Guangzhou, Bharata Online - Sebuah platform AI buatan Tiongkok membantu petani kecil di berbagai ekonomi APEC menghadapi cuaca ekstrem dengan menyediakan perangkat cerdas untuk meningkatkan produktivitas, ketahanan, dan keberlanjutan.

Platform pertanian cerdas Feiniao, yang dikembangkan oleh tim di bawah pimpinan Profesor Shi Qian dari Fakultas Geografi dan Perencanaan Universitas Sun Yat-sen, merupakan sistem berbasis AI yang mendigitalkan kondisi lahan pertanian, memantau pertumbuhan tanaman serta risiko hama setiap hari, dan menghasilkan panduan penanaman presisi, sehingga memungkinkan pengelolaan pertanian yang efektif mulai dari tahap penanaman hingga panen.

Dalam wawancara dengan CGTN pada hari Selasa (25/8), Profesor Shi membahas peran AI dalam meningkatkan ketahanan pangan dan menyampaikan pandangannya mengenai kerja sama internasional di bidang pertanian cerdas, khususnya di antara ekonomi anggota APEC.

Menurutnya, sistem Feiniao menjawab tantangan mendesak: bagaimana membantu jutaan petani kecil, yang sering kali kekurangan sumber daya ekonomi maupun pengetahuan teknis—untuk beradaptasi dengan perubahan iklim yang berlangsung cepat.

"Meningkatnya frekuensi kejadian cuaca ekstrem memperbesar risiko tekanan pada tanaman, sementara sebagian besar produsen pertanian adalah petani kecil yang sering kali kurang memiliki pengetahuan ekonomi dan kemampuan praktis dalam bercocok tanam. Kita dapat melihat nilainya dari tiga dimensi: peringatan dini, pengambilan keputusan yang presisi, dan jangkauan yang lebih luas. AI membantu memperkecil kesenjangan produktivitas antara petani kecil dan petani komersial berskala besar," ujar Shi.

Teknologi ini telah beralih dari tahap uji coba percontohan ke penerapan penuh di Tiongkok, sementara uji coba lapangan serupa sedang berlangsung di beberapa ekonomi APEC lainnya. Dengan menekankan bahwa pendekatan yang seragam untuk semua situasi tidaklah tepat, Shi menyatakan bahwa timnya akan menyesuaikan model AI mereka untuk setiap lokasi berdasarkan data yang dikumpulkan secara lokal.

"Kami telah melaksanakan uji coba lokal yang adaptif bersama mitra pertanian di Asia Tenggara. Sebagai contoh, kami melakukan lokalisasi model AI berbasis penginderaan jauh di Indonesia dan Malaysia. Kami menyesuaikan algoritma kami dengan kumpulan data tanah, iklim, dan tanaman setempat. Kami juga secara aktif berbagi pengalaman praktis Tiongkok mengenai layanan peringatan dini berbasis AI dan solusi inklusif bagi petani kecil. Ke depannya, kita dapat membangun layanan pertanian digital yang inklusif sehingga petani berskala kecil di seluruh ekonomi APEC benar-benar dapat memperoleh manfaat dari perangkat AI ini," kata pakar tersebut.