Tiongkok, Bharata Online - Menurut seorang pakar militer Tiongkok, kapal induk Fujian milik Tiongkok telah merampungkan pelatihan uji coba lintas wilayah laut selama setahun terakhir, yang menandai transisi dari kemampuan tempur awal menuju kemampuan tempur penuh.

Pada 17 Juni 2022, kapal induk Fujian diluncurkan dan diberi nomor lambung 18, menjadikan Tiongkok salah satu dari sedikit negara di dunia yang mampu membangun kapal induk berukuran besar. Pada 5 November 2025, Fujian menjalani upacara peresmian dan penyerahan bendera di sebuah pangkalan angkatan laut di Sanya. Hanya 13 hari setelah peresmian tersebut, kelompok tempur kapal induk Fujian melaksanakan latihan dengan kekuatan penuh di laut. Tahun 2026 menjadi tahun krusial bagi transisi kapal induk ini dari kemampuan operasional awal menuju kemampuan operasional penuh.

"Mencapai 'kemampuan tempur awal' berarti kapal induk Fujian dapat berlayar dengan normal, pesawat berbasis kapal induk dapat lepas landas dan mendarat di geladak, serta kapal tersebut mampu melaksanakan latihan formasi dasar bersama kapal-kapal pengawal. Sementara itu, 'kemampuan tempur penuh' berarti peningkatan dari sekadar 'mampu berlayar, melakukan lepas landas dan pendaratan, serta terlibat dalam perang terbatas' menjadi 'mampu melancarkan perang berintensitas tinggi, dalam segala kondisi cuaca, secara sistematis, dan berkelanjutan'," ujar Zhang Junshe, Pakar Militer.

"Dalam kurun waktu satu tahun sejak peresmiannya, kapal induk Fujian telah berlayar ke selatan melewati Selat Taiwan menuju Laut Tiongkok Selatan, kemudian berlanjut ke utara menuju Laut Tiongkok Timur dan Laut Kuning, dengan menyelesaikan pelatihan uji coba lintas wilayah laut. Hal ini menunjukkan bahwa kapal induk tersebut telah memperoleh kemampuan untuk beroperasi di perairan jauh yang mencakup berbagai wilayah laut, dengan koordinasi kapal pengawal yang telah mencapai tingkat tertentu serta kemampuan tempur yang sudah terbentuk pada tahap awal," kata Zhang.

"Pada tahun yang sama, Fujian juga telah menuntaskan kegiatan lepas landas dan pendaratan menggunakan sistem katapel untuk berbagai jenis pesawat berbasis kapal induk, sehingga mencapai kemampuan operasional geladak penuh. Kapal ini kemudian melaksanakan latihan formasi dengan kekuatan penuh serta serangkaian manuver lintas wilayah laut. Koordinasi di antara kapal-kapal pengawal dalam formasi telah mencapai taraf tertentu, dan kapal induk tersebut kini memiliki kemampuan awal untuk melaksanakan operasi tempur," imbuhnya.

Sebagai kapal induk pertama di dunia yang menggunakan teknologi katapel elektromagnetik bertenaga konvensional, sistem katapel elektromagnetik pada kapal induk Fujian, memungkinkan kapal induk tersebut untuk mengatur lepas landas berbagai jenis pesawat secara fleksibel. Itu berbeda dengan metode lepas landas menggunakan landasan pacu melengkung (ski-jump) seperti pada kapal induk Liaoning dan Shandong. Jenis pesawat ini mencakup jet tempur siluman J-35, jet tempur berat J-15T, dan pesawat peringatan dini bersayap tetap KJ-600.

"Fujian dilengkapi dengan katapel elektromagnetik dan perangkat penahan (arresting device) elektromagnetik. Ini merupakan keunggulan teknis paling inti dan paling disorot dari kapal induk tersebut. Dibandingkan dengan metode lepas landas tradisional, katapel elektromagnetik membawa banyak perubahan terhadap tingkat sortie (jumlah penerbangan) pesawat dan operasi formasi. Di masa depan, pesawat nirawak (drone) berbasis kapal induk dapat dikerahkan, sehingga formasi kapal induk mampu melaksanakan operasi terkoordinasi antara pesawat berawak dan nirawak," ungkap Zhang.

Peresmian operasional Fujian pada November 2025 menandai dimulainya era tiga kapal induk bagi Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (People's Liberation Army/PLA) Tiongkok. Selama setahun terakhir, Angkatan Laut PLA telah mempercepat transformasinya, dengan sistem tiga kapal induk sebagai ciri utamanya.

"Makna sesungguhnya dari era tiga kapal induk bukanlah tentang kehadiran ketiganya secara bersamaan, melainkan tentang rotasi. Rotasi berarti ketiga kapal induk tersebut bergantian secara teratur dalam tiga status: 'bertugas, berlatih, dan pemeliharaan'. Ketiga kapal induk ini secara signifikan mendorong transformasi strategis Angkatan Laut PLA dari 'pertahanan laut dekat' menuju 'pertahanan laut jauh,' dengan operasi di laut jauh kini memasuki tahap baru yang bersifat rutin dan sistematis. Angkatan Laut akan terus melaksanakan misi di laut jauh, seperti pengawalan, evakuasi warga negara Tiongkok di luar negeri, serta penyelamatan kemanusiaan, demi menjaga kepentingan nasional secara efektif sekaligus memenuhi tanggung jawab dan kewajiban sebagai negara besar yang bertanggung jawab," jelas Zhang.