ketentuan kepatuhan setempat. Perusahaan-perusahaan Tiongkok berupaya menjadi mitra, bukan pihak yang merusak pasar," ujar Hu Yang, Direktur Merek Mingyang Smart Energy Group.

Menurut Hu, langkah untuk merambah pasar global kini bukan lagi sekadar soal ekspansi ke luar negeri. Hal ini lebih tentang upaya untuk masuk dan berintegrasi: mempelajari aturan setempat serta memastikan masyarakat setempat melihat manfaat dari teknologi yang hadir di wilayah mereka.