Tianjin, Bharata Online - Upaya Tiongkok untuk memperluas akses kredit bagi perusahaan teknologi tahap awal telah membuahkan hasil bagi sebuah perusahaan pengembang sistem pengereman otomotif asal Tianjin, yang berhasil memperoleh pinjaman tanpa agunan senilai 2 juta yuan (sekitar 5,3 miliar rupiah) hanya dalam hitungan hari. Hal ini menyoroti pergeseran fokus pemberi pinjaman dari sekadar angka pendapatan ke arah kepemilikan paten dan pesanan pelanggan.
Tianjin Edge Rock Precision Technology berfokus pada penelitian, produksi, dan penjualan sistem pengereman untuk kendaraan energi baru. Pinjaman tersebut menjembatani kesenjangan pendanaan yang sempat menghambat transisi perusahaan dari tahap pengembangan ke produksi massal, sehingga memberikan keyakinan kepada Chairman Zhao Xun untuk melanjutkan langkah mereka.
"Begitu pinjaman cair, perubahan terbesar yang dirasakan adalah ketenangan pikiran. Dengan adanya pendanaan ini, kami dapat membiayai pembelian bahan baku serta kegiatan penelitian dan pengujian," ujar Zhao.
Kasus ini terjadi di tengah langkah bank sentral Tiongkok yang mengarahkan lebih banyak kredit kepada perusahaan-perusahaan teknologi. Data yang dirilis oleh People's Bank of China (PBOC) pada bulan Juli 2026 menunjukkan bahwa total pinjaman yang beredar bagi usaha kecil dan menengah (UKM) berbasis teknologi mencapai 4,15 triliun yuan (sekitar 11 ribu triliun rupiah) pada akhir Juni tahun ini.
Angka tersebut mencakup pinjaman dalam mata uang yuan maupun mata uang asing. Saldo pinjaman ini meningkat 20,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sebuah laju pertumbuhan yang 15 poin persentase lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit secara keseluruhan.
Sekitar 305.600 UKM berbasis teknologi telah menerima dukungan kredit hingga akhir Juni 2026, sehingga meningkatkan proporsi perusahaan sejenis yang memiliki akses pinjaman menjadi 50,8 persen secara nasional.
Sebelumnya pada tahun ini, PBOC menaikkan kuota fasilitas pinjaman kembali (re-lending) untuk inovasi teknologi dan transformasi teknis menjadi 1,2 triliun yuan (sekitar 3.158 triliun rupiah), serta memangkas suku bunga pinjaman kembali tersebut menjadi 1,25 persen demi semakin mendukung UKM.