New York, Bharata Online - Seorang utusan Tiongkok mendesak semua pihak yang bertikai di Yaman untuk menghentikan konflik bersenjata dan segera kembali ke jalur negosiasi diplomatik, mengingat situasi saat ini berada di ambang eskalasi penuh.

Tiongkok menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya konflik bersenjata di Yaman dan Laut Merah, ujar Sun Lei, Wakil Tetap Tiongkok untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB pada hari Selasa (15/9) yang membahas situasi di sekitar jalur pelayaran vital Selat Bab al-Mandab.

Seraya menegaskan kembali dukungan Tiongkok terhadap kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah Yaman dan Arab Saudi, Sun menyatakan bahwa Tiongkok menentang serangan terhadap infrastruktur sipil, termasuk fasilitas energi.

Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab merupakan jalur internasional penting bagi pengangkutan barang dan energi. Menjaga ketertiban pelayaran normal di perairan tersebut adalah tanggung jawab internasional bersama, kata utusan Tiongkok itu. Ia menekankan bahwa Tiongkok menentang segala bentuk serangan terhadap kapal sipil, serta menegaskan bahwa hak navigasi kapal dagang dari semua negara di Laut Merah, sesuai dengan hukum internasional—harus dihormati oleh semua pihak.

"Situasi di Yaman berada di ambang eskalasi penuh. Sebesar apa pun perbedaan yang ada, pihak-pihak terkait harus mencari jalan keluar melalui negosiasi, bukan dengan baku tembak. Prioritas utama saat ini adalah agar semua pihak tetap tenang, menahan diri, dan segera menghentikan konflik," ujar Sun.

Tiongkok mendukung negara-negara Teluk untuk memanfaatkan keunggulan mereka dan memainkan peran lebih besar dalam menengahi konflik tersebut, katanya.

Ia menyatakan bahwa Tiongkok siap bekerja sama dengan semua pihak untuk membantu menjaga keamanan jalur pelayaran internasional, mengakhiri konflik di Timur Tengah, serta memulihkan keamanan dan stabilitas di kawasan tersebut.

Kelompok Houthi Yaman pada hari Selasa (15/9) menyatakan bahwa pesawat tempur Arab Saudi telah melancarkan 52 serangan udara di lima provinsi selama 24 jam terakhir, di tengah terus meningkatnya permusuhan lintas batas antara kedua belah pihak.

Juru Bicara Militer Houthi, Yahya Sarea, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa serangan-serangan tersebut "tidak akan dibiarkan tanpa balasan," yang mengisyaratkan kemungkinan adanya tindakan balasan lebih lanjut dari Houthi terhadap Arab Saudi.

Eskalasi lintas batas ini terjadi di tengah serangan ofensif Houthi yang diluncurkan pada 3 September 2026, yang telah mengubah posisi garis depan pertempuran di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman. Kelompok tersebut merebut kota pelabuhan strategis Mocha pada 10 September 2026 sebelum bergerak maju ke wilayah Bab al-Mandab dan menguasai Pulau Mayun yang terletak di tengah selat tersebut pada 11 September tahun ini.

Pertempuran yang kembali berkecamuk di Yaman telah menyebabkan setidaknya 125.000 warga sipil mengungsi sejak awal September, demikian disampaikan oleh Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan atau Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) pada hari Senin (14/9).

Kantor Hak Asasi Manusia PBB telah memverifikasi 40 korban sipil, terdiri dari delapan orang tewas dan 32 orang terluka, selama dua minggu pertama bulan ini. Perempuan dan anak-anak mencakup separuh dari jumlah korban tewas dan lebih dari separuh jumlah korban luka.

Konflik Yaman meletus pada akhir tahun 2014 ketika kelompok Houthi merebut Sanaa dan sebagian besar wilayah utara Yaman, yang memicu intervensi koalisi pimpinan Arab Saudi pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah yang diakui secara internasional.