Beijing, Bharata Online - Organisasi Kerja Sama Shanghai atau Shanghai Cooperation Organization (SCO) telah menjadi salah satu aktor multilateral utama di kawasan Eurasia selama seperempat abad terakhir, berkat prinsip utamanya yaitu "Semangat Shanghai", demikian disampaikan oleh seorang pejabat senior SCO.

Ahmad Saidmurodzoda, Wakil Sekretaris Jenderal SCO, mengatakan dalam wawancara eksklusif dengan China Media Group (CMG) bahwa organisasi tersebut tidak pernah ditujukan untuk melawan pihak mana pun, dan bahwa semua keputusannya dicapai melalui konsensus di antara negara-negara anggota.

"Saat ini, Organisasi Kerja Sama Shanghai telah menjadi salah satu aktor multilateral utama di kawasan Eurasia. SCO telah menjalankan tanggung jawabnya di kawasan ini dengan sangat baik selama seperempat abad. Saya dapat dengan tegas mengatakan bahwa, secara pribadi, hal ini terwujud berkat prinsip utama organisasi kami, yaitu Semangat Shanghai. Sejak awal, SCO tidak ditujukan untuk melawan siapa pun. Jadi, di dalam organisasi ini, negara-negara anggota berupaya menghindari pendekatan ideologis dalam menyelesaikan berbagai masalah. Semua keputusan merupakan hasil penyatuan atau kristalisasi dari pandangan kesepuluh negara anggota," ujarnya.

"Pengalaman SCO menunjukkan bahwa negara-negara—kesepuluh negara dengan sistem politik, pendekatan ideologis, dan latar belakang keagamaan yang berbeda—dapat menjalankan fungsi SCO, yang bisa disebut sebagai fungsi organisasi internasional jenis baru yang berlandaskan prinsip utamanya, yaitu Semangat Shanghai," tambahnya.

Berawal dari upaya membangun rasa saling percaya lintas batas, SCO telah berkembang tidak hanya dari segi keanggotaan tetapi juga dalam cakupan kerja samanya di berbagai bidang. Wakil Sekretaris Jenderal tersebut menjelaskan konsensus regional dan internasional yang mendorong transformasi ini.

"Awalnya, SCO didirikan dengan fokus khusus pada masalah keamanan, terutama terkait perbatasan dan pembangunan rasa saling percaya. Saya bisa katakan bahwa hal itu merupakan cerminan alami dari realitas pada masa itu. Organisasi ini didirikan pada tahun 2001 di Shanghai, dan kemudian menjadi jelas bahwa keamanan serta dimensi tantangan dan ancaman lainnya perlu dipandang dari perspektif yang lebih luas," katanya.

"Saya akan menekankan pada sektor budaya, lingkungan, dan transportasi. Sebagai contoh di sektor transportasi, kami telah mencapai hasil tertentu selama seperempat abad terakhir. Pencapaian yang paling efektif dan sukses adalah perjanjian antar-pemerintah mengenai penciptaan kondisi yang kondusif bagi transportasi darat, yang ditandatangani pada tahun 2014—lebih dari 10 tahun yang lalu. Kami berharap perjanjian ini akan segera dilaksanakan sepenuhnya, dan negara-negara anggota baru seperti India, Pakistan, Iran, dan Belarus mengusulkan agar jalur transportasi mereka sendiri turut dimasukkan ke dalam perjanjian antar-pemerintah yang sangat penting ini," ujar Saidmurodzoda.

Saat ditanya mengenai harapannya terhadap KTT SCO yang akan dibuka pada hari Senin (31/8) di Bishkek, Saidmurodzoda menyatakan keyakinannya bahwa pertemuan tersebut akan "memainkan peran krusial" dalam memperkuat dan mengembangkan organisasi ini.

"Tahun ini, negara-negara anggota SCO—atas usulan Kirgistan—telah memutuskan untuk mengangkat tema reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam pertemuan SCO Plus. Kami di sektor ini sangat yakin bahwa, seperti tahun-tahun sebelumnya, KTT di Bishkek ini akan menjadi langkah maju yang sangat penting bagi perkembangan organisasi kami," ujarnya.

Tahun ini menandai peringatan 25 tahun berdirinya SCO. Dengan mengusung tema "25 Tahun SCO: Bersama Menuju Perdamaian, Pembangunan, dan Kemakmuran yang Berkelanjutan", KTT SCO tahun ini diharapkan dapat mempertemukan para pemimpin dari lebih dari 20 negara di ibu kota Kirgistan tersebut.