New York, Bharata Online - Seorang utusan Tiongkok menegaskan bahwa Tiongkok menentang upaya untuk memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran di Dewan Keamanan. Sikap ini didasarkan pada komitmen untuk menjunjung tinggi keadilan, menjaga perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah, serta mempertimbangkan kepentingan menyeluruh demi tercapainya solusi politik dan diplomatik atas masalah nuklir Iran.

Dewan Keamanan PBB gagal mengesahkan rancangan resolusi pada hari Kamis (17/9), yang bertujuan memperpanjang mandat Panel Ahli yang mendukung Komite Sanksi Iran 1737 untuk jangka waktu satu tahun.

Resolusi yang disusun oleh Amerika Serikat ini memperoleh 11 suara mendukung, dua menolak, dan dua abstain. Rusia dan Tiongkok, yang keduanya merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB, memberikan suara menolak rancangan resolusi tersebut, sehingga menghalangi langkah itu.

Fu Cong, Wakil Tetap Tiongkok untuk PBB, menyatakan bahwa penarikan sepihak Amerika Serikat dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), tekanan maksimum terhadap Iran, dua kali penggunaan kekuatan selama negosiasi dengan Iran, serta serangan militer terhadap fasilitas nuklir Iran yang bersifat damai dan berada di bawah pengawasan IAEA, merupakan akar penyebab krisis saat ini.

"Upaya untuk memulihkan sanksi terhadap Iran di Dewan Keamanan dan mengajukan rancangan resolusi yang jelas-jelas kontroversial hanya akan merusak persatuan dan kredibilitas Dewan Keamanan serta menciptakan hambatan bagi upaya diplomatik. Tiongkok dengan tegas menentang hal ini," ujar Fu.

Fu mengatakan bahwa konflik yang berulang di Timur Tengah telah menimbulkan kerugian dan dampak buruk yang parah bagi rakyat di berbagai negara, termasuk Iran, dengan dampak lanjutan yang terus meluas dan merusak kepentingan bersama masyarakat internasional.

Ia juga menambahkan bahwa tugas mendesak bagi semua pihak dalam komunitas internasional, termasuk Dewan Keamanan, adalah mendesak pihak-pihak terkait untuk tetap tenang dan menahan diri, menghentikan penggunaan atau ancaman kekerasan, meredakan ketegangan, serta secara aktif menciptakan kondisi yang diperlukan agar para pihak dapat kembali melaksanakan gencatan senjata, melanjutkan negosiasi, dan mencapai kesepakatan damai, demi menjaga perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah maupun dunia.

"Cara-cara militer dan tekanan sanksi sama sekali tidak menyelesaikan masalah dan justru memperparah ketegangan. Eskalasi tidak menguntungkan siapa pun. Dialog dan negosiasi yang setara merupakan satu-satunya jalan yang tepat ke depan," kata Fu.

Ia menegaskan bahwa setiap tindakan Dewan Keamanan harus membantu pihak-pihak terkait untuk melakukan negosiasi dengan kedudukan yang setara, menemukan titik temu yang mengakomodasi kepentingan sah masing-masing pihak, serta mencapai solusi yang memenuhi harapan masyarakat internasional.

Menurutnya, sebagai pihak dalam JCPOA dan anggota tetap Dewan Keamanan, Tiongkok senantiasa menjunjung tinggi keadilan, mengedepankan perdamaian dan dialog, tidak mengejar kepentingan geopolitik pribadi, serta tidak terlibat dalam konfrontasi politik. Tiongkok telah memainkan peran konstruktif dalam meredakan ketegangan di Timur Tengah dan mendorong penyelesaian politik atas isu nuklir Iran.

Utusan tersebut menyatakan bahwa Tiongkok akan terus bekerja sama dengan semua pihak untuk melakukan upaya tak kenal lelah dalam mendorong solusi politik bagi isu nuklir Iran, menjaga rezim non-proliferasi nuklir internasional, serta memajukan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.